Archive

Posts Tagged ‘Bisnis’

Restoran

23/07/2017 Leave a comment

Sedih melihat tempat makan yang dulu menyenangkan, sekarang terlihat hidup segan mati tak mau.

Bisnis restoran memang sadis. Entah siapa pun yang bilang, katanya restoran yang setelah dua tahun tidak bisa membuat inovasi baru dari jenis makanan atau perubahan tempat, akan mati. Kecuali restoran yang rasanya memang valid dan tidak bisa sembarang ditiru baik dari rasa, atau pun rantai suplai dan distribusinya.

Mengambil pelajaran dari ini, pilihannya hanya dua. Harus kuat dan tidak bisa digoyang, atau terus berinovasi dalam menu dan manajemen. Bukan pilihan yang mudah memang.

Apa boleh buat, makanan jadi jenis industri yang over supply sih ya.

Categories: Coretan Tags: , ,

Network/th?

03/08/2016 Leave a comment

“Your network is your net worth” – Orang (katanya) sukses.

Percayakah dengan quote tersebut?

Penulis percaya-percaya-tidak. Mengapa? Penulis yakin betul memang silaturahmi membawa rezeki. Tapi, bila segitunya dikaitkan dengan kekayaan, bukankah jadinya malah hubungan yang sifatnya untung-rugi? Padahal “kaya” itu sendiri tidak selalu diukur dengan nominal.

Penulis sendiri mengamini bahwa dengan rajin menambah koneksi, berkenalan dengan orang baru, mengontak lagi teman lama, menemui kembali orang-orang yang pernah membantu penulis, adalah hal baik. Dan dengan melakukan hal tersebut, penulis merasa bahwa saat ini hidup jadi lebih beruntung dan bisa terus berkembang. Hidup lebih menarik dan penuh tantangan baru. Peluang lebih banyak terbuka. Rezeki alhamdulillah bertambah, baik yang bisa dukur secara nominal atau pun tidak.

Sayang bila secara gamblang dikaitkan ke “net worth”, khawatirnya bisa terpancing menjadi selektif untuk memilih teman. Selektif memilih pergaulan. Dan juga, selektif dalam membina relasi. Padahal, belum tentu relasi-relasi hi-profile adalah yang paling akan membantu hidup kita. Sering penulis dibantu oleh relasi yang weak-ties, dan malah memberikan manfaat lebih besar bagi penulis. Tapi, relasi-relasi yang hi-profile? Belum tentu membantu. Padahal, penulis ada aja di HP nomor kontak pribadi mulai dari abang nasi goreng dekat kosan, Walikota, Menteri-Menteri, dan juga CEO dari beberapa perusahaan multinasional.

Namun, apakah orang-orang penting itu membantu? Justru tidak. Malah ada kenalan yang hanya junior penulis, justru menjadi salah satu partner bisnis karena dulu penulis pernah “membukakan” jalan untuk tugas akhirnya (hanya memberikan rekomendasi dan file). Ada pemilik dari konsultan besar di Indonesia, yang pernah membantu usaha penulis dengan memberikan proyek, hanya karena dulu pernah menemani makan gorengan (saat makan gorengan, gak tahu itu siapa). Mereka adalah weak-ties yang tercipta karena membantu tanpa pamrih.

Bingung sih, kenapa orang sekarang lebih senang eksis atau bangga kenal dengan orang-orang yang katanya penting. Tapi, justru malah melupakan keluarga, teman, dan juga orang-orang yang sebetulnya lebih butuh dibantu. Dan manfaatnya bagi kita masing-masing, akan lebih berharga untuk jangka panjang. Katanya: bantulah yang paling dekat, bantulah sebisanya, dan jangan menunda untuk memberikan bantuan.

Semoga kita semua bisa saling membantu ya.

Co-Working Space

19/07/2016 Leave a comment

Bisnis Co-Working Space semakin marak di Indonesia, khususnya kota Bandung. Dan yang paling menarik, bahkan ada suatu Co-Working Space yang membanugn gila-gilaan di jalan Dago. Tempatnya mewah, dan didesain dengan baik. Tentunya ada kompensasi harga yang mahal.

Kalau dilihat lagi, mengapa terjadi pertumbuhan co-working seperti ini? Penulis ingin coba berbagi pandangan dari sudut pandang pelaku usaha kecil.

Ya, dalam membangun usaha tentunya butuh modal. Dan modal pertama yang harus diputar, tentunya adalah untuk SDM dan infrastruktur. Sebelum yang lain-lain. SDM yang paling dasar adalah founder, yang kadang tidak mengambil gaji. Sedangkan untuk intrastruktur, yang paling dasar adalah tempat untuk bekerja. Entah untuk “front-end” seperti kantor, atau “back-end” seperti dapur atau workshop.

Tapi, sayangnya harga untuk kedua hal tersebut sangat mahal bila dijalankan langsung di level profesional. Sedangkan, entrepreneur biasanya memulai tanpa modal. Tidak jarang setelah satu tahun baru ada penghasilan yang berputar, atau baru setelah satu tahun bisa punya tempat kerja. Dan co-working space ini, memberikan solusi “tengah”. Ya, harga co-working space sangat masuk akal bagi yang baru memulai usaha. Dan juga, bekerja di co-working space tidak bisa dihitung sebagai ilegal-ilegal amat. Masih bisa “dibantu” dari yang membuat co-working tersebut.

Sayang, bagi co-working juga suka ada masalah lain. Rata-rata bisnis yang berjalan dengna menyewa co-working, tidak begitu stabil. Sehingga, sering terjadi “turnover” dari penyewa tenant yang sangat tinggi. Dan juga, terkadang ketika bisnis sudah mulai berkembang, penyewa tenant agak malas untuk bekerja di tempat “open space”, lebih senang di tempat yang privat.

Bagaimana pun juga, semoga bisnis co-working ini bisa terus berkembang dan memberikan solusi bagi pengusaha-pengusaha kecil.

Bandung atau Jakarta?

30/11/2015 Leave a comment

jakartabandung

Jakarta dan Bandung adalah dua kota yang paling seksi bagi anak IT saat ini. Bila ditanya mau kerja di mana setelah lulus atau mau menghabiskan waktu di mana selama hidup, biasanya anak IT di Indonesia akan menjawab mau di Jakarta atau mau di Bandung. Lucu memang, mengapa ya hanya dua kota ini?

Saya sendiri tidak tahu mengapa Jakarta dan Bandung adalah pilihan bagi anak IT kekinian. Kalau kata mentor saya, Jakarta dan Bandung itu memiliki peluang. Bila anak IT ingin memiliki uang yang banyak, pergilah ke Jakarta. Bila anak IT ingin membangun hal yang keren, pergilah ke Bandung. Jakarta memiliki iklim yang kompetitif dalam bisnis, sedangkan Bandung memiliki kultur yang sangat kuat untuk memancing inovasi.

Mungkin karena itu ya cukup banyak startup IT yang memulai dari Bandung?