Home > Coretan > Puncak Kebijaksanaan

Puncak Kebijaksanaan

die

– Memento Mori –

Ingat, kau harus mati!

Apakah yang membuat seseorang lebih bijak dari orang lain? Ada yang mengatakan dia lebih dewasa dalam menyikapi satu permasalahan. Ada yang mengatakan dia lebih bertanggung jawab terhadap amanah. Ada yang mengatakan dia lebih bisa memahami sudut pandang orang lain. Tidak ada argumen yang salah untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Namun, seperti apakah puncak suatu kebijaksanaan?

Tempo hari, saya ditanya oleh seorang teman SMA mengenai kematian. Kurang lebih pertanyaannya “Mil, kalau lo mati dalam waktu dekat gimana?”. Saya pun bingung harus menjawab apa dan refleks mengatakan “Ya sudah gapapa, mau gimana lagi”. Kemudian obrolan dengan topik filosofis pun berlanjut dari pertanyaan ringan ini.

Teman SMA saya yang hobi berfilosofi ini pun melanjutkan tumpahan pemikirannya. Dia menyampaikan bahwa ketika seseorang mengingat kematian dan siap untuk itu, artinya dia telah mencapai puncak kebijaksanaan. Yah, kalimat seperti ini memang mudah diucapkan oleh siapa saja. Namun, entah mengapa terasa berat. Artinya jawaban refleks tersebut menggambarkan bahwa saya ikhlas bila mati kapan saja, namun selama ini tidak pernah memikirkannya. Belum lagi yang mengucapkan adalah seorang teman yang saya tahu tidak asal nyablak atau berteori belaka ketika berbicara.

Sungguh berat memikirkan kematian. Sesuatu yang pasti akan datang bagi setiap makhluk hidup. Sesuatu yang memutus kenikmatan yang dapat dirasakan setiap manusia. Sesuatu yang tidak dapat diketahui kapan datangnya, namun dapat menjemput kapan saja. Sesuatu yang apabila telah datang, maka siapa pun dan sehebat apa pun tidak dapat melakukan sesuatu untuk mencegahnya atau meneruskan apa yang masih ingin diselesaikan di alam dunia.

Bahkan dalam sebuah hadis dari Ibnu Majah diriwayatkan ketika ada seorang Anshar bertanya kepada Rasulullah siapa kah orang beriman yang paling berakal, beliau menjawab dia yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya dalam menghadapi kematian.

Sungguh, banyak harapan yang ingin dicapai di dunia ini. Mimpi umat manusia menghiasi warna-warninya dunia ini sehingga sangat beragam. Namun, entah mengapa sulit untuk memahami bahwa tujuan setiap manusia berakhir pada titik yang sama. Katanya, hanya dia yang selalu mengingat tujuan akhir yang mampu menggapai segala isi dunia. Dia sang bijak yang selalu mengingat dan hidup untuk kematian.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: