Home > Coretan > Tentang ISIS dan Pola Pergolakan Negara Arab

Tentang ISIS dan Pola Pergolakan Negara Arab

isis

Karena begitu ramainya komentar dari semua orang di media sosial terkait ISIS, saya jadi ikut tergelitik untuk berkomentar.

Ketika berbicara tentang ISIS, pandangan yang pertama muncul setelah mengikuti perkembangan belakangan ini adalah bahwa mereka merupakan gerakan perlawanan. Gerakan perlawanan ini dipimpin oleh Sheikh Abu Bakar Al Baghdadi terhadap pemerintahan Nur Maliki. Apa yang menjadi latar belakang perlawanan tersebut? Sejauh yang saya amati, momen kemunculan ISIS mirip dengan pola pergolakan politik di berbagai negara Arab dalam beberapa tahun terakhir. Pertentangan kubu-kubu politik yang disikapi secara keras menyebabkan konflik menyebar ke berbagai sektor kehidupan lain.

Masih ingatkah dengan kejatuhan Husni Mubarak di Mesir? Kejatuhan Mursi yang disusul tidak lama setelah rezim Mubarak? Kejatuhan Qadafi di Libya? Krisis di Suriah? Dan mungkin beberapa pergolakan politik negara Arab lainnya?

Bila diamati, ada pola yang menarik dari pergolakan-pergolakan ini:

  • Husni Mubarak jatuh setelah sekian lama berkuasa dan menimbulkan rasa tirani di Mesir.
  • Mursi jatuh setelah membuat berbagai kebijakan yang terkesan ingin meng-ikhwan-kan seluruh Mesir. Seakan Mursi lupa bahwa kemenangan tipis yang diperoleh kubu IM dalam referendum Mesir hanya diikuti oleh sekitar 60% penduduk. Artinya secara de facto kubu IM mendapatkan suara sekitar 30% masyarakat Mesir, dan itu tidak menjamin bahwa ketika mereka membuat kebijakan didukung oleh infrastruktur politik hingga tingkatan akar rumput.
  • Qadafi jatuh setelah adanya intervensi asing. Namun, motif kejatuhan Qadafi sendiri lebih disebabkan karena perselisihan antar suku di Libya yang sudah tidak bisa dibendung.
  • Krisis di Suriah berakar dari kebijakan Bashr Al-Assad yang membela kubu Syiah secara ekstrim. Hal ini memicu kemelut dari warga Sunni di Suriah. Belum lagi bila memperhitungkan faktor geopolitik, arus logistik dan bantuan ke Suriah mengalir untuk kedua kubu karena posisinya yang strategis. Hal ini menyebabkan implikasi yang cukup logis bila perang terus berlanjut di sana.
  • Terakhir, ISIS di Iraq. Sangat jelas di media internasional bahwa perdana menteri Iraq (Nur Maliki) mirip dengan Bashr Al-Assad di Suriah. Maliki membela kubu syiah secara ekstrim dan menekan kubu Sunni secara terang-terangan untuk menjadi Syiah. Seakan lupa padahal telah diingatkan oleh ulama besar di sana, Maliki tidak peduli terhadap kubu Sunni di Iraq dan suku Kurdistan di sana. Dari tekanan inilah memicu masyarakat di sana melakukan pemberontakan.

Dari kelima contoh di negara Arab tersebut, terdapat pola yang menarik untuk diamati:

  • Setiap negara Arab memiliki berbagai suku atau kubu yang keras mempertahankan pendiriannya.
  • Pemimpin negara Arab terbiasa memimpin dengan keras sekaligus membela kubunya dalam pemerintahan. Dari lima contoh di atas, hanya Qadafi yang bisa membaur dan menjadi pemersatu suku-suku di negaranya. Walaupun pada akhirnya jatuh juga.
  • Karakter keras yang dimiliki masyarakat Arab berimplikasi pada saling membalas dengan cara keras.

Melihat pola tersebut, dapat ditarik hipotesis bahwa kemunculan ISIS adalah hal yang wajar. Konflik ISIS ini bila terus berlanjut mungkin saja membuat negara Iraq terpecah menjadi dua atau tiga negara. Namun, cukup aneh mengamati konflik ini bisa menjadi isu internasional. Padahal dari beberapa media yang saya ikuti, justru para pemimpin negara Arab hampir tidak ada yang berkomentar terkait isu ini. Malah banyak komentar-komentar resmi dari negara barat. Mirip dengan kejadian ketika kejatuhan Mursi.

Artinya apa? Sentimen masyarakat Arab melihat isu ISIS ini sebagai isu internal. Jadi ketika mereka merekrut anggota dari berbagai negara islam, saya lebih melihat itu sebagai metode untuk menambah SDM di tengah keterbatasan. Dan lebih lucu lagi ketika melihat ada yang mendukung ISIS sebagai kebangkitan negara islam. Konsep pemberontakan ISIS sama sekali tidak membawa nilai islam (menurut saya). Saya secara pribadi menganggap sah-sah saja bila sekumpulan rakyat melakukan pemberontakan kepada pemimpin yang tidak adil. Namun jangan sampai juga menutup mata pada fakta yang terjadi sehingga terbawa situasi dan membela ISIS karena sentimen agama, bahkan memandang ISIS adalah benar dan mengikuti sunnah ketika mereka melakukan hal yang salah.

Categories: Coretan Tags: , , , ,
  1. 05/08/2014 at 06:17

    Sunni sama syiah sbenernya bisa damai gak sih mil? Ada bukti konkrit dimana gitu ketika 2 aliran ini bisa damai

    • 05/08/2014 at 17:27

      Sebetulnya bisa kalo mau, De. Bukti konkretnya bisa diliat di negara besar yang sudah stabil secara politik. Contohnya di Arab Saudi (Sunni, Wahabi) dan Iran (Syiah).

  2. 09/01/2015 at 04:32

    Susah ya, tapi bukannya impossible. Bangga akan keyakinan sendiri ya harus, tapi mengucapkan apalagi dengan cara provokosi kalo keyakinan lain salah, adalah tidak bener. Apalagi sampai memaksa orang tuk berpindah keyakinan, that’s so wrong. Harusnnya berlaku ” Lakum DInukum Waliyadiin”, kalo itu diterapkan ,insyallah bisa rukun, gak hanya diantara Syiah dan SUnni, tapi juga dengan Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, Sinto…dll

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: