Home > Coretan > Melihat RUU Pilkada dari Sudut Pandang Sistem

Melihat RUU Pilkada dari Sudut Pandang Sistem

pilkada

Demokrasi adalah sistem yang mengharuskan rakyatnya cerdas. Bila terdapat masalah pada keberjalanan pemerintahan, sudah jelas siapa yang paling bersalah: rakyatnya.

Belakangan ini ramai di media dan publik terkait rencana untuk mengubah undang-undang terkait pilkada. Perubahan ini menyangkut mekanisme pemilihan kepala daerah (gubernur dan walikota) yang direncanakan untuk dipilih oleh DPRD, bukan langsung oleh rakyat. Dari angin yang berhembus, sepertinya masyarakat lebih menyukai bila kepala daerah dipilih langsung. Penyebab utamanya tidak lain karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap para anggota dewan yang terhormat.

Menyikapi hal ini, sungguh media sangat bias dan sarat kepentingan. Tanpa dikaji dari sudut pandang sistem pemilu, penilaian akan menjadi sangat subjektif. Entah itu mendukung sistem langsung atau pun mendukung sistem tidak langsung. Sejauh yang pernah saya pelajari, terdapat tiga aspek utama yang membagi kategori sistem pemilu. Tiga aspek ini antara lain membagi berdasarkan mekanisme akumulasi suara, cara pemilihan dan pencalonan.

Berdasarkan cara akumulasi Suara (Distrik vs Proporsional)

Berdasarkan cara akumulasi suara, terdapat dua cara yakni dengan cara distrik dan proporsional.

Mekanisme sistem proporsional membagi suara yang terkumpul per kepala pemilih. Sebagai contoh bila di dalam satu daerah terdapat 1.000 pemilih dengan pemilih calon A sebanyak 600 dan calon B 400, maka pada perhitungan suara akhir calon A akan mendapatkan tambahan sebanyak 600 suara dan calon B mendapatkan tambahan sebanyak 400 suara. Contoh sistem ini adalah sistem pemilu yang digunakan di Indonesia pada tahun ini (2014).

Kemudian, mekanisme sistem distrik membagi suara yang terkumpul per daerah pemilihan. Sebagai contoh bila di dalam satu daerah terdapat 1.000 pemilih dengan calon A sebanyak 600 dan calon B 400, maka pada perhitungan suara akhir calon A akan mendapatkan tambahan sebanyak 1.000 suara dan calon B mendapatkan tambahan sebanyak 0 suara. Contoh negara yang menggunakan sistem pemilu seperti ini adalah Amerika Serikat pada pemilu presiden.

Berdasarkan yang saya amati, sistem proporsional dilakukan oleh negara kesatuan yang pemerintahannya cenderung “sentral”. Sedangkan sistem distrik dilakukan oleh negara yang sistem pemerintahannya cenderung “desentral”.

Berdasarkan cara pemilihan (Langsung vas Tidak Langsung)

Berdasarkan cara memilihnya, terdapat dua cara yakni dengan cara langsung dan tidak langsung.

Mekanisme pemilihan langsung dilakukan oleh si pemilih tanpa perantara. Definisinya sudah jelas, si pemilih langsung memilih siapa calon yang dia pilih. Contoh yang menggunakan sistem langsung ini adalah pemilu di Indonesia tahun ini (2014).

Mekanisme pemilihan tidak langsung dilakukan oleh si pemilih melalui perantara. Perantara ini biasanya dilakukan melalui wakil rakyat yang duduk di badan legislatif satu negara. Contoh yang menggunakan sistem tidak langsung ini adalah pemilu di Indonesia sebelum tahun 1998.

Berdasarkan cara pencalonan (Tertutup vs Terbuka)

Berdasarkan cara pencalonannya, terdapat dua cara yakni tertutup dan terbuka.

Mekanisme pemilihan calon dengan cara tertutup dilakukan oleh pemilih tanpa mengetahui calon yang akan terpilih. Sistem ini digunakan di Indonesia hingga beberapa tahun pasca reformasi (pemilu 1999). Dalam sistem ini, pemilih hanya memilih partai yang dipercaya. Nantinya, partai akan memberikan wakil untuk badan legislatif atau pun eksekutif.

Mekanisme pemilihan calon dengan era terbuka dilakukan oleh pemilih dengan mengetahui calon yang akan dipilih. Sistem ini digunakan di Indonesia saat ini. Calon yang akan dipilih diketahui langsung oleh pemilih baik itu yang akan menduduki badan legislatif (DPRD, DPR) mau pun badan eksekutif (Presiden, Kepala Daerah).

Kombinasi ketiga aspek

Ketiga aspek di atas memungkinkan adanya delapan kombinasi sistem pemilu untuk negara demokrasi. Kombinasi yang mana pun adalah baik bila disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing. Bisa jadi satu sistem yang baik di negara lain dapat menimbulkan perpecahan bila digunakan di negara lain. Sebagai contoh bila memaksakan sistem distrik di Indonesia yang kaya akan budaya dan tersebar dalam ribuan pulau akan berpotensi menimbulkan perpecahan antar daerah dan konflik horizontal. Begitu pula bila memaksakan sistem proporsional di Amerika Serikat, sangat mungkin kontrol pemerintah pusat tidak sekuat kontrol yang dilakukan oleh setiap negara bagian.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan mekanisme akumulasi suara, di Indonesia sudah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa sistem proporsional lebih cocok. Setiap warga negara ingin dinilai sama dan menekan potensi adanya friksi antar daerah dan suku.

Berdasarkan mekanisme cara memilihnya, tidak bisa dipungkiri bahwa memilih secara tidak langsung berarti wakil yang akan memilih calon haruslah mendapat kepercayaan yang tinggi dari rakyat. Sedangkan di Indonesia saat ini, kepercayaan terhadap wakil rakyat berada pada posisi yang sangat rendah. Sudah rahasia umum bahwa badan legislatif di Indonesia adalah hulu dari hampir seluruh kasus korupsi yang ada. Meskipun secara teknis pemilihan tidak langsung dapat memberikan efisiensi pada keberjalanan pemerintahan, ada aspek fundamental yang akan hilang nantinya. Dengan partisipasi rakyat yang rendah dalam pemerintahan (mau enaknya saja tanpa usaha), pemilihan tidak langsung dapat memicu konflik vertikal antara pemerintahan dan rakyat itu sendiri. Belum lagi kinerja anggota dewan sangat buruk karena mesin partai yang tidak dapat menjangkau suara setiap kepala yang ada di masyarakat.

Kemudian berdasarkan cara pencalonannya, dapat dibandingkan dari kondisi wakil rakyat saat menggunakan sistem tertutup dan ketika menggunakan sistem terbuka. Dulu, ketika masyarakat memilih partai artinya setiap orang sudah memiliki nilai yang diyakini dan akan didukung. Sedangkan dengan kondisi sekarang, masyarakat dipaksa untuk memilih calon. Implikasi yang ada saat ini adalah masyarakat tidak siap melihat nilai yang dibawa oleh setiap calon. Alhasil, masyarakat hanya memilih karena mengenal atau calon yang dapat berkampanye dengan modal lebih besar. Lebih jauh lagi, partai akhirnya hanya menjadi perkumpulan orang-orang yang terkenal atau memiliki uang. Tidak ada lagi kader-kader yang menjunjung nilai perjuangan di dalam partai karena pertempuran dilakukan bukan untuk memperjuangkan nilai, tapi mengalahkan segala saingan. Justru menurut penulis kalau memang ingin memperbaiki demokrasi mekanisme inilah yang seharusnya dikaji ulang, bukan perihal langsung atau tidak langsung.

Dari tiga aspek di atas, dapat disimpulkan bahwa bila kondisi demokrasi di negeri ini ideal, maka kombinasi mana pun yang dipilih sebagai sistem pemilu tidak akan menjadi masalah. Ideal yang dimaksud adalah masyarakatnya cerdas dalam arti berpartisipasi aktif dalam menjalankan demokrasi. Tidak hanya memilih di pemilu dan berharap sejahtera karena diurus pemerintah.

Namun, yang namanya ideal itu memang hanya ada di dalam mimpi. Berdasarkan subjektif penulis, bila harus bersikap maka penulis memilih sistem terbaik untuk pemilu di Indonesia adalah proporsional, langsung, tertutup.

Akhir kata, Indonesia saat ini masih belum siap dengan sistem pemilu yang dipilih secara tidak langsung. Meskipun begitu, bukan berarti kita harus anti dengan sistem pemilu tidak langsung, atau di sisi lain fanatik buta terhadap sistem pemilu langsung. Karena sistem pemilu seperti apa pun tidak akan bisa menghasilkan pemerintahan yang berkualitas tanpa adanya partisipasi yang riil dari bangsa ini.

Sumber: Asshiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi RI, 2006.

Categories: Coretan Tags: , , , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: