Sesuatu yang Dimiliki

Mulai dari Epicurus di era Yunani Kuno, sampai Rasulullah di era enlightenmnet semenanjung Arab, semua mengatakna janganlah kita mengotori diri dengan berharap apa yang tidak kita miliki. Pertanyaannya, bukankah manusia itu tidak pernah puas? Bukankah kita selalu mencari yang lebih, lebih, dan lebih lagi? Bagaimana caranya bersyukur yang tidak seklise mengatakan alhamdulillah?

Mungkin memang, pada dasarnya kita selalu menginginkan milik orang lain padahal kita sudah dicukupkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s