Archive

Posts Tagged ‘Klasifikasi’

MBTI adalah Pseudo?

18/11/2016 Leave a comment

Sering kita mengklasifikasikan karakter kita berdasarkan MBTI. Kalau di tahun 90an dan 2000an populer penggunaan Personality Plus (Sanguinis, Melankolis, Koleris, Plegmatis), maka di tahun 2010an ini populer penggunaan MBTI. Sebelumnya, mungkin orang-orang sebelum generasi penulis lahir populer klasifikasi berdasarkan astrologi.

Ya, manusia pada dasarnya kompleks. Ketika mempelajari manusia dan mengenal berbagai jenis orang, makin lama akan makin sadar bahwa tiap orang berbeda cara penanganannya. Untuk memudahkan ini, kita secara intuitif akan berusaha mengotak-ngotakan setiap pribadi yang ditemui. Tidak ada salahnya sih, tapi bila kita terlalu mengandalkan hal ini malah jadinya bias dalam menilai seseorang. Belum tentu bila seseorang tipenya ENTP, INTJ, ESTP, atau entah apa pun itu 100% sesuai dengan hasil tesnya. Dan lagi, bila menyangkut faktor emosi atau ketika seseorang tidak stabil bisa jadi dia akan bergeser dari karakter nyamannya.

Walaupun lebih ilmiah, tapi rasa-rasanya malah jadi sama saja seperti astrologi, golongan darah, personality plus, dan metode lain dalam mengklasifikasikan manusia. Dan lucunya, kadang kita percaya dan mempatri “judgement” terhadap seseorang ketika sudah tahu tipenya. Padahal, tiap orang itu unik.

Entah ya.

Hahaha.

Sarkasme

01/08/2016 Leave a comment

Sarkasme/sar·kas·me/ n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar.

Ya, begitulah penjelasan makna sarkasme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, untuk saat ini seperti terjadi pergeseran makna. Banyak tulisan yang saat ini di internet tidak mengejek atau menggunakan kata-kata pedas, tapi sebetulnya bersifat sarkasme. Tidak murni seperti definisi sarkasme, tapi ada sensasi sarkasmenya ketika dibaca. Mungkin tidak sampai menyakiti hati, tapi tetap ada rasa berniat mengejek.

Namun, kadang tulisan sarkasme tidak begitu mudah dipahami bila tidak memahami konteks mengapa tulisan tersebut dibuat. Kadang, justru malah menyebabkan salah paham. Berniat mengejek, tapi justru tulisannya dianggap serius dan dimaknai secara tekstual. Tidak dimaknai secara kontekstual.

Malah kadang, justru tulisan bersifat sarkasme bisa menjadi “alat” klasifikasi siapa orang-orang yang memahami sesuatu secara tekstual saja, atau yang juga bisa memahami kontekstualnya juga.

Ya, jangan sering-sering sarkas lah ya.

Hahahaha.