Home > Coretan > Network/th?

Network/th?

“Your network is your net worth” – Orang (katanya) sukses.

Percayakah dengan quote tersebut?

Penulis percaya-percaya-tidak. Mengapa? Penulis yakin betul memang silaturahmi membawa rezeki. Tapi, bila segitunya dikaitkan dengan kekayaan, bukankah jadinya malah hubungan yang sifatnya untung-rugi? Padahal “kaya” itu sendiri tidak selalu diukur dengan nominal.

Penulis sendiri mengamini bahwa dengan rajin menambah koneksi, berkenalan dengan orang baru, mengontak lagi teman lama, menemui kembali orang-orang yang pernah membantu penulis, adalah hal baik. Dan dengan melakukan hal tersebut, penulis merasa bahwa saat ini hidup jadi lebih beruntung dan bisa terus berkembang. Hidup lebih menarik dan penuh tantangan baru. Peluang lebih banyak terbuka. Rezeki alhamdulillah bertambah, baik yang bisa dukur secara nominal atau pun tidak.

Sayang bila secara gamblang dikaitkan ke “net worth”, khawatirnya bisa terpancing menjadi selektif untuk memilih teman. Selektif memilih pergaulan. Dan juga, selektif dalam membina relasi. Padahal, belum tentu relasi-relasi hi-profile adalah yang paling akan membantu hidup kita. Sering penulis dibantu oleh relasi yang weak-ties, dan malah memberikan manfaat lebih besar bagi penulis. Tapi, relasi-relasi yang hi-profile? Belum tentu membantu. Padahal, penulis ada aja di HP nomor kontak pribadi mulai dari abang nasi goreng dekat kosan, Walikota, Menteri-Menteri, dan juga CEO dari beberapa perusahaan multinasional.

Namun, apakah orang-orang penting itu membantu? Justru tidak. Malah ada kenalan yang hanya junior penulis, justru menjadi salah satu partner bisnis karena dulu penulis pernah “membukakan” jalan untuk tugas akhirnya (hanya memberikan rekomendasi dan file). Ada pemilik dari konsultan besar di Indonesia, yang pernah membantu usaha penulis dengan memberikan proyek, hanya karena dulu pernah menemani makan gorengan (saat makan gorengan, gak tahu itu siapa). Mereka adalah weak-ties yang tercipta karena membantu tanpa pamrih.

Bingung sih, kenapa orang sekarang lebih senang eksis atau bangga kenal dengan orang-orang yang katanya penting. Tapi, justru malah melupakan keluarga, teman, dan juga orang-orang yang sebetulnya lebih butuh dibantu. Dan manfaatnya bagi kita masing-masing, akan lebih berharga untuk jangka panjang. Katanya: bantulah yang paling dekat, bantulah sebisanya, dan jangan menunda untuk memberikan bantuan.

Semoga kita semua bisa saling membantu ya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: