Home > Coretan > Akselerasi Pendidikan Politik Indonesia

Akselerasi Pendidikan Politik Indonesia

 politik

Setelah mengalami musim yang begitu keruh dan jenuh terkait isu politik di tahun 2014 ini, akhirnya Indonesia memiliki seorang presiden Joko Widodo untuk periode 2014-2019. Alhamdulillah hingga ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi tidak terjadi krisis politik yang efeknya multidimensional. Segalanya berjalan aman, tertib dan terkendali walaupun sempat terjadi friksi yang panas selama keberjalanan pesta demokrasi tahun ini.

Saya sendiri tidak begitu peduli dengan isu yang dilontarkan di sana-sini. Alasannya sederhana, saya sudah memiliki pilihan sejak awal. Namun, bukan berarti saya tidak melihat isu yang bertebaran dan menjadi apatis. Saya mengikuti segala isu yang dihembuskan selama musim pemilu, namun lebih memilih sebagai “silent reader” saja dan tidak berpartisipasi aktif mendukung satu calon.

Kalau kita kembali melilhat ke belakang, pemilu kali ini sangat menarik dan ramai hingga membuat banyak pihak sakit hati. Bahkan tidak sedikit yang masih memendam rasa sensi karena beda pilihan di pilpres. Mengapa bisa begitu?

Polarisasi Kubu

Pandangan pribadi saya menyimpulkan hal ini disebabkan karena calon presiden saat ini hanya ada dua. Masyarakat terpolarisasi ke salah satu kubu. Ketika di pemilu-pemilu sebelumnya pada putaran pertama selalu diikuti oleh lebih dari dua pasang capres-cawapres, masyarakat melihat isu-isu unggulan yang dibawa dan dirasakan langsung dari capres yang maju. Namun, ketika hanya ada dua calon tentunya masyarakat akan terfokus kepada perbedaan yang ada. Persamaan dari kubu-kubu yang bertarung tidak akan lagi dilihat. Kelebihan dari calon A akan langsung diopinikan sebagai kekurangan calon B. Begitu pula sebaliknya, kekurangan dari calon A akan langsung diopinikan sebagai kelebihan dari calon B. Ketika Jokowi dianggap konkret, maka Prabowo akan dianggap sebagai presiden wacana. Ketika Prabowo dianggap tegas, maka Jokowi akan dianggap sebagai presiden yang mengikuti keinginan pendukung.

Dampak Positif dan Negatif

Dampak positif dari fenomena dua calon sejak awal ini menjadikan masyarakat melek terhadap calon presidennya. Ketika seseorang memiliki dasar memilih, dia akan sangat melihat capres mana yang dapat lebih mengakomodir dasar memilih tersebut. Begitu pula ketika seseorang memiliki suatu nilai yang tidak disenangi, maka akan mudah melihat siapa calon yang lebih dekat kepada nilai yang tidak dia senangi tersebut. Masyarakat akan melek terhadap calon yang ada dan efek dominonya perlahan tapi pasti memaksa setiap orang menjadi juru kampanye gratisan.

Namun, akibat polarisasi ini juga tentunya menimbulkan dampak negatif. Dikarenakan calon hanya ada dua, kampanye hitam dan kampanye negatif pun menjadi marak. Maklum, ketika meniupkan isu negatif dari suatu calon tentunya masyarakat akan melihat bahwa calon yang lain memiliki negasi dari isu negatif tersebut. Dan sudah rahasia umum walaupun tidak disukai sesuatu hal yang negatif lebih melekat di ingatan setiap orang. Alhasil menghasilkan suasana pemilu yang keruh.

Selain itu, dengan terpolarisasinya kubu-kubu yang merapat ke setiap calon juga berpotensi menimbulkan pergerakan massa. Lihat saja polisi kita sejak sebulan sebelum pemilu sudah menyiapkan keamanan dengan latihan yang cukup ketat. Kita perlu mengapresiasi kinerja Presiden dan jajarannya dalam menjaga keamanan dan pergerakan massa di musim pemilu. Tanpa adanya kinerja yang baik dari pemerintah saat ini sangat mungkin terjadi kerusuhan mengingat bangsa Indonesia ini masih belum dewasa dalam menghadapi perbedaan.

Akhir Kata,

Tahun 2014 ini merupakan tahun yang produktif dalam rangka pendidikan politik Indonesia. Terlihat dari tingkat golput yang menurun dan ramainya partisipasi juru kampanye gratisan di media sosial dan di lapangan. Mungkin memang Allah dan semesta ini mencintai bangsa Indonesia sehingga bisa mendapatkan momen pendidikan politik yang produktif di tahun ini tanpa harus ada kerusuhan.

Semoga bangsa Indonesia dapat lebih dewasa dan berpartisipasi aktif dalam keberjalanan negeri ini. Partisipasi masyarakat tidak ramai hanya ketika pesta demokrasi.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: