Home > Coretan > Haji atau Menikah?

Haji atau Menikah?

Bagi seorang muslim, ada dua milestone besar dalam hidupnya terkait ibadah. Yaitu, menikah dan naik haji.

Belakangan, penulis bimbang mana yang harus lebih didahulukan antara menikah atau naik haji. Dasar hukum dari haji adalah wajib, kecuali ada hal yang menjadikan tidak mampu berangkat baik secara finansial, fisik, waktu, dll. Sedangkan dasar hukum dari menikah adalah sunnah, kecuali ada yang menaikkan derajat atau menurunkan derajat hukumnya. Misal bila untuk menjaga diri dan sudah tidak tahan, menjadi wajib. Sedangkan bila untuk berniat jelek, maka hukumnya menjadi haram.

Dari hasil diskusi dengan orang tua dan beberapa teman, dapat disimpulkan bahwa bila tidak ada klausul khusus maka jelas naik haji harus diutamakan dibanding menikah bagi seorang muslim. Namun, kenyataannya stigma yang harus diutamakan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia adalah menikah. Banyak yang sudah mampu secara finansial berhaji, tapi mengalihkan biayanya untuk menikah. Tidak salah, sah-sah saja karena ada klausul yang mungkin menaikkan keharusan menikah secara hukum.

Kadang, memang hukum agama perlu disesuaikan dengan kondisi sekitar. Untuk kasus di Indonesia, biaya menikah dan biaya haji di kota besar jauh lebih besar biaya menikah. Artinya, bila sanggup untuk menikah di kota besar, hampir tidak mungkin tidak bisa mendaftar haji. Setidaknya mendaftar kuotanya dulu sehingga hanya tinggal masalah waktu yang menunda keberangkatan. Bila kasusnya tidak ingin menikah dengan resepsi yang mewah, artinya secara prioritas finansial menikah jadi lebih realistis untuk dilakukan lebih dulu. Namun, kadang pemahaman masalah dasar hukum dan kewajiban sering “kalah” dengan budaya yang ada di sekitar. Menabung banyak untuk mengadakan resepsi yang dikategorikan besar, tapi biaya haji dikebelakangkan.

Jadi, harus mana yang didahulukan?

Kembali lagi, yang mana pun didahulukan tidak masalah. Mana yang lebih realistis dan lebih sanggup didahulukan, itulah yang didahulukan. Kalau menikah lebih memungkinkan, menikah. Kalau mendaftar haji lebih memungkinkan, mendaftar. Penulis sendiri, sepertinya akan lebih mendahulukan pendaftaran haji untuk diri masing-masing penulis dan calon. Baru setelah itu melanjutkan untuk urusan pernikahan.

Semoga kita semua yang muslim dapat menjalani kedua-duanya sesegera mungkin dan mendapatkan berkah selama mengusahakannya. Bagi yang mendahulukan menikah, semoga dapat segera mendaftar haji. Bagi yang mendahulukan mendaftar haji, semoga perjalanannya menuju pernikahan dilancarkan.

Amin.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: