Home > Coretan > Tentang Toleransi

Tentang Toleransi

toleransi

Semakin dewasa, semakin banyak isu yang terdengar di sekitar kita. Penyikapan terhadap isu tersebut menjadi penting. Tentunya, kita sebagai bangsa Indonesia yang merasakan wajib belajar 9 tahun pernah belajar Kewarganegaraan pada saat SD, SMP dan SMA. Kita diajarkan untuk mengamalkan nilai toleransi atau teposeliro yang berulang kali disampaikan di setiap tahunnya di pelajaran tersebut.

Sebetulnya apa sih toleransi itu?

Secara bahasa (KBBI, 2015) artinya adalah “sifat atau sikap toleran”. Toleran sendiri artinya “bersifat atau bersikap menenggang pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”.

Bila definisi toleransi ini dikaji dalam lingkup kajian islam, toleransi dalam islam artinya adalah setiap muslim hendaklah berbuat baik pada siapa pun. Tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama (QS. Al-Mumtahanah: 8-9, Tafsir Al-Qur’an Al’Azhim, 7:247). Batasan ini berlaku secara umum selain untuk urusan aqidah. Tidak ada toleransi dalam urusan aqidah dan sebaliknya, umat islam tidak boleh memaksakan syariat islam kepada non-muslim (QS. Al-Kafirun: 6, QS. Al-Isra: 84, QS. Yunus: 41, Q.S Al-Qashshash: 55, Tafsir Ath Thobari, 14:425).

Lalu, bagaimana di Indonesia saat ini?

Kembali kepada definisi dasar dari toleransi yang artinya menenggang pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Secara common sense, sikap toleransi ini akan lebih diuji bagi kaum mayoritas. Bukan kaum minoritas. Secara global, artinya umat nasrani/kristen harus bisa bersikap toleran terhadap umat islam dan umat lain yang minoritas. Sedangkan di Indonesia, artinya umat islam harus bisa bersikap toleran pada non-muslim.

Kenyataan di Indonesia, justru sebaliknya. Umat islam di Indonesia justru banyak yang mendengungkan kaum non-muslim harus toleran. Padahal kaum minoritas baik secara agama atau pun ras sudah pasti akan berusaha menyesuaikan diri agar mereka dapat berbaur dan “bertahan hidup” di lingkungannya. Toleransi tidak perlu dipertanyakan dari kaum minoritas karena mereka sudah pasti belajar untuk hidup dengan toleran sejak mereka lahir di lingkungannya.

Di sisi lain, muncul isu lucu yang kembali mengangkat pentingnya toleransi. Secara konsep, memang betul bahwa ini harus dilakukan karena bagaimana pun juga kaum mayoritas tidak lebih baik dalam memahami esensi toleransi dibandingkan kaum minoritas. Namun, lucunya adalah gerakan-gerakan mendengunkan toleransi ini justru malah disalahartikan. Bukannya mengingatkan kembali pada definisi toleran di mana bisa menerima pandangan yang berbeda, malah kebablasan hingga menyentuh aspek aqidah. Atau di kasus lain malah kontraproduktif dan membuat adanya isu bahwa selama ini kaum mayoritas di Indonesia, dalam hal ini pribumi maupun umat islam jadi dianggap tidak toleran oleh kaum minoritas.

Pada akhirnya, langkah yang paling konkret adalah kembali ke diri masing-masing dan bersikap dengan tegas namun tetap berbuat sebaik mungkin kepada sesama.

Klasik memang. Sayangnya tidak mudah.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: