Home > Coretan > Cerita Mudik: PRT yang Cerdas dan Berada

Cerita Mudik: PRT yang Cerdas dan Berada

 

mudik

Dalam beberapa tahun terakhir saya sangat jarang berada di rumah saya di Jakarta. Hampir seluruh kegiatan saya dilakukan di Bandung dan kadang di Bogor. Rumah di Jakarta pun menjadi terbengkalai karena hanya dihuni oleh ayah saya yang itu pun belum tentu setiap hari di rumah. Karena rasanya tidak tega melihat rumah terbengkalai, ayah meminta dicarikan dua orang pembantu rumah tangga di kampung melalui adiknya. Alhasil, pekerjaan rumah tangga di rumah saya di Jakarta pun dibantu oleh dua orang pembantu dimana yang satu masih kecil seumuran remaja dan yang satu lagi adalah seorang bibi yang sudah tua, bahkan sudah punya cucu.

Selama tiga tahun terakhir di rumah saya pun sangat jarang berinteraksi dengan Bibi yang bernama Jamliyah. Saya hanya sempat berinteraksi cukup banyak di bulan ramadhan tahun ini diman saya mulai sering tinggal di Jakarta. Bibi Jamliyah ini sangat luar biasa, selalu bangun sebelum subuh setiap harinya. Selalu mengusahakan berjamaah di masjid khususnya waktu zuhur dan ashar. Selain itu, beliau pun juga sangat rajin mengerjakan tugas rumah tangga, bahkan lebih dan mengambil inisiatif. Sungguh beruntung ayah saya mendapati pembantu rumah tangga seperti bibi Jamliyah.

Singkat kata, tahun ini Bibi Jamliyah ingin menyudahi baktinya merawat rumah saya di Jakarta. Beliau pulang ke kampungnya dan saya bermaafan serta mengantarnya pulang ketika itu. Tanpa terasa, beban merawat rumah pun menjadi sangat berbeda ketika tidak lagi dibantu Bibi Jamliyah.

Ketika mudik, ayah menyempatkan bersilaturahmi ke rumah Bibi Jamliyah di kampung. Ternyata, sungguh di luar dugaan. Beliau bukanlah orang yang kekurangan dan kesulitan makan sehingga bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Beliau adalah orang berada, anak-anak beliau ada yang akan dan sudah naik haji. Beliau dikelilingi oleh cucunya yang mulai besar yang ternyata inilah alasan utama beliau ingin menyudahi bekerja di rumah saya di Jakarta.

Rasanya jadi tidak aneh dan wajar kalau bibi Jamliyah memiliki disiplin yang tinggi, rajin beribadah dan bekerja ketika merawat rumah saya. Rupanya beliau menjadi pembantu di Jakarta memang karena bujukan adik dari ayah saya. Beliau ingin tetap produktif di usianya yang sudah senja dan tidak menolak untuk membantu orang yang dihormati olehnya. Beliau juga ingin mandiri dan tidak tergantung kepada anak-anaknya walaupun sudah kerja semua dan menjadi orang yang berada.

Di saat banyak pembantu rumah tangga yang terkena kasus di kota besar, justru saya tidak banyak belajar dan meremehkan apa yang telah dilakukan oleh beliau. Sungguh luar biasa bisa bertemu orang yang ikhlas membantu seperti bibi Jamliyah. Semoga Allah bisa membalas kebaikan beliau dengan layak.

Categories: Coretan Tags: , , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: