Masalah Klasik Organisasi Kita

“Kadang kita lupa bahwa kita sudah kembung untuk menerima masukan dan berpikir”

-Seorang Teman-

Tempo hari saya berbincang-bincang dengan sahabat mengenai masalah dalam organisasi. Dalam perbincangan itu, kami banyak membahas tentang organisasi yang kami jalani atau pun organisasi lain. Masalah yang ada sangat klasik, tidak jauh-jauh dari masalah manajemen, ketercapaian tujuan, antusiasme, kurang koordinasi, dll.

Lucunya, setelah ditelusuri ternyata akar masalahnya sama yakni karena tidak melakukan apa yang telah direncanakan. Kadang kita terlalu banyak rapat dan berpikir untuk menyelesaikan masalah sampai-sampai lupa bahwa yang kita rencanakan tidak pernah kita jalankan. Kita tanpa sadar menyebabkan organisasi kita sendiri kembung dan tidak bisa bergerak lagi karena terlalu banyak menerima masukan.

Saya teringat perkataan orang tua teman saya yang mengatakan bila anak ITB diberi tugas untuk mengerjakan sesuatu biasanya hasilnya bagus. Tetapi, bila ada dua anak ITB ditugaskan untuk bekerja sama mengerjakan sesuatu, biasanya berantakan dan tidak selesai.

Dulu saya menyangkal dalam hati perkataan orang tua teman saya tersebut. Namun sekarang, rasanya saya mau tidak mau harus membenarkan. Sudah rahasia umum anak ITB merupakan anak-anak yang pintar dan lebih suka berpikir dibandingkan bekerja. Hal ini terlihat jelas dari gaya berorganisasi di ITB yang lebih didominasi rapat, forum dan kajian dibandingkan mengerjakan tugas organisasi itu sendiri. Hal ini diperparah dengan kebiasaan kurang menerima masukan dari orang lain (mungkin karena merasa paling pintar kali ya) sehingga dalam jangka panjang telah menyebabkan terjadinya arogansi yang negatif atau pun konflik internal.

IMO, bila kebiasaan ini tidak diubah, seharusnya kita tidak berhak bangga dan arogan dengan nama besar ITB dan organisasi kita masing-masing. Bila mengurusi organisasi di kampus saja selalu menyebabkan masalah klasik yang kronis, bagaimana ketika kita memegang perusahaan? Bagaimana ketika kita ingin membangun bangsa seperti yang selalu didengungkan? Sudahkah kita pantas mengucapkan kalimat bahwa mahasiswa ITB adalah pemimpin bangsa padahal terus-menerus menghasilkan maslah klasik yang kronis?

Rasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu kita jawab. Mari kita bersama-sama introspeksi diri kita dan organisasi kita masing-masing. Tanpa ada maksud memojokkan, semoga tulisan ini bisa menjadi otokritik bagi kita bersama.

Mohon maaf bila ada kata yang salah atau menyinggung pembaca.

Terima kasih. ๐Ÿ™‚

Advertisements

Perlukah Wakil Ketua dalam Organisasi?

Dalam sebuah organisasi, setiap elemennya pasti memiliki jobdesk (tugas) masing-masing. Mulai dari ketua, kepala bidang, ketua divisi hingga anggota pastilah memilikinya. Namun, ada posisi yang memiliki jabatan cukup tinggi namun uniknya jabatan tersebut tidak selalu memiliki jobdesk yang jelas sebagaimana dimiliki yang lain. Posisi itu adalah posisi Wakil dalam organisasi.

Sering kita melihat dan mendengar tanggapan di kampus seorang wakil ketua dicap gabut (gaji buta) saat menjalankan sebuah kepanitiaan/organisasi. Bahkan, tanggapan yang seperti ini bukan hanya di level kampus saja lho. Seorang wakil presiden pun sejatinya tidak memiliki jobdesk yang jelas. Jobdesk yang diterima wakil presiden amat sangat bergantung kepada sang presiden itu sendiri. Ketika presiden memang menginginkan wakilnya saja yang bekerja, it’s ok. Namun, ketika presiden meminta wakilnya untuk diam dan “nerimo” apa kata bos maka yang terjadi adalah seperti fenomena umum sekarang ini.

Bahkan, belum lama ini Wakil Gubernur DKI Jakarta MENGUNDURKAN diri dari jabatannya dengan alasan tidak diberdayakan oleh sang Gubernur. Di satu sisi tindakan Wakil Gubernur tidak menunjukkan integritasnya dalam membantu Gubernur. Namun, sang Gubernur pun juga sah-sah saja bila tidak memberikan kerjaan apa pun kepada wakilnya karena bisa selesai dengan baik tanpa perlu dibantu.

Nah, bila kita melihat di sekeliling kita tidak sedikit fenomena yang mirip. Apakah memang wakil itu dibutuhkan? Kalau dibutuhkan harus diberdayakan seperti apa?

Ya, bagaimana pun juga kebutuhan akan wakil ketua dikembalikan kepada gaya memimpin “Bos”. Kalau saya sendiri sih bila berada pada top-level organisasi lebih suka tidak menggunakan wakil, namun saya akan membagi jobdesk saya secara struktural ke beberapa PJ (Penanggung Jawab) Bidang. Bagaimana dengan anda? ๐Ÿ™‚

Tantangan Besar = Effort Besar = Manfaat Besar

From : barbiefigueroa.com

Yak, semester baru, pelajaran baru, kegiatan baru, dan banyak hal yang menarik yang saya rasa belum pernah didapatkan di semester sebelumnya. Mulai dari mata kuliah yang levelnya lebih tinggi, tugas-tugas yang lebih menuntut untuk bisa mengaplikasikan mata kuliah yang diikuti, kegiatan baru dalam akademis seperti mencoba jadi asisten suatu mata kuliah, kegiatan baru non-akademis berupa kepanitiaan baru atau pun organisasi, dan masih banyak lagi.

Namun, dari semua hal tersebut ada yang menarik perhatian saya yakni ada sebuah organisasi di kampus saya yang bisa dibilang kondisinya kurang baik, mungkin tepatnya kurang stabil. Organisasi ini mengajak saya untuk bergabung dan berkontribusi di sana. Awalnya saya ragu. Organisasi ini awalnya memang cukup terkenal di level kampus saya, bahkan sangat potensial. Namun karena memang kondisinya yang tidak stabil dan belum ada kepengurusan yang baik (IMHO), organisasi ini menjadi โ€œhilangโ€ dalam beberapa bulan terakhir.

Pada awalnya saya mengira kondisinya cukup parah. Dan setelah saya mencoba untuk mengikutinya lebih jauh, ternyata kondisinya lebih parah dari yang saya perkirakan.

Kalau boleh dibilang ini pengalaman pertama saya berkegiatan dimana โ€œwadahโ€ yang memfasilitasi saya berkegiatan tersebut kondisinya tidak stabil. Namun, justru karena kondisi seperti itulah maka saya berani untuk mencoba tantangan baru ini.

Saya yakin, sebuah tantangan yang besar tentunya membutuhkan usaha dan pengorbanan yang besar. Awalnya tidak mudah, tetapi bila kita mau berusaha dan berpegang teguh pada prinsip dan tujuan yang ingin dicapai saya yakin manfaat yang bisa kita dapat dan kita berikan kepada orang lain akan luar biasa. ๐Ÿ™‚