Membagi Pikiran

12/10/2016 Leave a comment

Ketika begitu banyak pesan dan notifikasi yang masuk ke HP dan email, rasanya sangat pusing sekali. Kalau harus di-follow-up saat itu juga, bisa bahaya karena artinya merusak jadwal kerja yang telah dibuat dan agenda-agenda yang harusnya dibereskan. Tapi kalau tidak di-follow-up, bisa jadi malah akan lupa, tertumpuk, dan akhirnya menjadi sampah setelah sekian lama. Masih untung kalau begitu, lha kalau orangnya jadi kecewa karena ada komunikasi yang tidak direspon?

Mengakali hal ini, penulis mencoba sedikit mengadaptasi konsep “indirection layering”. Ya, ada yang bilang bahwa hampir segala masalah di urusan Computer Science bisa diselesaikan dengan “another layering of indirection”. Seperti untuk pemrosesan bahan di pabrik, pastinya ada bahan mentah, bahan setengah jadi, dan bahan jadi. Untuk di data, ada yang bersifat RAW, ada yang bersifat pre-proses, ada yang sifatnya view dan bisa langsung diakses dari front-end. Kemudian untuk data warehousing sendiri, terbagi menjadi layer transaksional yang menumpuk transaksi, juga layer analytical yang lebih memproses data-data yang terkumpul menjadi insight dan bisa digunakan untuk keperluan lain.

Dalam urusan mengelola komunikasi dan notifikasi, penulis membuat SOP pribadi ketika ada pesan atau pun notifikasi yang masuk, maka itu hanya akan dibaca saja. Maksudnya, hanya dilihat notifikasinya kemudian di-clear. Dengan melakukan ini, maka penulis akan mendapatkan seluruh insight dari notifikasi yang masuk. Setidaknya, penulis sudah memahami apa yang terjadi dan bisa mendapatkan abstraksi untuk membalasnya di waktu yang lebih senggang.

Setelah berjalan sekian lama dan telah memiliki waktu senggang, biasanya penulis mengalokasikan waktu sendiri mungkin sekitar 30 menit untuk membalas seluruh pesan yang masuk. Karena insight-nya sudah terekam di kepala, konsep pun juga sudah ada untuk membalas, jadi penulis bisa lebih cergas membalasnya. Dan juga, untuk membalas ini bisa lebih efisien karena fokus hanya di waktu yang dialokasikan tersebut.

Di era seperti ini, informasi yang masuk ke masing-masing dari kita sangat masif. Bila tidak mengolahnya dengan responsif, beresiko mengecewakan orang yang ingin berhubungan dengan kita. Namun, bila terlalu responsif mengolahnya, beresiko membunuh produktivitas karena membalas pesan butuh energi dan fokus.

Siapa tahu dari yang lewat di sini bisa mendapat insight. Atau mungkin ada yang mau membagikan metode lain?

Network/th?

03/08/2016 Leave a comment

“Your network is your net worth” – Orang (katanya) sukses.

Percayakah dengan quote tersebut?

Penulis percaya-percaya-tidak. Mengapa? Penulis yakin betul memang silaturahmi membawa rezeki. Tapi, bila segitunya dikaitkan dengan kekayaan, bukankah jadinya malah hubungan yang sifatnya untung-rugi? Padahal “kaya” itu sendiri tidak selalu diukur dengan nominal.

Penulis sendiri mengamini bahwa dengan rajin menambah koneksi, berkenalan dengan orang baru, mengontak lagi teman lama, menemui kembali orang-orang yang pernah membantu penulis, adalah hal baik. Dan dengan melakukan hal tersebut, penulis merasa bahwa saat ini hidup jadi lebih beruntung dan bisa terus berkembang. Hidup lebih menarik dan penuh tantangan baru. Peluang lebih banyak terbuka. Rezeki alhamdulillah bertambah, baik yang bisa dukur secara nominal atau pun tidak.

Sayang bila secara gamblang dikaitkan ke “net worth”, khawatirnya bisa terpancing menjadi selektif untuk memilih teman. Selektif memilih pergaulan. Dan juga, selektif dalam membina relasi. Padahal, belum tentu relasi-relasi hi-profile adalah yang paling akan membantu hidup kita. Sering penulis dibantu oleh relasi yang weak-ties, dan malah memberikan manfaat lebih besar bagi penulis. Tapi, relasi-relasi yang hi-profile? Belum tentu membantu. Padahal, penulis ada aja di HP nomor kontak pribadi mulai dari abang nasi goreng dekat kosan, Walikota, Menteri-Menteri, dan juga CEO dari beberapa perusahaan multinasional.

Namun, apakah orang-orang penting itu membantu? Justru tidak. Malah ada kenalan yang hanya junior penulis, justru menjadi salah satu partner bisnis karena dulu penulis pernah “membukakan” jalan untuk tugas akhirnya (hanya memberikan rekomendasi dan file). Ada pemilik dari konsultan besar di Indonesia, yang pernah membantu usaha penulis dengan memberikan proyek, hanya karena dulu pernah menemani makan gorengan (saat makan gorengan, gak tahu itu siapa). Mereka adalah weak-ties yang tercipta karena membantu tanpa pamrih.

Bingung sih, kenapa orang sekarang lebih senang eksis atau bangga kenal dengan orang-orang yang katanya penting. Tapi, justru malah melupakan keluarga, teman, dan juga orang-orang yang sebetulnya lebih butuh dibantu. Dan manfaatnya bagi kita masing-masing, akan lebih berharga untuk jangka panjang. Katanya: bantulah yang paling dekat, bantulah sebisanya, dan jangan menunda untuk memberikan bantuan.

Semoga kita semua bisa saling membantu ya.

Nge-Bing Sedikit

03/08/2016 Leave a comment

Beberapa hari yang lalu, penulis membutuhkan Internet Explorer di WIndows 8.1 untuk membuka sesuatu. Mengapa tidak dengan Firefox atau Chrome yang lebih populer? Karena butuh. Itu saja. Bukan karena penulis hipster.

Ya, biasanya kalau menggunakan si rubah atau si lencana, kita akan disodorkan pada bagian klik kanan fitur untuk melakukan pencarian di Google Search. Hal yang sangat biasa di era sekarang untuk mencari informasi dari Google Seaarch.

Tapi, bagaimana di IE? Di sana fitur yang disediakan adalah mencari dengan Bing.

Hahaha hahaha hahaha.

Ya, penulis tempo hari tertawa keras dalam hati. Mengapa harus menggunakan Bing ketika sudah terbiasa dengan Google. Belum lagi dari pencarian itu sendiri diintegrasikan ke profil akun kita, sehingga pencarian akan lebih customized. Bing tertinggal langkah sangat jauh menurut penulis.

Tapi ada hal menarik di sini, ternyata hasil pencariannya cukup berbeda. Urutan hasilnya berbeda. Dan juga, bagaimana cara menampilkannya berbeda. Menarik ya, bisa melihat sudut pandang yang lain dari yang selama ini biasa didapatkan. Ternyata gak jelek-jelek amat, dan rasanya seperti melihat dunia dari “jendela” yang berbeda. Walaupun hasilnya tidak sebaik yang biasa digunakan dan sepertinya tidak akan menggunakannya lagi untuk waktu lama.

Sekali lagi,

Hahaha.

Komprehensi

02/08/2016 Leave a comment

Terlalu banyak informasi yang beredar di era sekarang. Hampir tiap 5-10 menit selalu masuk notifikasi wahtsapp. Hampir tiap jam ada nada dering email di HP. Belum lagi grup Line yang isinya lebih banyak anak muda yang main-main dengan ekspresi stiker.

Apakah itu mengganggu? Iya.

Apakah itu harus dicuekin aja? Tentu tidak.

Jadi bagaimana?

Kalau penulis saat ini kangen dengan komprehensi akan suatu informasi. Dulu ketika penulis masih SD atua SMP, rasanya sangat sulit mencari info dan berita. Harus membaca koran tiap hari. Harus menunggu dibahas di diskusi-diskusi, baru dipahami. Tapi hasilnya, kejadian yang dulu sempat dibahas bersama teman-teman atau isu ketika SD dan SMP lebih menempel di kepala. Tidak seperti sekarang, langsung hilang begitu saja.

Maka dari itu, penulis saat ini cenderung membuka pesan-pesan dan notifikasi yang masuk tiap 2-3 jam sekali saja. Tidak langsung. Dan ketika membalas, memang mengalokasikan waktu di calendar dan to-do list secara khusus membalas semua notifikasi yang masuk. Penulis bukan tipikal yang senang bila terdistraksi ketika sedang wired-in dengan sesuatu. Selain itu, penulis juga bukan tipikal yang mending gak ngebales atau buka notifikasi karena malas. Rasanya seperti hutang yang menumpuk di kepala. Dan juga, rasanya pesan dicuekkin itu gak enak. Kalau pun ada yang berlaku seperti itu, penulis tidak ingin memperlakukan yang sama.

Jadi, mohon maaf ya bila ada yang pesannya dibalas lama atau gak gitu fast response. Tapi penulis pasti membalas semua pesan kok.

Konsekuensi era sekarang: Saking meluapnya informasi, komprehensi jadi sangat berharga.

Bandung Lebih Adem

02/08/2016 Leave a comment

Suhu Bandung dan Jakarta perbandingannya jauh sekali. Bisa beda 5-10 derajat celcius ketika dicek baik di pagi, siang, atau pun malam.

Dulunya penulis tinggal di Jakarta, tetapi saat ini sudah hampir 7 tahun berdomisili fulltime di Bandung. Pulang ke Jakarta paling kalau weekend atau ada acara saja. Atau ada keperluan terkait kerjaan. Ya, hampir seluruh hidup selama ini dihabiskan di Bandung.

Dulunya pertama kali tinggal di Bandung, di tahun pertama, hampir tiap malam kedinginan. Hampir selalu butuh selimut dan tidak kuat untuk tinggal tanpa selimut. Rasanya dinginnya Bandung sangat menusuk ketika itu. Sekarang? Sepertinya keluar pakai kaos malam-malam saja di Bandung, masih kadang ngomel panas atau keringetan.

Sulit rasanya untuk kembali ke Jakarta. Selain karena pertimbangan penulis pada beberapa tulisan sebleumnya, saat ini faktor alam juga berpengaruh. Secara fisik, penulis sudah terlalu terpengaruh dengan kondisi Bandung dan sulit pindah ke Jakarta. Memang sih, tinggal di Jakarta 1-2 bulan setelah itu akan terbiasa dengan panasnya dan justru malah akan kedinginan ketika ke Bandung. Tapi saat ini penulis bisa memilih opsi yang mana saja dari keduanya.

Jadi Bandung atau Jakarta? Yang pasti ogah deh digoreng tiap hari.

Haji atau Menikah?

01/08/2016 Leave a comment

Bagi seorang muslim, ada dua milestone besar dalam hidupnya terkait ibadah. Yaitu, menikah dan naik haji.

Belakangan, penulis bimbang mana yang harus lebih didahulukan antara menikah atau naik haji. Dasar hukum dari haji adalah wajib, kecuali ada hal yang menjadikan tidak mampu berangkat baik secara finansial, fisik, waktu, dll. Sedangkan dasar hukum dari menikah adalah sunnah, kecuali ada yang menaikkan derajat atau menurunkan derajat hukumnya. Misal bila untuk menjaga diri dan sudah tidak tahan, menjadi wajib. Sedangkan bila untuk berniat jelek, maka hukumnya menjadi haram.

Dari hasil diskusi dengan orang tua dan beberapa teman, dapat disimpulkan bahwa bila tidak ada klausul khusus maka jelas naik haji harus diutamakan dibanding menikah bagi seorang muslim. Namun, kenyataannya stigma yang harus diutamakan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia adalah menikah. Banyak yang sudah mampu secara finansial berhaji, tapi mengalihkan biayanya untuk menikah. Tidak salah, sah-sah saja karena ada klausul yang mungkin menaikkan keharusan menikah secara hukum.

Kadang, memang hukum agama perlu disesuaikan dengan kondisi sekitar. Untuk kasus di Indonesia, biaya menikah dan biaya haji di kota besar jauh lebih besar biaya menikah. Artinya, bila sanggup untuk menikah di kota besar, hampir tidak mungkin tidak bisa mendaftar haji. Setidaknya mendaftar kuotanya dulu sehingga hanya tinggal masalah waktu yang menunda keberangkatan. Bila kasusnya tidak ingin menikah dengan resepsi yang mewah, artinya secara prioritas finansial menikah jadi lebih realistis untuk dilakukan lebih dulu. Namun, kadang pemahaman masalah dasar hukum dan kewajiban sering “kalah” dengan budaya yang ada di sekitar. Menabung banyak untuk mengadakan resepsi yang dikategorikan besar, tapi biaya haji dikebelakangkan.

Jadi, harus mana yang didahulukan?

Kembali lagi, yang mana pun didahulukan tidak masalah. Mana yang lebih realistis dan lebih sanggup didahulukan, itulah yang didahulukan. Kalau menikah lebih memungkinkan, menikah. Kalau mendaftar haji lebih memungkinkan, mendaftar. Penulis sendiri, sepertinya akan lebih mendahulukan pendaftaran haji untuk diri masing-masing penulis dan calon. Baru setelah itu melanjutkan untuk urusan pernikahan.

Semoga kita semua yang muslim dapat menjalani kedua-duanya sesegera mungkin dan mendapatkan berkah selama mengusahakannya. Bagi yang mendahulukan menikah, semoga dapat segera mendaftar haji. Bagi yang mendahulukan mendaftar haji, semoga perjalanannya menuju pernikahan dilancarkan.

Amin.

Sarkasme

01/08/2016 Leave a comment

Sarkasme/sar·kas·me/ n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar.

Ya, begitulah penjelasan makna sarkasme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, untuk saat ini seperti terjadi pergeseran makna. Banyak tulisan yang saat ini di internet tidak mengejek atau menggunakan kata-kata pedas, tapi sebetulnya bersifat sarkasme. Tidak murni seperti definisi sarkasme, tapi ada sensasi sarkasmenya ketika dibaca. Mungkin tidak sampai menyakiti hati, tapi tetap ada rasa berniat mengejek.

Namun, kadang tulisan sarkasme tidak begitu mudah dipahami bila tidak memahami konteks mengapa tulisan tersebut dibuat. Kadang, justru malah menyebabkan salah paham. Berniat mengejek, tapi justru tulisannya dianggap serius dan dimaknai secara tekstual. Tidak dimaknai secara kontekstual.

Malah kadang, justru tulisan bersifat sarkasme bisa menjadi “alat” klasifikasi siapa orang-orang yang memahami sesuatu secara tekstual saja, atau yang juga bisa memahami kontekstualnya juga.

Ya, jangan sering-sering sarkas lah ya.

Hahahaha.