Home > Coretan > Kok Gak di Jakarta Aja, Mil?

Kok Gak di Jakarta Aja, Mil?

Kemarin mendapati link ini di-share oleh seorang teman di FB:

http://jakartaglobe.beritasatu.com/news/getting-harder-find-job-graduates-say/

Di link tersebut dijelaskan katanya saat ini mendapatkan pekerjaan di Jakarta lebih sulit. Selain itu, banyak juga bahasan serupa yang menjelaskan bahwa di Jakarta harga kebutuhan pokok semakin mahal. Harga rumah semakin tidak terbeli, harga kosan semakin tinggi dan mengikis budget makanan tiap bulannya. Harga makanan makin naik, tapi untuk masak gak ada waktu. Kalau mau dimasakin istri, butuh biaya finansial yang lebih stabil dan kuat.

Masalahnya di mana?

Penulis sendiri tidak begitu memahami. Memang harga terus naik, kebutuhan terus meningkat, gaji tidak seberapa tumbuh. Tapi kalau diperhatikan dari teman-teman penulis dan senior dan junior dalam rentang dua-tiga tahun dari penulis, mayoritas berorientasi kerja di Jakarta. Dulunya baynak yang berasal dari daerah, setelah lulus berbondong-bondong ke Jakarta. Faktor utama yang menentukan pilihan ini adalah gaji. Nilai gaji di Jakarta memang lebih tinggi dibanding di daerah-daerah lain. Gaji freshgrad untuk lulusan dari universitas top seperti ITB, UI, UGM, kebanyakan memang bisa sampai dua kali daripada di kota besar lain.

Bagaimana situasi tersebut tidak memancing untuk “mendekat” ke Jakarta?

Ya tapi mungkin tidak banyak yang merasakan bahwa kebutuhan hidup di Jakarta juga semakin tinggi. Keramaian di Jakarta dengan daya belinya yang tinggi, memancing pelaku industri untuk mengincar pasar Jakarta. Artinya semakin banyak barang masuk Jakarta, tapi orang juga semakin banyak. Yang ada semakin mahal. Mungkin sulit dipercaya kecuali oleh orang yang tinggal di luar Jakarta bahwa gaji besar di Jakarta kadang semu. Terkecuali nilai gajinya betul-betul besar.

Belum lagi faktor sulitnya mobilitas di Jakarta dan cuaca yang lebih banyak membuat tidak produktif. Ada tiga kejadian sederhana yang dalam beberapa bulan ini menjadi perhatian penulis.

Pertama tentang jam kerja. Kebanyakan yang bekerja di Jakarta, berpatokan pada alur jam kerja kantoran, 9-17 pada umumnya. Ya, di sini beruntung bagi yang bekerja di kantor dan bisa produktif pada jam-jam tersebut. Efektivitas kerja paling maksimal hanya mendekati 6 jam. Belum lagi waktu akomidasi yang dibutuhkan untuk berangkat dari tempat tinggal ke tempat kerja. Penulis pernah bekerja di Jakarta kadang sebagian besar waktu jadi terkikis oleh membuang capek dari perjalanan selama bekerja. Sedangkan ketika dibandingkan kasusnya di Bandung, santai-santai sambil main games saja bisa mencapai jam produktif yang full 8 jam.

Ya, yang kedua tentang waktu tempuh untuk ke tempat kerja. Penulis pernah berangkat dari Pasar Minggu menuju Tebet, memakan waktu hingga dua jam. Pernah juga berangkat dari Tangerang dengan mobil, sampai di Tebet memakan waktu empat jam. Belum lagi pulangnya. Sedangkan ketika di Bandung, waktu tempuh 30 menit saja sudah cukup lama. Kecuali memang wilayahnya berbeda jauh, berangkat dari Bandung Selatan, tempat kerja di Bandung Utara. Atau memang sedang rush hour.

Yang ketiga adalah tentang biaya. Rata-rata gaji freshgrad di Bandung adalah 3,5jt sampai 5 jt. Sedangkan di Jakarta mulai dari 5jt sampai 8jt untuk freshgrad. Kecuali bidang kerja yang pengecualian seperti investment banking, oil and gas, atau pun konsultan manajemen. Atau bidang IT untuk scope yang rockstar. Angka tersebut adalah rata-rata. Penulis mengambil sampel dua teman penulis yang berada di dua kota yang pendapatannya masing-masing di angka tersebut di kota yang berbeda. Gaya hidup keduanya tidak begitu berbeda, gak begitu suka main dan hedon. Saat telah mencapai waktu satu tahun hidup, ternyata tabungannya lebih besar yang bekerja di Bandung.

Apa yang aneh? Pastinya adalah kenyataan bahwa cost di Jakarta sangat tinggi. Ya, sangat tinggi dibandingkan Bandung. Dengan gaya hidup yang sama, tabungan setelah satu tahun lebih banyak yang tinggal di Bandung. Kemudian, kalau melihat harga di Jakarta yang cenderung lebih tinggi, artinya daya beli dengan tabungan yang sama di Bandung saja, lebih kuat. Artinya tabungan tersebut lebih produktif untuk dibelanjakan di Bandung.

Ya memang sih tidak apple-to-apple perbandingannya. Apalagi tiga kejadian tadi hanya argumen penulis. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tapi di sini, penulis ingin berbagi pandangan mengapa memilih Bandung sejak lama untuk membangun plan hidup jangka panjang. Penulis diajarkan oleh mentor penulis bahwa profit dari kerja keras, adalah nilai manfaat yang dapat dibeli. Bukan dari besarnya nominal. Dan melihat hal-hal barusan dituliskan, sepertinya penulis melihat manfaat yang bisa dibeli penulis lebih banyak bila berada di Bandung. Dan juga, sepertinya lambat laun teman-teman sejurusan penulis semakin bertambah di Bandung dibandingkan di Jakarta. Entah karena kenyamanannya, entah karena manfaat yang bisa dibeli lebih banyak, entah juga mungkin karena ada preferensi lain.

Kalau kata walikota penulis yang enggan maju sebagai Gubernur DKI, “Jakarta adalah mitos. Sukses tidak harus di Jakarta”.

Yah, bagaimana pun tulisan ini hanya opini. Setiap tempat tentunya adalah tempat terbaik bagi masing-masing.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: