Archive

Posts Tagged ‘Manusia’

MBTI adalah Pseudo?

18/11/2016 Leave a comment

Sering kita mengklasifikasikan karakter kita berdasarkan MBTI. Kalau di tahun 90an dan 2000an populer penggunaan Personality Plus (Sanguinis, Melankolis, Koleris, Plegmatis), maka di tahun 2010an ini populer penggunaan MBTI. Sebelumnya, mungkin orang-orang sebelum generasi penulis lahir populer klasifikasi berdasarkan astrologi.

Ya, manusia pada dasarnya kompleks. Ketika mempelajari manusia dan mengenal berbagai jenis orang, makin lama akan makin sadar bahwa tiap orang berbeda cara penanganannya. Untuk memudahkan ini, kita secara intuitif akan berusaha mengotak-ngotakan setiap pribadi yang ditemui. Tidak ada salahnya sih, tapi bila kita terlalu mengandalkan hal ini malah jadinya bias dalam menilai seseorang. Belum tentu bila seseorang tipenya ENTP, INTJ, ESTP, atau entah apa pun itu 100% sesuai dengan hasil tesnya. Dan lagi, bila menyangkut faktor emosi atau ketika seseorang tidak stabil bisa jadi dia akan bergeser dari karakter nyamannya.

Walaupun lebih ilmiah, tapi rasa-rasanya malah jadi sama saja seperti astrologi, golongan darah, personality plus, dan metode lain dalam mengklasifikasikan manusia. Dan lucunya, kadang kita percaya dan mempatri “judgement” terhadap seseorang ketika sudah tahu tipenya. Padahal, tiap orang itu unik.

Entah ya.

Hahaha.

Bercandaan Bawah Perut

27/07/2016 Leave a comment

“Wanita diuji ketika lelaki tidak memiliki apa-apa. Lelaki diuji ketika wanita tidak memakai apa-apa,” kata kolega penulis.

Ya, bercandaan dewasa. Sejak remaja, kita sering bercanda dengan candaan dewasa yang menyinggung tentang bagian bawah perut. Tidak masalah sih, dulunya penulis mengira bahwa candaan dewasa muncul karena peralihan antara masa kanak-kanak ke remaja. Hal-hal yang bersifat baru kan biasanya menjadi candaan.

Tapi kok lucunya, semakin penulis punya kolega dewasa (di atas 30 tahun), ternyata bercandaannya semakin menjadi-jadi. Dan kadang tidak pakai filter lagi seperti ketika bercanda saat remaja. Bapak-bapak yang dulunya dikira penulis berwibawa waktu remaja, saat bercanda ternyata malah lebih nakal dari teman penulis yang paling nakal dalam bercanda waktu remaja.

Entah ya, mungkin memang pada dasarnya manusia suka bercanda.

Hahahahaha.

Mengalir

26/07/2016 Leave a comment

Mengapa ya kalau biasanya kita diberikan dua jenis tugas: Pertama mengerjakan dokumen 40 halaman dalam tiga hari, yang kedua mengerjakan dokumen satu halaman per hari selama 10 hari; Ketika dicek, tugas yang pertama biasanya selesai. Sedangkan tugas yang kedua saat dicek di hari ke-7, biasanya malah sudah beresin tiga halaman saja hebat.

Nah, mengapa bisa begitu ya? Apakah mungkin otak kita memang lebih cenderung bisa bekerja di bawah tekanan? Apakah memang kita tidak biasa bekerja secara mengalir dengan merancang flow sendiri?

Keluhan pada tulisan ini adalah hal yang penulis rasakan dalam hampir setahun terakhir. Entah mengapa seperti itu. Hal yang sangat berbeda iklimnya ketika dibandingkan dengan bekerja di korporat. Bekerja dengan membangun tim sendiri, harus bisa mengalirkan flow tersebut. Tidak bisa ditawar, tidak ada yang bisa mengarahkan. Ya kalau tidak sesuai flow, konsekuensinya berasa sakit setelah tidak dijalankan. Tapi kalau merasa santai tidak ada yang mengarahkan, sebetulnya lubang yang besar telah siap menanti di depan.

Setiap jalan ada tantangannya masing-masing lah ya. Harusnya  bukan mengeluh begini, tapi kembali lagi menjalankan “aliran” diri dan tim.

Hahaha.

Alter Ego

25/07/2016 Leave a comment

Setiap manusia punya dirinya yang kedua? Hahahaha.

Bener apa salah? Wallahua’lam.

Ada yang bilang memang setiap manusia memiliki alter-ego. Sejak zaman dahulu kala, manusia ingin dilihat tidak seperti apa adanya. Kalau diperhatikan, mungkin betul. Setiap dari kita tentunya ketika berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sosial, mengeluarkan respon-respon gerakan dan perkataan yang sesuai dengan imej yang diinginkan oleh pikiran. Tapi, apakah memang imej tersebut sama dengan apa yang ada di dalam hati kita? Bagaimana bila berbeda?

Tidak ada yang tahu selain diri kita masing-masing tentunya. Apalagi jujur yang paling sulit adalah jujur terhadap diri sendiri. Bisa jadi kenyataannya kita A, tapi ingin terlihat oleh orang lain B. Berarti karakter kita yang sebenarnya yang mana? Apakah memang A? Ataukah sejatinya memang B tapi denial terhadap kondisi A?

Mungkin itu juga ya mengapa manusia sekarang doyan pamer di media sosial.

Peace!

Akal Manusia

15/10/2014 Leave a comment

manusia-purba

Bertanya:

“Manusia, dilihat dari sudut mana pun, hanya satu dari banyak spesies di muka bumi. Siapa yang memberikan hak pada manusia untuk membagi-bagi bumi seakan bumi itu dimiliki manusia? Apa menjadi pemimpin sama dengan menjadi penguasa?”

Menjawab:

Keunggulan manusia atas spesies lain bisa dilihat dari dua sisi (creationism vs evolutionism):

  • Pandangan para creationist menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan akal sehingga bisa berdiri di atas spesies lain di muka bumi. Tentunya akal ini berasal dari Yang Maha Kuasa (bila anda percaya campur tangan Tuhan).
  • Pandangan evolutionist menjelaskan bahwa manusia bisa berdiri di atas makhluk lain karena dulunya “beruntung” punya tangan sehingga bisa berkreasi dengan benda. Dalam jangka waktu yang ordenya ribuan generasi, tangan ini merangsang spesies manusia bisa hidup dengan peralatan sehingga mampu berpikir, bisa berkreasi dan unggul dibanding spesies2 lain (sumber: Kartun Peradaban, Larry Gonnick).

Kalau ditanyakan siapa yang memberikan hak, dikembalikan lagi kepada penanya lebih cocok dengan pandangan creationist atau evolutionist. Kalau lebih percaya dengan creationist, Tuhan lah yang memberikan hak pada manusia. Kalau lebih percaya evolutionist, manusia sendiri lah yang memenangkan “pertarungan” dan menjadi penguasa bumi.

Saya pribadi percaya dengan campur tangan Yang Maha Kuasa memberikan akal pada manusia. Bukan berarti saya tidak percaya dengan teori evolusi. Teori yang mengatakan kecerdasan manusia berawal dari adanya tangan masuk akal. Namun, kok bisa Homo sapiens memiliki lompatan kecerdasan (dibanding manusia jenis Pithecanthropus atau Naendherthal) dan menguasai bumi mulai sekitar beberapa puluh ribu tahun lalu? Kok bisa manusia punya kebijaksanaan menata peradaban setelah sebelumnya hanya bunuh2 mammoth dan berkelahi antar koloni? Dari mana kebijaksanaan itu datang? Wallahualam, hanya Tuhan yang mengetahui pasti.

Buat pertanyaan kedua, dikembalikan lagi saja ke definisi pemimpin vs penguasa (dalam bahasa arab sepadan dengan khalifah vs umara). Berikut adalah definisinya:

  • pimpin /pim·pin/ v, berpimpin /ber·pim·pin/ v (dl keadaan) dibimbing; dituntun: yg buta datang ~;~ jari berpegangan (bergandengan) tangan: dua sejoli itu turun dr mobil ~ tangan;
  • kuasa 1 /ku·a·sa / n kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan

    (sumber: KBBI, 2014).

Dari definisi tersebut terlihat bahwa ada perbedaan yang kontras antara “pimpin” dan “kuasa”, ada unsur membimbing, menuntun. Tidak hanya sanggup dan memiliki kekuatan saja. Butuh kebijaksanaan di sana untuk bisa membimbing dan menuntun. Kalau dikaitkan dengan pertanyaan pertama, mungkin seyogyanya kebijaksanaan (yang disebut akal) ini yang menjadikan manusia pemimpin di muka bumi, tidak hanya penguasa.

CMIIW.

Pertanyaan dan jawaban di atas diambil dari ask.fm penulis. Mungkin ada pembaca yang punya ilmu yang ingin dibagi terkait ini?

Categories: Coretan Tags: , , , , ,

Siapakah yang Buruk?

26/08/2014 Leave a comment

 konflik

Menghindari konflik di dalam kehidupan rasanya dapat dikatakan kondisi yang kelewat ideal. Nyaris tidak mungkin seorang manusia tidak mengalami konflik dengan manusia lain sepanjang hidupnya. Dan ketika terjadi konflik antara dua orang, sangat mungkin satu sama lain akan saling menyalahkan. Kedua pihak sudah dapat dipastikan memiliki andil salah atas konflik tersebut. Namun, siapa yang seharusnya bertanggung jawab?

Satu hal yang paling tidak menyenangkan adalah ketika ada satu pihak yang menyatakan pihak lainnya yang bersalah dan buruk. Padahal, belum tentu juga bukan? Bisa jadi pihak yang men-judge salah dan buruk adalah yang salah dan buruk itu sendiri. Atau mungkin bisa saja pihak yang disalahkan itu memang bersalah dan buruk, tapi tentunya men-judge pihak lain sebagai yang bersalah juga merupakan hal buruk bukan?

Alangkah baiknya ketika ada konflik yang sudah keruh masing-masing pihak mendinginkan kepala dan melihat kembali titik awal sebelum ada konflik. Saling introspeksi dan menerima evaluasi dengan lapang dada. Sama-sama kembali melihat jalan terbaik yang bisa ditempuh bersama setelahnya.

Lebih baik juga bila menjadi pihak yang meminta maaf lebih dulu. Kesalahan seorang manusia dengan Allah dapat langsung dimaafkan. Namun, katanya lain cerita dengan sesama manusia bukan?

Kebanyakan orang sudah memahami perihal sikap terpuji dalam menghadapi konflik sejak SD. Namun ketika menghadapinya secara langsung, tidak semudah itu menjalankan pemahaman yang telah ada di kepala sejak kecil. Perlu usaha keras dan hati yang ikhlas.

Semoga kita semua dilindungi oleh-Nya.

Categories: Coretan Tags: , , , , ,