Sudut Pandang

Sungguh sulit memperluas sudut pandang, apalagi ketika bergerak dengan lingkungan yang sama. Ada sisi-sisi yang harus terus diperbaiki tanpa pernah kita sadari sampai waktunya meledak. Sepertinya memang mendiamkan diri sejenak hanya untuk melihat dan mendengar bukanlah hal buruk.

Apakah memang sudut pandang manusia memang selalu sempit ya?

Advertisements

Rasio Keuangan

Dulu sebelum paham literasi keuangan, selalu menilai suatu case atau nilai seseorang berdasarkan jumlah pemasukan. Pernah juga mencoba ekstrim, tidak dinilai sama sekali dan dianggap semua hal baik. Belajar dari kedua ekstrim inj sekarang jadi belajar rasio-rasio dasar laporan keuangan yang harus dijaga secara ketat dan alhamdulillah mujarab baik untuk diri sendiri dan perusahaan.

Mengapa kita tidak diajarkan hal seperti manajemen keuangan seperti ini sejak di sekolah atau kuliah ya?

Dapur dan Konser

Setiap orang punya dapur rekamannya, kemudian dia pergi mengadakan konser-konser untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Ketika terlalu lama konser, tentu sang bintang akan kehabisan bahan dan opsi produk dapur untuk dijual. Ketika terlalu lama di dapur, sebaliknya sang bintang akan kesulitan mendapatkan pundi-pundi.

Pertanyaannya, apakah dapur > konser? Atau konser > dapur?

Seperti ke Kyai

Selama 2-3 tahun ini serius menjalankan kerjaan sebagai entrepreneur (yang semoga sudah tidak gadungan), keberadaan mentor adalah hal yang esensial. Kebetulan, alhmdulillah saat ini mendapat beberapa mentor yang selalu meluangkan waktu khususnya tiap minggu untuk beradu pikiran dan saling melihat sisi pandangan yang menjadi blindspot. Jujur saja, perkembangan tim justru semakin tegas dengan adanya mentor yang mengutamakan kedisiplinan seperti ini dibanding yang sekenanya atau sesekali meskipun punya profil wah.

Seperti ke Pak Kyai yang tidak selalu mendapat ajaran doa pamungkas, yang penting serius dulu meluangkan waktu khusus untuk belajar.

Calon Musuh

Tidak ada yang setia di dunia ini. Dalam dunia bisnis, bahkan dikatakan tidak ada teman dan semuanya musuh. Atau bisa juga dibalik dengan mengatakan semua adalah teman, sampai ada yang menjadi musuh. Mungkin teman sejati hanya ada pada keluarga, anak, binatang peliharaan, dan cadangan dana untuk hidup.

Apakah kita semua ini sebetulnya hanya calon musuh? Hahaha.

Restoran

Sedih melihat tempat makan yang dulu menyenangkan, sekarang terlihat hidup segan mati tak mau.

Bisnis restoran memang sadis. Entah siapa pun yang bilang, katanya restoran yang setelah dua tahun tidak bisa membuat inovasi baru dari jenis makanan atau perubahan tempat, akan mati. Kecuali restoran yang rasanya memang valid dan tidak bisa sembarang ditiru baik dari rasa, atau pun rantai suplai dan distribusinya.

Mengambil pelajaran dari ini, pilihannya hanya dua. Harus kuat dan tidak bisa digoyang, atau terus berinovasi dalam menu dan manajemen. Bukan pilihan yang mudah memang.

Apa boleh buat, makanan jadi jenis industri yang over supply sih ya.

Network/th?

“Your network is your net worth” – Orang (katanya) sukses.

Percayakah dengan quote tersebut?

Penulis percaya-percaya-tidak. Mengapa? Penulis yakin betul memang silaturahmi membawa rezeki. Tapi, bila segitunya dikaitkan dengan kekayaan, bukankah jadinya malah hubungan yang sifatnya untung-rugi? Padahal “kaya” itu sendiri tidak selalu diukur dengan nominal.

Penulis sendiri mengamini bahwa dengan rajin menambah koneksi, berkenalan dengan orang baru, mengontak lagi teman lama, menemui kembali orang-orang yang pernah membantu penulis, adalah hal baik. Dan dengan melakukan hal tersebut, penulis merasa bahwa saat ini hidup jadi lebih beruntung dan bisa terus berkembang. Hidup lebih menarik dan penuh tantangan baru. Peluang lebih banyak terbuka. Rezeki alhamdulillah bertambah, baik yang bisa dukur secara nominal atau pun tidak.

Sayang bila secara gamblang dikaitkan ke “net worth”, khawatirnya bisa terpancing menjadi selektif untuk memilih teman. Selektif memilih pergaulan. Dan juga, selektif dalam membina relasi. Padahal, belum tentu relasi-relasi hi-profile adalah yang paling akan membantu hidup kita. Sering penulis dibantu oleh relasi yang weak-ties, dan malah memberikan manfaat lebih besar bagi penulis. Tapi, relasi-relasi yang hi-profile? Belum tentu membantu. Padahal, penulis ada aja di HP nomor kontak pribadi mulai dari abang nasi goreng dekat kosan, Walikota, Menteri-Menteri, dan juga CEO dari beberapa perusahaan multinasional.

Namun, apakah orang-orang penting itu membantu? Justru tidak. Malah ada kenalan yang hanya junior penulis, justru menjadi salah satu partner bisnis karena dulu penulis pernah “membukakan” jalan untuk tugas akhirnya (hanya memberikan rekomendasi dan file). Ada pemilik dari konsultan besar di Indonesia, yang pernah membantu usaha penulis dengan memberikan proyek, hanya karena dulu pernah menemani makan gorengan (saat makan gorengan, gak tahu itu siapa). Mereka adalah weak-ties yang tercipta karena membantu tanpa pamrih.

Bingung sih, kenapa orang sekarang lebih senang eksis atau bangga kenal dengan orang-orang yang katanya penting. Tapi, justru malah melupakan keluarga, teman, dan juga orang-orang yang sebetulnya lebih butuh dibantu. Dan manfaatnya bagi kita masing-masing, akan lebih berharga untuk jangka panjang. Katanya: bantulah yang paling dekat, bantulah sebisanya, dan jangan menunda untuk memberikan bantuan.

Semoga kita semua bisa saling membantu ya.