Home > Coretan > Mungkin Kita Hanya Ingin Dilihat

Mungkin Kita Hanya Ingin Dilihat

“Aku milih keluar grup aja, Kak”.

Ya, itulah yang disampaikan oleh tidak hanya satu orang dari adik kelas penulis. Zaman sekarang, membuat grup yang berisi orang-orang sangat mudah. Dan memasukkan seseorang ke dalam grup pun begitu. Sehingga, terkadang sebetulnya apa yang terjadi di platform komunikasi online tidak sesuai dengan yang ada di platform komunikasi offline.

Kita ambil contoh sebuah grup bermain. Ketika semua anggota asal di-invite saja tapi tidak begitu dekat, yang ada grup tersebut hanya akan menjadi corong informasi. Setiap anggota yang memberikan respon, biasanya hanya ketika ada hal yang beririsan dengan dirinya. Ya, itu lah yang terjadi sebetulnya kalau di offline. Kelompok yang tidaKelompok dekat hanya akan bertukar informasi, dan kelompok yang lebih dekat akan bertukar rasa. Sulit bila antar kelompok saling bertukar rasa kalau tidak ada sesuatu yang membawa kerbersamaan antar kelompok. Bahkan, sudah dibuat kebersamaan dalam jangka waktu cukup lama pun belum tentu akan saling melekat.

Tapi, sebetulnya yang paling parah bukan lah itu. Pertukaran informasi hanya sebagai titik awal. Dari pertukaran informasi, terlihat asumsi bahwa seseorang yang membawakan informasi lebih hebat dari yang lain. Alhasil, menyebabkan adanya “sembah” terhadap orang tersebut. Dari orang yang “disembah” tersebut, akhirnya muncul lah dua pilihan. Antara rasa gak enak, atau rasa agak-agak bangga dan jadinya saling memancing pujian.

Grup yang awalnya tidak dekat, berubah jadi grup pertukaran informasi. Dan di tahap berikutnya, grup yang awalnya pertukaran informasi, jadi muncul pertukaran ego satu sama lain. Biasanya untuk saling menguatkan diri sendiri di dalam grup atau menguatkan “common interest” dari beberapa anggotanya.

Kemudian di tahap yang lebih lanjut lagi, adalah banjirnya diskusi tanpa arah yang didasari “ingin” muncul. Bukan karena ingin saling berbagi solusi. Ada kasus semacam ini di salah satu komunitas yang penulis ikuti. Alhasil, diambil jalan tengah. Grup bersama yang besar dijadikan wadah pertukaran informasi, untuk diskusi yang lebih “firm” dibuat Slack dengan berbagai room supaya memang fokus dan tidak memancing ego.

Ya, mungkin pada dasarnya manusia suka pamer dan ingin dilihat atau didengar kali ya?

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: