Archive

Posts Tagged ‘Agama’

Pilkada Berisik

19/11/2016 Leave a comment

Ahok ini betul-betul membuat fenomena ya. Hanya dengan satu kalimatnya yang ceroboh, bangsa ini fokusnya langsung tertuju kepada doi baik yang pro maupun yang kontra. Suka tidak suka, harus dikatakan bahwa Ahok ini punya kapasitas sebagai pemimpin, terlepas dari doi layak atau tidak sebagai pemimpin DKI Jakarta. Ya, layak dan punya kapasistas adalah hal yang berbeda.

Beberapa hari terakhir timeline ribut karena Ahok telah dijadikan tersangka. Lagi-lagi masyarakat ribut, karena secara psikologi warga DKI akan selalu pusing dengan kondisi kotanya. Mulai dari macet, banjir, harga makanan mahal, kemana-mana susah, belum lagi sikut-sikutan di tempat kerja, dan lain sebagainya. Alhasil, hal ini membuat masyarakat berharap banyak dari pemerintah yang telah dititipkan iuran pajak untuk berbuat sesuatu. Dan pemilihan kepala daerah pun, akan menjadi sesuatu yang seksi setiap lima tahun sekali. Tidak hanya ramai bagi warga DKI, tapi juga ramai bagi nasional.

Yang jadi masalah di sini adalah, Jokowi dan Ahok pada tahun 2012 telah berhasil “menangkap” apa yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta. Waktu itu incumbent Foke sebagai Gubernur DKI tidak berhasil memberikan pesan bagi masyarakat Jakarta. Warga Jakarta membutuhkan pemimpin yang selalu tampil dan dekat sehingga ada rasa ketenangan bagi warga. Hal tersebut tidak terlihat pada saat Foke nyagub. Jokowi dan Ahok berhasil memberikan pesan “Jakarta Baru”, yaitu suasana yang sudah bosan karena warga stres dengan kondisi Jakarta yang semerawut.

Nah, berjalan lima tahun terakhir ditambah Jokowi menjadi presiden, warga Jakarta saat ini kembali dengan suasana stres. Kali ini, warga Jakarta merasa kalau kota tidak begitu banyak perubahan. Warga masih stres dengan banjir dan macet. Pergi pagi dan pulang malam di Jakarta, selalu membawa kelelahan. Dan dengan perasaan warga demikian, harusnya Ahok sebagai incumbent bisa menang dengan mudah. Mengapa? Walaupun perubahan tidak banyak, tapi di sini Ahok justru menghadirkan sesuatu yang berberda. Birokrasi yang terbuka (walaupun korupsi masih banyak), adanya pasukan yang langsung turun ke warga, adanya pembangunan dan pembersihan kali, juga sampai penggusuran yang walaupun kontroversial tapi tetap dinilai perubahan bagi warga yang tidak merasakan.

Namun, sekarang Ahok justru diserang isu agama. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Bila dilihat dari sudut pandang kontekstual, kalimat Ahok terkait surat Al-Maidah ayat 51 adalah penistaan. Walaupun secara sintaksis bahasa tanpa melihat konteks, hal tersebut bukanlah penistaan. Dan reaksi yang disebabkan oleh Ahok ini, membuat cukup besar warga muslim yang malas dengan Ahok. Jumlahnya berapa banyak? Yah, lumayan untuk bisa menurunkan elektabilitas Ahok dari yang awalnya 50an persen, sekarang hanya tinggal 20an persen. Bisa dikatakan sama dengan kedua calon yang lain.

Nah, dengan tingkat elektabilitas yang sama tersebut, Ahok justru dijadikan tersangka. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi Ahok untuk tidak mendapatkan suara tambahan agar bisa bersaing dengan calon yang lain, atau justru malah bertambah?

Kalau penulis melihat dalam setiap kampanye yang penting adalah pesan yang dibawa tersampaikan. Dan pesan yang dimaksud di sini, adalah pesan yang diterima di masyarakat. Di luar dugaan (atau mungkin masih dalam dugaan), Ahok saat justru mengikuti proses hukum tanpa pra-peradilan. Entah kemungkinannya menang atau kalah, dapat dikatakan pesan yang sampai ke masyarakat saat ini adalah: Ahok konsisten terhadap penegakkan hukum, dirinya bersalah, meminta maaf, mengaku, dan mengikuti proses pengadilan.

Penulis pribadi melihat dijadikannya Ahok tersangka justru malah membuat pesan yang ingin disampaikan Ahok sampai ke masyarakat. Pesan bahwa dirinya tetap kerja sebagai gubernur, dan taat pada proses hukum. Pesan yang masih sama dengan tahun 2012, menghadirkan suasana birokrasi baru di DKI Jakarta.

Artinya, saat ini Ahok kembali mengejar dan mungkin malah bisa menyusul dua calon yang lain terlepas dari statusnya sebagai tersangka. Isu agama melemahkan elektabilitas Ahok hingga turun di angka sekitar 20 persen, tetapi di lain sisi justru malah melemahkan pesan kampanye yang ingin disampaikan calon lain. Pesan yang ingin disampaikan oleh Anies-Sandiaga terdengar sebagai “Jakarta humanis”, negasi dari Ahok. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan oleh Agus-Sylvi, lebih terdengar sebagai “asal bukan Ahok”. Jujur saja, walaupun penulis tidak begitu pro Ahok, tapi pesan dari Anies-Sandiaga terasa jadi lemah karena derasnya isu agama. Sedangkan bagi Agus-Sylvi, pesan tersebut bisa menjadi bumerang bila tidak hati-hati dan tidak segera menemukan fokus pesan yang ingin disampaikan dalam kampanye. Apalagi, dengan calon yang hanya tiga maka akan semakin sulit bila kampanye dilakukan dengan mekanisme “money politics”.

Yah, bila terus berlanjut seperti ini sih penulis sangsi Ahok akan terkalahkan. Isu agama memang telah mengikis elektabilitas Ahok, tapi justru di lain sisi membuat pesan kampanye dari kedua calon lain semakin lemah. Ya, bahkan tidak bunyi sama sekali di media konvensional, dan media online, juga media sosial.

Tapi ya sudah lah ya, toh pilkada masih lama. Dan di luar itu, untuk tahun 2017 nanti sepertinya penulis sudah mulai tidak akan berpartisipasi di Pilkada DKI.

Hahaha.

Dikotomi Para Alim

25/10/2015 Leave a comment

paraalim

Terdapat orang alim dan pendosa di dunia ini. Begitu pula lingkungannya, terdapat lingkungan alim dan lingkungan pendosa di dunia ini. Ketika mereka semua beririsan, tentunya akan tercipta empat kombinasi, yaitu:

  • Orang alim yang tinggal di lingkungan alim.
  • Orang alim yang tinggal di lingkungan pendosa.
  • Pendosa yang tinggal di lingkungan alim.
  • Pendosa yang tinggal di lingkungan pendosa.

Arah tulisan ini adalah mengenai kebingungan saya terhadap stigma dakwah yang terasa hanya untuk orang alim. Mungkin wajar ketika orang alim cenderung lebih nyaman untuk tinggal di lingkungan alim. Semakin lama, orang alim akan berkumpul dengan orang alim. Mencari lingkungan baru yang nyaman karena ada kesamaan satu sama lain. Termasuk para pendakwah yang kebanyakan orang alim, mereka banyak bergaul dengan sesama orang alim.

Pertanyaannya, bila terus menerus seperti itu bagaimana dengan para pendosa atau lingkungan pendosa?

Orang alim yang tinggal di lingkungan pendosa semakin lama merasa tidak ada teman, sehingga meninggalkan lingkungan tersebut. Kemudian, pendosa yang berada di lingkungan alim juga semakin lama tidak nyaman dan berkumpul ke lingkungan pendosa, walaupun ada sih beberapa yang taubat.

Dakwah yang berada di TV tiap subuh atau akhir minggu terkesan didesain untuk segmen keluarga yang bisa menerima ajaran dakwah. Ceramah keagamaan selalu berada di masjid-masjid yang tentunya hampir tidak mungkin para pendosa punya keinginan mendekatinya. Lalu, para kyai di Indonesia identik dengan habitatnya yang endemik di pedesaan, khususnya di pesantren.

Lalu, bagaimana dengan moral para wanita yang menjajakan dirinya di lokalisasi? Bagaimana para pemabuk di bar-bar? Bagaimana para pezina di hotel-hotel? Siapa yang merangkul mereka untuk memahami ajaran kebaikan dan standar moral masyarakat? Masih adakah para pendakwah atau kyai yang ingin turun ke tempat-tempat yang katanya tidak bermoral tersebut kemudian merangkul para pendosa?