Archive

Posts Tagged ‘Hidup’

Menyiapkan Wadah

25/07/2017 Leave a comment

Kesempatan tidak datang dua kali. Sayang, ketika kesempatan datang belum tentu kita bisa sanggup menggapainya. Kita hanya bisa menyiapkan wadah. Terus menambah kapasitas, agar ketika kesempatan tersebut datang kita bisa menampung dan mengambil manfaatnya.

Sebagaimana orang islam diharuskan shalat dan tadarus, mungkin tidak lain karena realita mengenai kesempatan ini.

Categories: Coretan Tags: , ,

Quarterlife Crisis

19/07/2016 Leave a comment

Quarterlife crisis katanya adalah periode yang dialami manusia pada rentang umur dua puluhan, hingga tiga puluhan. Rasa yang dialami seseorang ketika mulai ragu tentang hidupnya, merasa stress menjadi dewasa dan harus menjalani hidup di atas kaki sendiri dan sering dilengkapi dengan kehilangan arah.

Krisis ini katanya juga sering dialami seseorang ketika menginjak umur 25 tahun. Bahkan, Benjamin Franklin mengatakan bahwa “Some people die at 25 and aren’t buried until 75”. Betulkah seperti itu?

Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi memang wajar, ketika merasakan shock yang begitu berat dalam hidup, dihadapkan kepada dua pilihan. Pilihan pertama adalah terus pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Sedangkan pilihan kedua, adalah terus maju selangkah demi selangkah, kembali lagi merangkai apa hal yang paling penting dalam hidup dan terus berjalan.

Semoga kita selalu bisa menjadi golongan yang terus berjalan.

Konsistensi

17/11/2015 Leave a comment

konsistensi

Konsistensi itu sulit.

Ya, sulit.

Kekuatan “No” dalam Hidup

30/10/2015 1 comment

no

“That’s been one of my mantras — focus and simplicity. Simple can be harder than complex: You have to work hard to get your thinking clean to make it simple. But it’s worth it in the end because once you get there, you can move mountains.” [BusinessWeek, May 25, 1998, in a profile that also included the following gem: “Steve clearly has done an incredible job,” says former Apple Chief Financial Officer Joseph Graziano. “But the $64,000 question is: Will Apple ever resume growth?”]

Dahulu ketika masih mahasiswa tingkat awal, saya merasa bahwa orang yang memegang amanah banyak adalah orang hebat. Bisa mengatur banyak hal, menangani banyak hal, di saat semua orang menjalani hidup begitu-begitu saja. Tanpa sadar saya pun mencoba ini itu karena terinspirasi orang-orang hebat seperti itu.

Namun, seiring berjalannya waktu pandangan saya ditabrak sangat kencang oleh realita. Orang-orang yang dulunya saya rasa hebat, ternyata tidak begitu. Saya melihat bahwa orang hebat adalah mereka yang bisa mengerjakan satu hal saja dengan jam terbang yang sangat tinggi tiap harinya.

Kalau kata Steve Jobs, ketika kita simpel dan fokus, kita bahkan bisa memindahkan gunung. Di mana fokus itu sendiri artinya terus berkata “no” kepada setiap tawaran yang kita rasa tidak mendukung apa yang kita kerjakan.

Bagaimana kalau menurut pembaca?

Kekuatan “Yes” dalam Hidup

26/10/2015 1 comment

poweryes_post

One day, chance took charge, though I didn’t know it right away. I said yes to a lunch invite that I normally would have blown off. In conversation over the hour, my friend invited me on a trip to Cape Cod for the weekend—something I would’ve normally turned down—and I accepted the invite. Two yeses in a row. And those two yeses turned into a dozen, and then a hundred, and then a thousand.

What I learned that day was the power of saying yes. If you stick to a uniform schedule, both at work and outside of it, you’ll run into the same situations every day. You won’t experience anything new, and you won’t open up your life to the wonders of chance.

Sumber: http://www.fastcompany.com/3047018/how-to-be-a-success-at-everything/how-the-most-successful-creatives-create-their-own-luck

Satu kata “ya” dalam menerima sebuah ajakan, dapat mengantarkan ke berbagai hal yang tidak terduga. Sebetulnya saya tidak begitu percaya akan hal ini. Tapi kok sepertinya ada benarnya juga ya. Kalau diingat lagi dahulu saya berada di lingkungan dan kondisi dengan stereotip anak SO. Kerjaannya belajar, belajar, dan belajar. Dahulu waktu di SMA saya lebih sering mengurus untuk olimpiade sains daripada bermain dan menikmati perkembangan diri menuju fase dewasa.

Namun, semua berubah ketika saya masuk ITB dan mengatakan cukup satu “ya” pada sebuah malam. Waktu itu, ketika bulan-bulan pertama di ITB saya masih bingung mencari tahu apa yang ingin dilakukan selama di kampus. Seperti tipikal anak SO kebanyakan, saya belajar dari hari ke hari menghadapi UTS yang akan datang. Hal ini berlangsung hingga seorang senior memanggil saya di depan CC Barat.

Tidak biasanya saya waktu itu pulang lewat waktu maghrib. Saya dipanggil senior saya di SMA (yang setelah itu saya tahu dia sangat eksis dan punya jabatan bagus ketika tingkat dua) untuk ikut kumpul-kumpul. Tentu saja saya mengiyakan untuk menghormati senior saya tersebut. Di kumpul itu, saya diajak untuk mengurus acara besar dua tahunan di ITB, yaitu ITB Fair. Saya langsung diminta untuk mengurus pre-event dari acara ITB Fair. Hal ini artinya saya diminta untuk mengurusi rangkaian-rangkaian acara dari yang kecil hingga cukup besar sebelum acara utama berjalan.

Saya yang dulunya berorganisasi hanya untuk bersenang-senang, merasa amanah ini merepotkan. Namun, saya jalankan karena ya namanya amanah. Dan tanpa sadar, dalam hitungan kurang dari satu semester terjebak mengurus ITB Fair, saya diminta bantuan menjadi Kepala Divisi Akomodasi untuk acara Edufantasi (kerja sama ITB Fair dan Dufan). Suatu hal yang waktu itu membuat saya yang tipikalnya anak SO menjadi tidak nyaman.

Masuk ke tingkat dua, saya ditarik untuk masuk ke suatu divisi yang paling eksis di himpunan jurusan saya. Katanya sih pejabat kampus banyak ditelurkan dari divisi ini. Dan dalam waktu tidak lama, saya pun ternyata diminta menjadi Kadiv di suatu acara besar juga waktu itu dengan notabene saya yang masih awal tingkat dua.

Hal-hal terkait organisasi pun hanya dalam waktu satu tahun akhirnya menjadi zona nyaman bagi saya. Dan satu “ya” pun semakin lama menjadikan pengalaman, peluang, dan portofolio saya mengurusi organisasi seperti bola salju yang bergulir. Hingga akhirnya semakin lama lingkup dan beban yang diamanahkan kepada saya semakin tidak masuk akal bila melihat titik awal saya di ITB sebagai anak yang sangat-sangat berorientasi hanya kepada pelajaran.

Saya sendiri merasa lucu kalau mengingat hal ini. Satu “ya” dapat mengantarkan kita kepada banyak sekali kebaikan. Namun, hal ini juga membuat saya ngeri. Artinya satu “ya” pun dapat mengantarkan kita kepada keburukan yang bergulir selayaknya bola salju. Dan kadang, satu “ya” itu tidak akan pernah kita ketahui baik dan buruknya.

Semoga Allah melindungi kita semua agar “ya” yang kita berikan selalu menjadi bola salju kebaikan.

Categories: Coretan Tags: , , , , ,

Terlalu Jujur

06/10/2015 Leave a comment

terlalujujur

Jujur adalah prinsip hidup. Dan mungkin kejujuran adalah hal pertama yang menunjukkan kualitas semua orang. Sepertinya hampir semua orang berpendidikan sepakat dengan hal ini.

Permasalahannya, bagaimana jika seseorang terlalu jujur? Apakah justru dengan terlalu jujur orang tersebut jadi berbahaya karena tidak bisa menyimpan rahasia atau memposisikan pendapat? Atau justru karena terlalu jujur dan tidak bisa berbohong malah memiliki kencenderungan untuk menyembunyikan fakta dan malah kalimat-kalimat yang terucap dirasa seperti ada yang tidak koheren?

Seharusnya ketika kejujuran itu dijaga, hidup menjadi simpel. Tidak perlu lagi mengingat apa pun karena apa yang ada dan dirasakan dapat disampaikan apa adanya. Namun, dengan kondisi hiruk pikuknya era informasi seperti ini manakah yang lebih baik? Jujur begitu saja? Menyembunyikan fakta? Atau malah sekalian berbohong saja demi kebaikan?

Kuantifikasi

03/10/2015 Leave a comment

quantification

Seberapa penting kah kuantifikasi?

Kita sering mengatakan jalanilah hidup sesuai passion. Ketika ditanyakan, passion yang seperti apa? Bagaimana cara menjalani passion itu? Apa saja KPI yang harus dicapai tiap hari untuk mencapainya? Berapa lama durasi yang dibutuhkan untuk mengejar yang namanya passion itu?

Saya pun bingung ketika ditanyakan pertanyaan yang seperti itu jika mendadak. Punya keinginan, punya cita-cita baik yang gila maupun realistis. Namun, ketika harus menjelaskan dalam bentuk yang bisa terukur, bingung juga.

Mungkin ini proses pendewasaan sekaligus pembelajaran hidup ya.