Archive

Posts Tagged ‘Jakarta’

Urbanisasi

29/07/2017 Leave a comment

Dari masa ke masa, urbanisasi selalu menjadi masalah utama manusia. Bahkan menurut Ibnu Khaldun, urbanisasi adalah fitur bawaan yang memiliki kepastian dalam menghancurkan peradaban. Baik peradaban kuno, modern, kafir, beriman, semua berlaku.

Dalam kasus Indonesia, tingkat urbanisasi paling parah terjadi di Jakarta. Semuanya saja pindah ke Jakarta, dan bercita-cita sukses di sana. Tidak salah memang, sukses harus dikejar.

Ketika memikirkan tentang ini, pada akhirnya kembali lagi ke definisi masing-masing. Apa sih yang dimaksud dengan sukses? Tiap orang pasti berbeda, termasuk tiap individu yang memilih menjadi kaum urban di Jakarta.

Andaikan mayoritas warga Jakarta berpikir hanya untuk kesuksesan pribadi, dan tidak terbesit untuk kembali membangun luar Jakarta, apakah Jakarta juga akan hancur seperti peradaban dalam sejarah?

Advertisements
Categories: Coretan Tags: , ,

Pilkada Berisik

19/11/2016 Leave a comment

Ahok ini betul-betul membuat fenomena ya. Hanya dengan satu kalimatnya yang ceroboh, bangsa ini fokusnya langsung tertuju kepada doi baik yang pro maupun yang kontra. Suka tidak suka, harus dikatakan bahwa Ahok ini punya kapasitas sebagai pemimpin, terlepas dari doi layak atau tidak sebagai pemimpin DKI Jakarta. Ya, layak dan punya kapasistas adalah hal yang berbeda.

Beberapa hari terakhir timeline ribut karena Ahok telah dijadikan tersangka. Lagi-lagi masyarakat ribut, karena secara psikologi warga DKI akan selalu pusing dengan kondisi kotanya. Mulai dari macet, banjir, harga makanan mahal, kemana-mana susah, belum lagi sikut-sikutan di tempat kerja, dan lain sebagainya. Alhasil, hal ini membuat masyarakat berharap banyak dari pemerintah yang telah dititipkan iuran pajak untuk berbuat sesuatu. Dan pemilihan kepala daerah pun, akan menjadi sesuatu yang seksi setiap lima tahun sekali. Tidak hanya ramai bagi warga DKI, tapi juga ramai bagi nasional.

Yang jadi masalah di sini adalah, Jokowi dan Ahok pada tahun 2012 telah berhasil “menangkap” apa yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta. Waktu itu incumbent Foke sebagai Gubernur DKI tidak berhasil memberikan pesan bagi masyarakat Jakarta. Warga Jakarta membutuhkan pemimpin yang selalu tampil dan dekat sehingga ada rasa ketenangan bagi warga. Hal tersebut tidak terlihat pada saat Foke nyagub. Jokowi dan Ahok berhasil memberikan pesan “Jakarta Baru”, yaitu suasana yang sudah bosan karena warga stres dengan kondisi Jakarta yang semerawut.

Nah, berjalan lima tahun terakhir ditambah Jokowi menjadi presiden, warga Jakarta saat ini kembali dengan suasana stres. Kali ini, warga Jakarta merasa kalau kota tidak begitu banyak perubahan. Warga masih stres dengan banjir dan macet. Pergi pagi dan pulang malam di Jakarta, selalu membawa kelelahan. Dan dengan perasaan warga demikian, harusnya Ahok sebagai incumbent bisa menang dengan mudah. Mengapa? Walaupun perubahan tidak banyak, tapi di sini Ahok justru menghadirkan sesuatu yang berberda. Birokrasi yang terbuka (walaupun korupsi masih banyak), adanya pasukan yang langsung turun ke warga, adanya pembangunan dan pembersihan kali, juga sampai penggusuran yang walaupun kontroversial tapi tetap dinilai perubahan bagi warga yang tidak merasakan.

Namun, sekarang Ahok justru diserang isu agama. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Bila dilihat dari sudut pandang kontekstual, kalimat Ahok terkait surat Al-Maidah ayat 51 adalah penistaan. Walaupun secara sintaksis bahasa tanpa melihat konteks, hal tersebut bukanlah penistaan. Dan reaksi yang disebabkan oleh Ahok ini, membuat cukup besar warga muslim yang malas dengan Ahok. Jumlahnya berapa banyak? Yah, lumayan untuk bisa menurunkan elektabilitas Ahok dari yang awalnya 50an persen, sekarang hanya tinggal 20an persen. Bisa dikatakan sama dengan kedua calon yang lain.

Nah, dengan tingkat elektabilitas yang sama tersebut, Ahok justru dijadikan tersangka. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi Ahok untuk tidak mendapatkan suara tambahan agar bisa bersaing dengan calon yang lain, atau justru malah bertambah?

Kalau penulis melihat dalam setiap kampanye yang penting adalah pesan yang dibawa tersampaikan. Dan pesan yang dimaksud di sini, adalah pesan yang diterima di masyarakat. Di luar dugaan (atau mungkin masih dalam dugaan), Ahok saat justru mengikuti proses hukum tanpa pra-peradilan. Entah kemungkinannya menang atau kalah, dapat dikatakan pesan yang sampai ke masyarakat saat ini adalah: Ahok konsisten terhadap penegakkan hukum, dirinya bersalah, meminta maaf, mengaku, dan mengikuti proses pengadilan.

Penulis pribadi melihat dijadikannya Ahok tersangka justru malah membuat pesan yang ingin disampaikan Ahok sampai ke masyarakat. Pesan bahwa dirinya tetap kerja sebagai gubernur, dan taat pada proses hukum. Pesan yang masih sama dengan tahun 2012, menghadirkan suasana birokrasi baru di DKI Jakarta.

Artinya, saat ini Ahok kembali mengejar dan mungkin malah bisa menyusul dua calon yang lain terlepas dari statusnya sebagai tersangka. Isu agama melemahkan elektabilitas Ahok hingga turun di angka sekitar 20 persen, tetapi di lain sisi justru malah melemahkan pesan kampanye yang ingin disampaikan calon lain. Pesan yang ingin disampaikan oleh Anies-Sandiaga terdengar sebagai “Jakarta humanis”, negasi dari Ahok. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan oleh Agus-Sylvi, lebih terdengar sebagai “asal bukan Ahok”. Jujur saja, walaupun penulis tidak begitu pro Ahok, tapi pesan dari Anies-Sandiaga terasa jadi lemah karena derasnya isu agama. Sedangkan bagi Agus-Sylvi, pesan tersebut bisa menjadi bumerang bila tidak hati-hati dan tidak segera menemukan fokus pesan yang ingin disampaikan dalam kampanye. Apalagi, dengan calon yang hanya tiga maka akan semakin sulit bila kampanye dilakukan dengan mekanisme “money politics”.

Yah, bila terus berlanjut seperti ini sih penulis sangsi Ahok akan terkalahkan. Isu agama memang telah mengikis elektabilitas Ahok, tapi justru di lain sisi membuat pesan kampanye dari kedua calon lain semakin lemah. Ya, bahkan tidak bunyi sama sekali di media konvensional, dan media online, juga media sosial.

Tapi ya sudah lah ya, toh pilkada masih lama. Dan di luar itu, untuk tahun 2017 nanti sepertinya penulis sudah mulai tidak akan berpartisipasi di Pilkada DKI.

Hahaha.

Bandung Lebih Adem

02/08/2016 Leave a comment

Suhu Bandung dan Jakarta perbandingannya jauh sekali. Bisa beda 5-10 derajat celcius ketika dicek baik di pagi, siang, atau pun malam.

Dulunya penulis tinggal di Jakarta, tetapi saat ini sudah hampir 7 tahun berdomisili fulltime di Bandung. Pulang ke Jakarta paling kalau weekend atau ada acara saja. Atau ada keperluan terkait kerjaan. Ya, hampir seluruh hidup selama ini dihabiskan di Bandung.

Dulunya pertama kali tinggal di Bandung, di tahun pertama, hampir tiap malam kedinginan. Hampir selalu butuh selimut dan tidak kuat untuk tinggal tanpa selimut. Rasanya dinginnya Bandung sangat menusuk ketika itu. Sekarang? Sepertinya keluar pakai kaos malam-malam saja di Bandung, masih kadang ngomel panas atau keringetan.

Sulit rasanya untuk kembali ke Jakarta. Selain karena pertimbangan penulis pada beberapa tulisan sebleumnya, saat ini faktor alam juga berpengaruh. Secara fisik, penulis sudah terlalu terpengaruh dengan kondisi Bandung dan sulit pindah ke Jakarta. Memang sih, tinggal di Jakarta 1-2 bulan setelah itu akan terbiasa dengan panasnya dan justru malah akan kedinginan ketika ke Bandung. Tapi saat ini penulis bisa memilih opsi yang mana saja dari keduanya.

Jadi Bandung atau Jakarta? Yang pasti ogah deh digoreng tiap hari.

Kok Gak di Jakarta Aja, Mil?

27/07/2016 Leave a comment

Kemarin mendapati link ini di-share oleh seorang teman di FB:

http://jakartaglobe.beritasatu.com/news/getting-harder-find-job-graduates-say/

Di link tersebut dijelaskan katanya saat ini mendapatkan pekerjaan di Jakarta lebih sulit. Selain itu, banyak juga bahasan serupa yang menjelaskan bahwa di Jakarta harga kebutuhan pokok semakin mahal. Harga rumah semakin tidak terbeli, harga kosan semakin tinggi dan mengikis budget makanan tiap bulannya. Harga makanan makin naik, tapi untuk masak gak ada waktu. Kalau mau dimasakin istri, butuh biaya finansial yang lebih stabil dan kuat.

Masalahnya di mana?

Penulis sendiri tidak begitu memahami. Memang harga terus naik, kebutuhan terus meningkat, gaji tidak seberapa tumbuh. Tapi kalau diperhatikan dari teman-teman penulis dan senior dan junior dalam rentang dua-tiga tahun dari penulis, mayoritas berorientasi kerja di Jakarta. Dulunya baynak yang berasal dari daerah, setelah lulus berbondong-bondong ke Jakarta. Faktor utama yang menentukan pilihan ini adalah gaji. Nilai gaji di Jakarta memang lebih tinggi dibanding di daerah-daerah lain. Gaji freshgrad untuk lulusan dari universitas top seperti ITB, UI, UGM, kebanyakan memang bisa sampai dua kali daripada di kota besar lain.

Bagaimana situasi tersebut tidak memancing untuk “mendekat” ke Jakarta?

Ya tapi mungkin tidak banyak yang merasakan bahwa kebutuhan hidup di Jakarta juga semakin tinggi. Keramaian di Jakarta dengan daya belinya yang tinggi, memancing pelaku industri untuk mengincar pasar Jakarta. Artinya semakin banyak barang masuk Jakarta, tapi orang juga semakin banyak. Yang ada semakin mahal. Mungkin sulit dipercaya kecuali oleh orang yang tinggal di luar Jakarta bahwa gaji besar di Jakarta kadang semu. Terkecuali nilai gajinya betul-betul besar.

Belum lagi faktor sulitnya mobilitas di Jakarta dan cuaca yang lebih banyak membuat tidak produktif. Ada tiga kejadian sederhana yang dalam beberapa bulan ini menjadi perhatian penulis.

Pertama tentang jam kerja. Kebanyakan yang bekerja di Jakarta, berpatokan pada alur jam kerja kantoran, 9-17 pada umumnya. Ya, di sini beruntung bagi yang bekerja di kantor dan bisa produktif pada jam-jam tersebut. Efektivitas kerja paling maksimal hanya mendekati 6 jam. Belum lagi waktu akomidasi yang dibutuhkan untuk berangkat dari tempat tinggal ke tempat kerja. Penulis pernah bekerja di Jakarta kadang sebagian besar waktu jadi terkikis oleh membuang capek dari perjalanan selama bekerja. Sedangkan ketika dibandingkan kasusnya di Bandung, santai-santai sambil main games saja bisa mencapai jam produktif yang full 8 jam.

Ya, yang kedua tentang waktu tempuh untuk ke tempat kerja. Penulis pernah berangkat dari Pasar Minggu menuju Tebet, memakan waktu hingga dua jam. Pernah juga berangkat dari Tangerang dengan mobil, sampai di Tebet memakan waktu empat jam. Belum lagi pulangnya. Sedangkan ketika di Bandung, waktu tempuh 30 menit saja sudah cukup lama. Kecuali memang wilayahnya berbeda jauh, berangkat dari Bandung Selatan, tempat kerja di Bandung Utara. Atau memang sedang rush hour.

Yang ketiga adalah tentang biaya. Rata-rata gaji freshgrad di Bandung adalah 3,5jt sampai 5 jt. Sedangkan di Jakarta mulai dari 5jt sampai 8jt untuk freshgrad. Kecuali bidang kerja yang pengecualian seperti investment banking, oil and gas, atau pun konsultan manajemen. Atau bidang IT untuk scope yang rockstar. Angka tersebut adalah rata-rata. Penulis mengambil sampel dua teman penulis yang berada di dua kota yang pendapatannya masing-masing di angka tersebut di kota yang berbeda. Gaya hidup keduanya tidak begitu berbeda, gak begitu suka main dan hedon. Saat telah mencapai waktu satu tahun hidup, ternyata tabungannya lebih besar yang bekerja di Bandung.

Apa yang aneh? Pastinya adalah kenyataan bahwa cost di Jakarta sangat tinggi. Ya, sangat tinggi dibandingkan Bandung. Dengan gaya hidup yang sama, tabungan setelah satu tahun lebih banyak yang tinggal di Bandung. Kemudian, kalau melihat harga di Jakarta yang cenderung lebih tinggi, artinya daya beli dengan tabungan yang sama di Bandung saja, lebih kuat. Artinya tabungan tersebut lebih produktif untuk dibelanjakan di Bandung.

Ya memang sih tidak apple-to-apple perbandingannya. Apalagi tiga kejadian tadi hanya argumen penulis. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tapi di sini, penulis ingin berbagi pandangan mengapa memilih Bandung sejak lama untuk membangun plan hidup jangka panjang. Penulis diajarkan oleh mentor penulis bahwa profit dari kerja keras, adalah nilai manfaat yang dapat dibeli. Bukan dari besarnya nominal. Dan melihat hal-hal barusan dituliskan, sepertinya penulis melihat manfaat yang bisa dibeli penulis lebih banyak bila berada di Bandung. Dan juga, sepertinya lambat laun teman-teman sejurusan penulis semakin bertambah di Bandung dibandingkan di Jakarta. Entah karena kenyamanannya, entah karena manfaat yang bisa dibeli lebih banyak, entah juga mungkin karena ada preferensi lain.

Kalau kata walikota penulis yang enggan maju sebagai Gubernur DKI, “Jakarta adalah mitos. Sukses tidak harus di Jakarta”.

Yah, bagaimana pun tulisan ini hanya opini. Setiap tempat tentunya adalah tempat terbaik bagi masing-masing.

Bandung atau Jakarta?

30/11/2015 Leave a comment

jakartabandung

Jakarta dan Bandung adalah dua kota yang paling seksi bagi anak IT saat ini. Bila ditanya mau kerja di mana setelah lulus atau mau menghabiskan waktu di mana selama hidup, biasanya anak IT di Indonesia akan menjawab mau di Jakarta atau mau di Bandung. Lucu memang, mengapa ya hanya dua kota ini?

Saya sendiri tidak tahu mengapa Jakarta dan Bandung adalah pilihan bagi anak IT kekinian. Kalau kata mentor saya, Jakarta dan Bandung itu memiliki peluang. Bila anak IT ingin memiliki uang yang banyak, pergilah ke Jakarta. Bila anak IT ingin membangun hal yang keren, pergilah ke Bandung. Jakarta memiliki iklim yang kompetitif dalam bisnis, sedangkan Bandung memiliki kultur yang sangat kuat untuk memancing inovasi.

Mungkin karena itu ya cukup banyak startup IT yang memulai dari Bandung?

Anomali Travel Jakarta-Bandung

05/11/2011 Leave a comment

Pagi hari ini saya baru saja pergi meninggalkan kota Bandung yang dingin sejuk menuju kota Jakarta yang panas hangat. Kebetulan, travel yang saya pesan hari ini adalah travel yang paling pagi (05.45) untuk jurusan Bandung-Pancoran. Entah kenapa saya bingung karena pada saat memesan travel sehari sebelumnya sudah tidak ada lagi tempat kosong pada jam tersebut. Namun, lucunya yang berangkat pada pagi hari ini di travel hanya dua orang penumpang saja.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya menemukan kasus dimana travel nyaris kosong yang sehari sebelumnya sudah full-booked. Walaupun tidak separah ini, beberapa kali saya memesan travel untuk beberapa jurusan yang sudah nyaris penuh pun biasanya hanya setengahnya saja yang terisi. Hal ini tentunya membuat saya bingung. Aneh buat saya dimana saya pernah mengobrol dengan “seseorang” dari perusahaan travel mengatakan keuntungan per hari dari travel bisa digunakan untuk membeli mobil baru. Padahal bila kita menghitung ongkos Jakarta-Bandung dibandingkan dengan omzet untuk satu kali narik travel pada peak season pun secara kasar keuntungannya tidak sesignifikan itu.

Entah apa memang benar keuntungan travel sebesar itu terlepas dari sistem pemesanannya yang banyak kekurangan. Yang pasti buat saya tetap aneh untuk perusahaan-perusahaan travel yang sedang sangat menjamur sekarang ini untuk membiarkan keuntungan kursi kosong hilang begitu saja.

Hanya curhat karena sering berurusan dengan “Travel Kosong” yang sudah full-booked. 🙂

Categories: Coretan Tags: , , , ,

Jakarta yang Lengang

06/09/2011 Leave a comment

From : skyscrapercity.com

Setelah lama libur di kampung halaman, akhirnya saya kembali ke rumah saya di Jakarta. Ya, libur lebaran yang sangat singkat ini pun hanya tinggal beberapa hari lagi. Dan hari ini merupakan hari terakhir saya di Jakarta.

Di hari terakhir ini masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan sebelum kembali ke Bandung. Namun, ada satu hal yang sangat menarik dan belum pernah saya rasakan sebelumnya selama menjadi warga Jakarta. Yakni kelengangan jalan yang ada di Jakarta. Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil dari kamera HP dalam perjalanan ke arah senayan :

Daerah Bulungan

Depan Senayan City

Kawasan Gelora Bung Karno

Walaupun fotonya tidak begitu bagus dan tidak sempat ngambil banyak, yang pasti saya merasa cukup surprise dengan kelengangan jakarta yang seperti ini. Seandainya kondisi jalan yang luar biasa nyaman seperti ini tidak hanya ada di akhir libur lebaran saja, saya akan kembali memilih untuk tinggal di Jakarta dibandingkan di Bandung atau di Bogor. 🙂

Categories: Coretan Tags: , , , ,