Archive

Posts Tagged ‘belajar’

Asah Pisau

18/10/2016 Leave a comment

Setiap waktu dari hidup selayaknya digunakan untuk belajar. Ya, ngomong memang gampang. Tapi, pelaksanannya sulit bukan main.

Ketika sudah mengambil jalan masing-masing di dalam karir, suasana belajar jadi semakin liar. Seperti pada tulisan sebelumnya, semua jadi harus belajar semua. Artinya tidak ada lagi path yang betul-betul tegas selayaknya kurikulum dalam dunia akademik. Untuk menyiasati ini pun, kadang juga bingung bila tidak benar-benar memahami dan komitmen terhadap suatu hal.

Dan juga, sepertinya di era informasi seperti sekarang segala hal sudah ada dan bisa dipelajari. Buku sudah semakin banyak yang bisa dibaca dan diunduh. Artikel semakin banyak bisa dipelajari dengan gratis. Berita? Hampir tiap detik situs berita di seluruh dunia melakukan update berita. Artinya ilmu sudah banyak sekali dimana-mana dan semua orang memiliki kesempatan belajar yang cukup sama bila mau.

Lalu, apakah itu semua harus dipelajari? Memiliki umur 200 tahun pun belum tentu sempat mempelajari itu semua. Makin banyak tahu, rasanya makin melihat bahwa kita saat ini bukan apa-apa, tidak bisa mempelajari semuanya, dan terbatas pengetahuannya. Betul apa yang diajarkan dalam Al-Quran bahwa ilmu manusia hanya setetes dari seluruh air yang ada di lautan. Itu pun bila bisa menghabiskan seluruh air di lautan, maka ilmu Allah adalah sebanyak lautan lagi. Artinya umur berapa pun tidak akan sanggup memahami apa isi alam semesta ini.

Yah, kita hanya bisa mengasah ketajaman pisau kita masing-masing.

Makin Ekstrim

12/10/2016 Leave a comment

Percayalah, belajar yang paling enak itu adalah sesuai kurikulum. Sudah ada track jelasnya, sudah ada jalurnya, sudah ada bahan apa saja yang mau dipelajari.

Ketika belajar sendiri, tanjakannya makin ekstrim. Ketika menghadapi berbagai hal, apalagi membangun tim yang independen, rasanya semua harus belajar semua. Di tahap awal pasti masih sulit untuk membagi jobdesk dari masing-masing. Semua pusing mempelajari ini itu. Belum lagi mencari bahannya, kadang tidak ketemu. Belum lagi kalau tidak tahu arahnya ke mana, akhirnya meniti jalan satu demi satu. Dan tantangan terbesarnya bukanlah waktu yang sedikit, malah mungkin lebih banyak ketimbang berkuliah. Tapi, dalam perjalanan ini yang paling chaos adalah ketika tidak disiplin belajar. Tidak konsisten menginvestasikan waktu untuk menambah ilmu baru setiap harinya. Alhasil, jadinya momentum turun, ilmu yang dipelajari tidak maksimal, seiring berjalannya waktu terlupa, dan jadi tidak diterapkan di kasus yang dihadapi.

Yah, memang sih yang paling ekstrim untuk belajar seiring bertambahnya umur adalah faktor self-disciplined.

Kehilangan Kemampuan Coding

01/02/2016 Leave a comment

lostprog

Pernah gak sih anda merasakan kehilangan kemampuan akan sesuatu? Seperti tidak bisa naik sepeda lagi, lupa cara berenang, tidak bisa mengerjakan soal kalkulus, dsb.

Dalam kasus saya, kehilangan kemampuan ini terjadi pada skill coding, skill untuk membuat program atau aplikasi dengan menuliskan kode-kode pemrograman. Jadi ingat dulu ketika kuliah, nilai-nilai kuliah pemrograman saya berderet antara A atau AB. Namun, seiring berjalannya waktu dan asyik dengan hal non-teknikal, entah mengapa jadi kagok ketika ngoding lagi. Dan, setelah dibiarkan cukup lama, alhasil tidak bisa lagi. Mungkin kasus ini mirip ketika sudah lama tidak berkutat dengan matematika, jadi tidak bisa mengerjakan soal integral dan diferensial, bahkan harus mengulang dari limit lagi agar bisa lancar bergelut dengan soal.

Bila ingin mengembalikan kemampuan coding ini, kira-kira butuh waktu berapa lama ya?

Mungkin dari pengunjung juga ada yang mengalami?

Makin Tidak Tahu

12/10/2015 Leave a comment

padi

Semakin kita belajar, semakin kita tidak tahu. Padi semakin berisi, semakin merunduk.

Peribahasa atau pun pesan tersebut rasanya sudah didengungkan sejak kecil. Hampir semua dari kita mungkin pasti memahami maknanya. Namun, berat rasanya setelah mengetahui bahwa pengetahuan yang kita miliki hanya sedikit. Semakin belajar, semakin tahu bahwa kita tidak tahu. Semakin yakin bahwa ilmu yang dimiliki-Nya di semesta ini tidak terbatas, sedangkan pengetahuan kita sangat terbatas. Kalau pun memiliki kesempatan untuk belajar, tentu umur kita sangat terbatas untuk mempelajari segala hal.

Hal ini betul-betul dirasakan ketika saya dan tim iseng membuat tim developer (yang motif utamanya bereksperimen). Di dalam tim ini, kami melakukan validasi terhadap skema kerja dan pertumbuhan tim dengan cara mendata apa pun yang dilakukan dengan durasi yang dibutuhkan untuk masing-masing kegiatannya. Menarik juga apa yang ditemui. Data sejauh ini yang direkap bersamaan dengan keberjalanan tim menunjukkan bahwa jam kerja kami sebagai orang Indonesia hanya efektif sebanyak 3-5 jam per harinya dari waktu optimal sebanyak 8 jam setiap harinya.

Dari pengumpulan data dan validasi skema kerja tim juga kami merasakan bahwa kemampuan kami sangat terbatas. Boro-boro mencapai 10.000 jam untuk menjadi seorah ahli atau profesional dalam bidang, mencapai waktu optimal dalam bekerja seharinya saja hanya 3-5 jam. Itu pun belum tentu dalam 3-5 jam tersebut semuanya dipakai untuk menyelesaikan kasus di bidang terkait atau meningkatkan kemampuan.

Ketika durasi tersebut perlahan ditambah, ada ketidaknyamanan dari perubahan cara kerja yang dilakukan tanpa sadar selama ini. Betul memang bahwa di era sekarang jam kerja tidak relevan. Perusahaan atau pun instansi lebih berorientasi kepada target atau hasil. Silakan gunakan jam kerja berapa lama pun, asal pekerjaan selesai sesuai target. Namun, di sisi lain ada rasa ngeri bahwa saat ini pertumbuhan kemampuan yang merupakan bentuk lebih detil dari realisasi mengejar cita-cita tenyata di bawah standar. Jangankan mengejar level dunia, untuk level lokal saja ada kengerian bahwa kemampuan kami mungkin berada di bawah standar industri.

Saya pribadi yakin bahwa di balik proses yang baik, pasti akan ada hasil yang baik. Dan ketika target tecapai namun proses tidak diperhatikan, bisa jadi proses yang dilakukan tidak baik dan manfaatnya hanya sesaat. Yah, walaupun memang sulit sih untuk mengejar proses dan hasil sekaligus ketika berada pada deadline yang tidak terantisipasi dengan baik.

Mungkin karena itu ya umat islam diajarkan dan diingatkan oleh-Nya melalui surat Al-Ashr (tentang waktu).

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Categories: Coretan Tags: , , , , ,

Manajemen Waktu, Pikiran dan Hati

29/05/2012 Leave a comment

aplikasiergonomi.wordpress.com

 

Di tengah hiruk pikuknya kehidupan sehari-hari, kita biasanya dituntut untuk dapat mengerjakan banyak hal dalam waktu yang tidak banyak. Ketika menghadapi situasi seperti ini, tentunya kita butuh memanage diri kita supaya bisa memberikan hasil yang optimal dalam setiap apa  yang kita kerjakan. Tak jarang orang yang sukses dalam kehidupan adalah orang yang bisa memanage dirinya dengan sangat baik.

Namun, terkadang sehebat apa pun seseorang sering sekali menemui masalah manajemen diri dalam hidupnya. Dari pengalaman pribadi, saya menjabarkan manajemen diri ini melingkupi tiga hal. Yang pertama adalah manajemen waktu dimana kita harus mengoptimalkan setiap waktu yang kita gunakan. Kemudian yang kedua adalah manajemen pikiran dimana kita harus bisa mengatur pikiran kita dengan baik ketika dituntut menyelesaikan berbagai keperluan dalam waktu terbatas. Dan terakhir adalah manajemen hati dimana kita harus memanage hati kita untuk tetap ikhlas dan menyenangi apa yang kita kerjakan.

Manajemen Waktu

Manajemen waktu menurut pemahaman saya adalah kemampuan seseorang untuk mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga bisa mengerjakan seluruh keperluan yang dia miliki dalam waktu tertentu. Intinya adalah optimasi waktu, memanfaatkan setiap waktu yang ada dengan optimal sehingga tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia.

Dari pengamatan saya selama kuliah, biasanya mahasiswa yang berprestasi dalam banyak hal adalah mahasiswa yang mampu mengatur waktunya dengan sangat baik. Dan juga, biasanya mahasiswa yang “terjatuh” baik dalam akademis atau pun non-akademis adalah mahasiswa yang punya manajemen waktu buruk.

Manajemen Pikiran

Manajemen yang kedua adalah manajemen pikiran. Bagi saya pribadi, ranah manajemen pikiran ini adalah yang paling sulit. Mengapa sulit? Di zaman modern ini, kita bisa memanage waktu dengan bantuan alat atau pun dengan bantuan sekretaris (di kantor atau organisasi).

Namun, bagaimana dengan pikiran? Menurut saya pikiran tidak bisa dimanage dengan alat apa pun. Contoh mudah, biasanya kita akan sulit untuk tetap fokus  saat rapat atau mengerjakan tugas ketika esok harinya ada ujian akhir semester yang materinya belum dikuasai. Butuh kemampuan yang terlatih untuk bisa mengatur pikiran kita agar tetap fokus ketika dihadapkan dengan tumpukan tugas atau pekerjaan.

Manajemen Hati

Yang terakhir adalah manajemen hati. Menurut saya, manajemen hati ini adalah tingkatan yang menentukan kualitas pribadi seseorang. Di sekitar kita, banyak orang yang tidak mau mengerjakan hal yang tidak disukai. Namun, dalam kehidupan, saya yakin setiap manusia akan menemui hal yang tidak disukai setiap harinya. Di sinilah kita dituntut untuk dapat memanage hati kita untuk tetap menyenangi dan ikhlas dalam menjalani sesuatu. Contohnya, berusaha datang ke undangan dari orang lain meskipun kita sedang sibuk mengerjakan tugas. Atau tetap menjaga waktu belajar ketika banyak godaan untuk bermain, dsb.

IMO, Banyak orang yang sukses dari managemen waktu dan pikiran yang baik. Namun, saya jarang melihat ada banyak orang yang memiliki kualitas diri sebagai seorang pemimpin tanpa dilengkapi dengan kemampuan manajemen hati.

Ada teman bijak yang mengatakan bahwa bila kita hanya mau memimpin apa yang kita suka, kita hanya berada dalam level koordinator. Untuk menjadi pemimpin kita harus mampu memimpin apa yang belum tentu kita suka demi kebaikan bersama.

Semakin dewasa, makin banyak tantangan hidup yang harus dihadapi setiap harinya. Dahulu ketika kecil kita biasa dibimbing oleh orang tua kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, seiring dengan bertambahnya umur kita tidak bisa mengelak untuk bisa mengatur diri kita sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Kita harus mampu untuk mengoptimalisasikan diri kita di tengah waktu dan sumber daya yang terbatas.

Sekian sharing pengalaman saya. Semoga tulisan ini bisa menjadi evaluasi pribadi dan juga bermanfaat bagi teman-teman pembaca. 🙂

Categories: Coretan Tags: , , , ,

Semester yang Luar Biasa

26/12/2011 2 comments

Semester lima di ITB akhirnya selesai juga. Kalau diingat-ingat, semester ini merupakan semester yang paling banyak memberi kejutan bagi saya selama di kampus. Mulai dari tugas yang menuntut profesionalitas tinggi, beban akademik yang menuntut untuk semakin fleksibel dalam belajar, momen baru di organisasi yang saya ikuti, dan juga berbagai hal lain yang pokoknya ga biasa deh di semester ini.

Dari sekian banyaknya momen yang saya lalui di semester kemarin, ada dua hal yang paling membekas di pikiran saya. Hal yang pertama adalah beban kuliah tentunya. Ternyata kalau selama ini ada yang bilang jurusan IF ITB itu sibuknya ga ada duanya sama jurusan mana pun ada benarnya. Bayangkan saja, saya mengambil 6 mata kuliah semester ini dimana masing-masing mata kuliah ada lebih dari satu tugas besar. Satu tugas besar aja udah ribet ngerjainnya, apalagi ada paling nggak dua tiap mata kuliah. Bahkan sekarang saya rasanya nggak percaya masih hidup sebagai anak IF setelah melalui semester ini. 😛

Buat yang belum tau, tugas besar di IF ITB itu agak-agak mirip proyek. Spesifikasinya jauh lebih banyak dari tugas biasa. Tugas ini juga membutuhkan manajemen proyek, pembagian tugas, dan pengerjaannya yang udah mirip kayak proyek beneran deh. (Ada perancangan hingga implementasi).

Kemudian, yang kedua yang paling berkesan bagi saya adalah saat dimana saya memiliki anggota baru dalam divisi saya di HMIF (Himpunan Mahasiswa Informatika) ITB. Rasanya sangat menyenangkan ketika mendapatkan teman kerja dalam organisasi selama satu kepengurusan. Apalagi divisi tempat saya bekerja (divisi intrakampus) di Himpunan merupakan divisi yang bisa dikatakan paling sibuk dan membutuhkan konsistensi tinggi dalam bekerja.  Memiliki teman-teman dan adik-adik yang selalu saling membantu setiap saat dalam bekerja tanpa sadar membentuk rasa kepemilikan yang tinggi dalam divisi kami. Dan mungkin momen kekeluargaan inilah momen yang paling berkesan selama saya berorganisasi.

Well, yeah. Banyak kenangan dan momen berharga yang tak bisa saya lupakan. Bagaimana pun juga semester lima yang penuh kejutan ini telah berakhir, dan merupakan awal dari semester baru. Rasanya tidak sabar untuk menanti semester enam di ITB. 🙂

Nb: Doakan nilai penulis di semester lima ini lebih baik dari semester sebelumnya ya. Hehe. 🙂

Categories: Coretan Tags: , , , ,

Being Fluent in Multiple Languages

04/11/2011 Leave a comment

Dalam kehidupan sehari-hari, belajar bahasa sebenarnya tidak begitu sulit. Prinsip dasar dari seluruh bahasa yang ada di dunia biasanya mirip-mirip. Namun, kelancaran seseorang dalam berbahasa sangat ditentukan oleh seberapa sering ia menerapkan ilmu bahasanya dalam kehidupan. Dan kendala terbesar dalam berbahasa asing adalah tidak begitu banyak orang-orang yang tinggal di sekitar kita menguasai bahasa tersebut, sehingga berlatih bahasa asing terkadang menjadi kendala tersendiri bagi sebagian orang.

Belum lama ini, saya menemukan website yang menarik untuk mempelajari bahasa asing. Website ini menyediakan lebih dari 30 bahasa untuk dipelajari. Dan tidak hanya itu, website ini juga menyediakan berbagai media dan resource untuk belajar bahasa seperti melalui visual, audio, teori, tata bahasa, hingga praktek menulis dan berbicara secara online.

Saya tidak memiliki banyak teman yang menguasai bahasa Inggris, Arab, Jepang dan Jerman sebagai bahasa asing yang selama ini saya pelajari. Dan begitu mencoba livemocha.com, saya langsung tertarik dan bisa dibilang “jatuh cinta” terhadap website ini.

Tertarik mencoba?

Silahkan buka di link ini: http://www.livemocha.com

Semoga bermanfaat. 🙂