Home > Coretan > Miskinnya Bahasa Indonesia

Miskinnya Bahasa Indonesia

http://www.thejakartapost.com/news/2015/10/25/view-point-is-bahasa-indonesia-stagnating-nation-s-progress.html

Di artikel tersebut dikatakan kalau jumlah kata dalam bahasa Indonesia sejak EYD, stagnan di bawah 100.000 kata. Dalam hemat dan sepengetahuan penulis, jumlah kata dalam bahasa Inggris mencapai di atas 1.000.000 kata.

Betulkah jumlah kata yang ada dalam suatu bahasa menunjukkan superioritas bahasa sebagai manifestasi budaya bangsa? Bila itu betul, artinya ada masalah yang cukup besar dengan bangsa Indonesia. Ada dua hipotesis dari penulis.

Hipotesis pertama adalah tentang karakter bangsa Indonesia tidak saling berbaur dengan bangsa lain. Kata-kata yang ada dalam bahasa Indonesia memiliki asal-usul dari bahasa Sanskrit, Arab, Protugis, Belanda, dan Inggris. Menjelma jadi satu kesatuan bahasa Indonesia. Tapi, setelah Indonesia merdeka justru pilihan kata dalam bahasa Indonesia tidak bertambah signifikan. Apa itu artinya proses akulturasi budaya di Indonesia lebih baik ketika bangsa ini dijajah? Harusnya tidak begitu lah ya.

Hipotesis kedua adalah tentang bangsa Indonesia ini tidak begitu baik dalam belajar. Argumen penulis mungkin tidak dilengkapi dengan landasan yang kuat. Penulis hanya ingin mencoba mengambil sampel dari tiga bahasa yang pernah penulis pelajari secara formal, yaitu Inggris, Arab, Jepang.

Dalam bahasa Inggris, proses perubahannya dari zaman ke zaman sangat kentara. Mulai dari yang dulunya menyerap bahasa Roman, kemudian “bertabrakan” dengan bangsa Anglo, kemudian “bertabrakan” dengan semacam bahasa Jerman saat Viking menginvasi sana-sini di Eropa, hingga akhirnya mengalami pengaruh Prancis, dan menjadi Inggris yang sekarang. Bahkan bahasa Inggris yang sekarang pun juga mengalami perubahan dan adaptasi di berbagai negara. Inggris di UK dan di US berbeda. Di Singapore juga berbeda dan jadi dialek baru di lokal, Singlish. Kemudian bagi orang-orang di Afrika yang memakai bahasa Inggris, secara susunan sintaksisnya pun juga sedikit berbeda.

Berikutnya adalah bahasa Arab. Secara umum bahasa Arab terbagi menjadi dua, yakni bahasa Arab Fushah (formal), dan bahasa Arab Amiyyah (non-formal). Kasarnya kalau di Indonesia, yang satu pakai aku-kamu, yang satu pakai gue-lo. Dan biasanya kalimat-kalimat dari asing masuk ke dalam bahasa Arab Amiyyah, tapi dalam bahasa fushah tetap terjaga susunannya. Apalagi secara semantik, bahasa Arab sangat tegas terhadap akar kata dan perubahan-perubahannya.

Yang ketiga adalah bahasa Jepang. Di bahasa Jepang, huruf untuk belajar menulis terbagi jadi hiragana dan katakana. Huruf-huruf pada hiragana dipakai untuk menuliskan kata-kata asli dari Jepang, sedangkan huruf katakana dipakai untuk menuliskan kata-kata serapan. Belum lagi Jepang memiliki sistem simbolis, yakni kanji. Artinya lebih banyak lagi karena juga ada nilai leluhur yang dijaga dalam bahasa.

Sayangnya di Indonesia, kebahasaan agak kaku. Kata-kata serapan tidak banyak bertambah. Paling hanya dibuat italic saja ketika menuliskan kata serapan asing. Tapi secara makna, tidak bertambah banyak. Seakan tidak belajar istilah-islitah dari bahasa asing kemudian menjadikan hal tersebut sebagai istilah sendiri. Padahal ya, dalam banyak kasus lebih mudah menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris karena pilihan kosakatanya untuk menggambarkan rasa lebih variatif.

Tidak hanya itu, sangat disayangkan padahal bangsa Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa dan bahasa. Apa mungkin jadinya bisa memunculkan hipotesis ketiga kalau bangsa Indonesia ini masih kerepotan “menyatukan” suku bangsanya?

Sangat sedih ketika membaca “Bumi Manusia” karangan Pramoedya Ananta Toer tersentuh, tapi justru malah bisa sampai terenyuh ketika membaca “The Earth of Mankind”, terjemahannya dalam bahasa Inggris. Agak sedih ketika bisa menangis ketika mendengar bacaan Imam Masjidil Haram, tetapi merasa “meh” dengan terjemahan Al-Quran dalam bahasa Indonesia. Dan lebih sedih lagi, ketika justru bisa menangis karena kecantikan dan kedalaman pemilihan kata ketika hanya membaca terjemahan Al-Quran versi “Shahih International”. Lucu sekali secara review lebih banyak yang mengatakan “Shahih International”, atau bisa juga terjemah Doctor Muhsin, lebih terpercaya dibanding terjemah Kementerian Agama RI. Bahkan ketika membaca terjemah Bahasa Indonesia, masih harus membuka tafsir atau pun asbabun nuzul. Padahal ya, bahasa Inggris itu berakar dari Roman dan tidak mendapatkan pengaruh Arab/Persi, sedangkan bahasa Indonesia berakar dari sanskrit dan sangat lama mendapat pengaruh bahasa Arab.

Bila bahasa memang manifestasi dari budaya dan nilai-nilai kebangsaan yang dijaga, tampaknya memang bangsa ini perlu banyak belajar.

Termasuk penulis, mungkin juga penulis hanya berkomentar seperti ini karena kurang piknik.

  1. 28/07/2016 at 12:12

    saya hanya melihat dari historis dua bahasa tergolong beda usia, semakin tua usianya semakin banyak jumlah kosa katanya, bisa dibandingkan kamusnya atau kosa kata untuk menyebut sesuatu… Indonesia, Inggris, Arab sangat beda,:)

    • 28/07/2016 at 12:31

      Terima kasih, Agan. Mungkin memang itu salah satu faktor utamanya ya kenapa masih “kurang” belajar. Hahaha.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: