Archive

Posts Tagged ‘sistem’

Manage Things Happen

19/11/2016 Leave a comment

Bekerja dengan tim yang dibangun sendiri sangat berbeda dibandingkan bekerja di kantor atau organisasi yang sudah ada sistemnya. Segala yang dikerjakan, bisa jadi benar, bisa jadi salah. Tidak ada standar yang berlaku, selain kerjaan beres. Dulu ketika masih freelance dan keliling-keliling sendirian, penulis selalu kebingungan. Memaksakan kerjaan beres satu-dua minggu, setelah itu menghilang entah karena sakit atau kelelahan mental.

Kemudian, berlanjutlah pola tersebut sampai setahun terakhir. Dari setahun terakhir hingga belakangan ini, penulis berkutat dengan masalah sistem. Ada perbedaan yang sangat mendasar dari membangun tim, dan bekerja sendiri. Ketika bekerja sendiri, bisa seenak jidat asal kerjaan beres. Sedangkan ketika membangun tim, ketika pola tersebut dibawa maka hanya akan membawa kerusakan dan bubarnya tim. Banyak hal yang kalau dikerjakan sendiri bisa selesai, tetapi ketika dikerjakan bersama tim malah gak beres. Ketika bersama tim, perlu bekerja dengan sistem. Dan dengan semakin besarnya tim, maka sistem tersebut pun harus semakin disiplin dan mengakomodir semuanya. Tidak bisa sembarangan menetapkan jam kerja, tapi ada yang tidak bisa pulang malam. Atau tidak bisa juga asal kerjaan beres, tapi pada capek dan justru ketika ada milestone-milestone penting pada kolaps.

Belum lagi, dalam bekerja bersama tim tidak bisa langsung sembarang tuntut kerjaan harus beres seperti ketika kerja sendirian. Di sini, tantangan sebenarnya dalam “make things happen” benar-benar berada di level yang berbeda. Ketika bekerja sendiri harus “make things happen”, saat bekerja tim lebih tepat disebut “manage things happen”. Dan lucunya, banyak para pelaku startup sekarang asal kejar target, asal beres, tapi malah tidak berujung dengan “manage things happen”.

Membangun kesolidan tim tersebut membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak pernah putusnya “tinkering” terhadap sistem kerja. Penulis juga dinasehati oleh mentor, bila tidak sanggup melalui tahap ini maka startup yang dibangun jumlah anggota dan kekuatan organisasi timnya hanya akan segitu-segitu aja. Bisa jadi scale-up atau dapat investor, tapi tim terancam bubar cepat atau lambat. Ya, bukan berarti dengan pusing memikirkan tim, maka tidak fokus bangun produk atau pun service dari tim sih. Keduanya harus seimbang, baik proses kerja tim, dan capaian target kerja.

Skalabilitas

02/11/2015 Leave a comment

skalabilitas

Membuat sebuah sistem informasi itu hanya butuh waktu dua jam. Kalau Jokowi bilang waktu dua minggu itu cukup, Jokowi artinya masih salah. Sistem informasi dapat dibuat cukup hanya dalam dua jam.

Namun, untuk membuat sebuah sistem informasi yang mampu menjawab kebutuhan proses bisnis yang mengalir dan mampu menangani transaksi dalam jumlah yang masif, akan sangat lama. Jangankan dua minggu, satu tahun penuh saja belum tentu cukup. Banyak tantangan yang baru akan muncul setelah sistem informasi dijalankan untuk penggunaan nyata.

Salah satu tantangannya yang paling sering terasa dan membuat sebuah sistem informasi menjadi mahal adalah scaling. Banyak teori bagaimana melakukan scaling yang baik. Banyak metode yang dapat digunakan untuk scaling yang tentunya sangat variatif tergantung dari siapa yang membutuhkan sistemnya.

Berdasarkan pengalaman praktis dan piknik ke beberapa senior dan tetua, saya mendapatkan pencerahan bahwa sekompleks apa pun scaling intinya selalu terbagi menjadi empat hal. Hal tersebut antara lain: Processing, Memory, Disk, Network.

Processing adalah hal yang berkaitan dengan komputasi. Biasanya ketika sistem harus menangani perhitungan yang kompleks, tantangan scaling-nya adalah pada aspek ini.

Memory adalah hal yang berkaitan dengan penyimpanan sementara. Kurang lebih simpelnya adalah tempat menyimpan “tugas-tugas” yang harus dikerjakan oleh processor. Biasanya, scaling pada aspek ini harus dilakukan ketika sistem menyimpan load yang sangat banyak untuk dikerjakan.

Disk adalah tempat penyimpanan data yang lebih permanen dibandingkan memory. Pada disk ini data-data yang telah diproses atau ingin diambil lagi suatu saat disimpan. Biasanya, scaling yang mencakup aspek disk perlu dilakukan ketika total data yang harus disimpan sudah sangat besar.

Network adalah aspek yang mencakup hal-hal untuk komunikasi antara suatu perangkat komputer dengan komputer lain. Aspek scaling pada bagian ini perlu diperhatikan ketika sistem memerlukan banyak transaksi antar perangkat.

Dalam penerapan nyata, tentunya scaling tidak semudah deskripsi-deskripsi barusan. Ada hal-hal terkait konsep yang harus diperhatikan, dan benturan terhadap kekuatan perangkat pada eranya. Yang pasti berdasarkan ilmu yang didapatkan pengalaman senior dan tetua, scaling akan terus menerus bertarung dengan empat aspek tersebut. Ketika pertama kali komputer ada, aspek yang paling jadi tantangan adalah processing. Saat era 2000an, tantangan terbesar adalah untuk menghubungkan seluruh dunia di mana tantangannya terjadi pada aspek network. Dan mungkin, di era 2010an saat ini karena jumlah transaksi yang sangat besar setiap harinya, tantangan terbesar adalah pada pengelolaan data (berkaitan dengan disk).

Mungkin ada pendapat tambahan atau sanggahan buat saya yang nubi ini?

Melihat RUU Pilkada dari Sudut Pandang Sistem

12/09/2014 Leave a comment

pilkada

Demokrasi adalah sistem yang mengharuskan rakyatnya cerdas. Bila terdapat masalah pada keberjalanan pemerintahan, sudah jelas siapa yang paling bersalah: rakyatnya.

Belakangan ini ramai di media dan publik terkait rencana untuk mengubah undang-undang terkait pilkada. Perubahan ini menyangkut mekanisme pemilihan kepala daerah (gubernur dan walikota) yang direncanakan untuk dipilih oleh DPRD, bukan langsung oleh rakyat. Dari angin yang berhembus, sepertinya masyarakat lebih menyukai bila kepala daerah dipilih langsung. Penyebab utamanya tidak lain karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap para anggota dewan yang terhormat.

Menyikapi hal ini, sungguh media sangat bias dan sarat kepentingan. Tanpa dikaji dari sudut pandang sistem pemilu, penilaian akan menjadi sangat subjektif. Entah itu mendukung sistem langsung atau pun mendukung sistem tidak langsung. Sejauh yang pernah saya pelajari, terdapat tiga aspek utama yang membagi kategori sistem pemilu. Tiga aspek ini antara lain membagi berdasarkan mekanisme akumulasi suara, cara pemilihan dan pencalonan.

Berdasarkan cara akumulasi Suara (Distrik vs Proporsional)

Berdasarkan cara akumulasi suara, terdapat dua cara yakni dengan cara distrik dan proporsional.

Mekanisme sistem proporsional membagi suara yang terkumpul per kepala pemilih. Sebagai contoh bila di dalam satu daerah terdapat 1.000 pemilih dengan pemilih calon A sebanyak 600 dan calon B 400, maka pada perhitungan suara akhir calon A akan mendapatkan tambahan sebanyak 600 suara dan calon B mendapatkan tambahan sebanyak 400 suara. Contoh sistem ini adalah sistem pemilu yang digunakan di Indonesia pada tahun ini (2014).

Kemudian, mekanisme sistem distrik membagi suara yang terkumpul per daerah pemilihan. Sebagai contoh bila di dalam satu daerah terdapat 1.000 pemilih dengan calon A sebanyak 600 dan calon B 400, maka pada perhitungan suara akhir calon A akan mendapatkan tambahan sebanyak 1.000 suara dan calon B mendapatkan tambahan sebanyak 0 suara. Contoh negara yang menggunakan sistem pemilu seperti ini adalah Amerika Serikat pada pemilu presiden.

Berdasarkan yang saya amati, sistem proporsional dilakukan oleh negara kesatuan yang pemerintahannya cenderung “sentral”. Sedangkan sistem distrik dilakukan oleh negara yang sistem pemerintahannya cenderung “desentral”.

Berdasarkan cara pemilihan (Langsung vas Tidak Langsung)

Berdasarkan cara memilihnya, terdapat dua cara yakni dengan cara langsung dan tidak langsung.

Mekanisme pemilihan langsung dilakukan oleh si pemilih tanpa perantara. Definisinya sudah jelas, si pemilih langsung memilih siapa calon yang dia pilih. Contoh yang menggunakan sistem langsung ini adalah pemilu di Indonesia tahun ini (2014).

Mekanisme pemilihan tidak langsung dilakukan oleh si pemilih melalui perantara. Perantara ini biasanya dilakukan melalui wakil rakyat yang duduk di badan legislatif satu negara. Contoh yang menggunakan sistem tidak langsung ini adalah pemilu di Indonesia sebelum tahun 1998.

Berdasarkan cara pencalonan (Tertutup vs Terbuka)

Berdasarkan cara pencalonannya, terdapat dua cara yakni tertutup dan terbuka.

Mekanisme pemilihan calon dengan cara tertutup dilakukan oleh pemilih tanpa mengetahui calon yang akan terpilih. Sistem ini digunakan di Indonesia hingga beberapa tahun pasca reformasi (pemilu 1999). Dalam sistem ini, pemilih hanya memilih partai yang dipercaya. Nantinya, partai akan memberikan wakil untuk badan legislatif atau pun eksekutif.

Mekanisme pemilihan calon dengan era terbuka dilakukan oleh pemilih dengan mengetahui calon yang akan dipilih. Sistem ini digunakan di Indonesia saat ini. Calon yang akan dipilih diketahui langsung oleh pemilih baik itu yang akan menduduki badan legislatif (DPRD, DPR) mau pun badan eksekutif (Presiden, Kepala Daerah).

Kombinasi ketiga aspek

Ketiga aspek di atas memungkinkan adanya delapan kombinasi sistem pemilu untuk negara demokrasi. Kombinasi yang mana pun adalah baik bila disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing. Bisa jadi satu sistem yang baik di negara lain dapat menimbulkan perpecahan bila digunakan di negara lain. Sebagai contoh bila memaksakan sistem distrik di Indonesia yang kaya akan budaya dan tersebar dalam ribuan pulau akan berpotensi menimbulkan perpecahan antar daerah dan konflik horizontal. Begitu pula bila memaksakan sistem proporsional di Amerika Serikat, sangat mungkin kontrol pemerintah pusat tidak sekuat kontrol yang dilakukan oleh setiap negara bagian.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan mekanisme akumulasi suara, di Indonesia sudah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa sistem proporsional lebih cocok. Setiap warga negara ingin dinilai sama dan menekan potensi adanya friksi antar daerah dan suku.

Berdasarkan mekanisme cara memilihnya, tidak bisa dipungkiri bahwa memilih secara tidak langsung berarti wakil yang akan memilih calon haruslah mendapat kepercayaan yang tinggi dari rakyat. Sedangkan di Indonesia saat ini, kepercayaan terhadap wakil rakyat berada pada posisi yang sangat rendah. Sudah rahasia umum bahwa badan legislatif di Indonesia adalah hulu dari hampir seluruh kasus korupsi yang ada. Meskipun secara teknis pemilihan tidak langsung dapat memberikan efisiensi pada keberjalanan pemerintahan, ada aspek fundamental yang akan hilang nantinya. Dengan partisipasi rakyat yang rendah dalam pemerintahan (mau enaknya saja tanpa usaha), pemilihan tidak langsung dapat memicu konflik vertikal antara pemerintahan dan rakyat itu sendiri. Belum lagi kinerja anggota dewan sangat buruk karena mesin partai yang tidak dapat menjangkau suara setiap kepala yang ada di masyarakat.

Kemudian berdasarkan cara pencalonannya, dapat dibandingkan dari kondisi wakil rakyat saat menggunakan sistem tertutup dan ketika menggunakan sistem terbuka. Dulu, ketika masyarakat memilih partai artinya setiap orang sudah memiliki nilai yang diyakini dan akan didukung. Sedangkan dengan kondisi sekarang, masyarakat dipaksa untuk memilih calon. Implikasi yang ada saat ini adalah masyarakat tidak siap melihat nilai yang dibawa oleh setiap calon. Alhasil, masyarakat hanya memilih karena mengenal atau calon yang dapat berkampanye dengan modal lebih besar. Lebih jauh lagi, partai akhirnya hanya menjadi perkumpulan orang-orang yang terkenal atau memiliki uang. Tidak ada lagi kader-kader yang menjunjung nilai perjuangan di dalam partai karena pertempuran dilakukan bukan untuk memperjuangkan nilai, tapi mengalahkan segala saingan. Justru menurut penulis kalau memang ingin memperbaiki demokrasi mekanisme inilah yang seharusnya dikaji ulang, bukan perihal langsung atau tidak langsung.

Dari tiga aspek di atas, dapat disimpulkan bahwa bila kondisi demokrasi di negeri ini ideal, maka kombinasi mana pun yang dipilih sebagai sistem pemilu tidak akan menjadi masalah. Ideal yang dimaksud adalah masyarakatnya cerdas dalam arti berpartisipasi aktif dalam menjalankan demokrasi. Tidak hanya memilih di pemilu dan berharap sejahtera karena diurus pemerintah.

Namun, yang namanya ideal itu memang hanya ada di dalam mimpi. Berdasarkan subjektif penulis, bila harus bersikap maka penulis memilih sistem terbaik untuk pemilu di Indonesia adalah proporsional, langsung, tertutup.

Akhir kata, Indonesia saat ini masih belum siap dengan sistem pemilu yang dipilih secara tidak langsung. Meskipun begitu, bukan berarti kita harus anti dengan sistem pemilu tidak langsung, atau di sisi lain fanatik buta terhadap sistem pemilu langsung. Karena sistem pemilu seperti apa pun tidak akan bisa menghasilkan pemerintahan yang berkualitas tanpa adanya partisipasi yang riil dari bangsa ini.

Sumber: Asshiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi RI, 2006.

Categories: Coretan Tags: , , , , ,

Sepakbola dan Sistem

02/07/2012 1 comment

http://www.bursabandar.com/images/uploads/img/EURO%202012%20-%20Poland%20Ukraine.jpg

Euro 2012 telah berakhir. Punggawa timnas Spanyol telah berhasil mempertahankan dan kembali mengangkat trofi Henri Delaunay sebanyak dua kali berturut-turut.

Dalam pandangan saya, suksesnya sebuah tim dalam sepakbola biasanya tidak terlepas dari bagaimana sistem dan pengelolaan sepakbola dalam negara tersebut. Hal ini telah ditunjukkan oleh Jerman dan Spanyol dalam kompetisi Euro 2012. Mereka telah menunjukkan kualitas tim yang jauh di atas timnas lain yang berkompetisi dalam laga tersebut. IMO, Jerman dan Spanyol tetap tim terbaik dalam turnamen ini walaupun Jerman kalah taktik dan membuat banyak blunder saat menghadapi Italia di Semifinal.

Saya melihat kedua negara ini mampu memainkan sepakbola yang disokong oleh sistem yang kuat. Sepakbola yang tidak hanya berisi pemain-pemain bintang yang berkualitas atau pun taktik yang mumpuni. Namun, sepakbola yang kokoh dan berkarakter dari hasil usaha selama bertahun-tahun.

Sepakbola Spanyol dan Jerman

Spanyol yang terkenal dengan infrastruktur yang memadai dan pelatih dengan jumlah melimpah telah berhasil menumbuhkan bakat-bakat yang seakan tidak akan pernah habis. Mereka tidak hanya mengambil bakat alam seperti pemain bola Amerika Selatan, namun menumbuhkan sedari usia dini sehingga regenerasi tim dengan kualitas yang imba akan tetap terjaga.

Kemudian Jerman yang pernah gagal pada Piala Dunia 98 dan Piala Eropa tahun 2000 telah menetapkan standardisasi di level yang tinggi. Setiap klub di Jerman harus mengikuti kebijakan pusat yang mengharuskan setiap klub memiliki infrastruktur, pembinaan pemain muda, dll dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila tidak mampu melaksanakannya, maka klub dilarang ikut kompetisi. CMIIW.

Sepakbola di level klub

Kemudian, bila kita melihat pada level klub ada dua klub yang levelnya jauh di atas klub-klub lain di Eropa. Mereka adalah Real Madrid dan Barcelona. Real Madrid menerapkan kebijakan untuk menyatukan para ‘Zidanes’ dan ‘Pavones’ agar regenerasi kekuatan tim tetap berada di level tertinggi. Selain itu Real Madrid juga punya jangkauan global yang menyokong segala aspek di dalam klub.

Di sisi lain Barcelona memiliki sekolah La Masia yang sangat terkenal dimana sekolah ini mendidik para pemain sepakbola tidak hanya dari aspek teknis. Tapi sekolah ini juga mengajarkan kehidupan bersama di asrama dan juga kemampuan akademis. Barcelona juga memiliki tim dengan berbagai tingkatan yang telah dididik secara sistematis untuk bermain dengan pola strategi El Barca yang diturunkan Opa Cruyff.

Contoh-contoh tersebut telah menunjukkan bahwa sepakbola tidak hanya sekedar uang. Sepakbola tidak hanya sekedar taktik atau pun memiliki pemain dengan level alien seperti Messi atau CR di masa kini. Atau Maradonna, Pele, Zidane, Beckenbauer, Platini, Cruyff, dll di masa lalu. Sistem sepakbola lah yang menjadikan suatu tim berada di level yang luar biasa seperti yang telah ditunjukkan oleh Real Madrid, Barcelona, Timnas Spanyol dan Timnas Jerman.

Lalu, bagaimana dengan timnas kita ya?

Melihat timnas atau pun klub-klub tersebut, saya jadi berpikir. Kapan ya timnas Indonesia bisa seimba mereka? Sangat disayangkan. Padahal potensi Indonesia bisa dikatakan sangat besar di dunia sepakbola. Kita memiliki populasi yang sangat banyak, animo masyarakat terhadap sepakbola yang sangat besar, hingga infrastruktur yang bisa dikatakan cukup baik.

Kenapa ya?

Categories: Coretan Tags: , , , ,