Home > Coretan > Tanah Air Asing, Bangsa Koruptor, Bahasa Alay

Tanah Air Asing, Bangsa Koruptor, Bahasa Alay

Diambil dari: twitter @derianzachary

Diambil dari: twitter @derianzachary

 

Kemarin tanggal 28 Oktober 2013, hari peringatan sumpah pemuda. Yup, dulu pemuda-pemuda kita berkumpul dan berjuang untuk menyatakan bahwa kita adalah satu Indonesia. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.

Kalau sekarang, Satu nusa?

Makin banyak kita bergantung pada asing, makin banyak sumber daya negeri yang dijual ke asing karena kita tidak mampu mengolahnya. Negeri ini tidak mandiri untuk mengolah tanah dan airnya sendiri. Tanah tidak punya, air pun mahal. Kongkretnya? Sudahkah kita masing-masing bisa mandiri dalam mengejar cita-cita kita?

Kalau saya sih masih belum.

Satu bangsa?

Lebih banyak yang memikirkan dirinya sendiri. Kalau kata Pak BR, dosen saya di kuliah Keamanan Informasi mengatakan “Buat apa kita pintar dan jago kalau tidak bisa memberikan kontribusi bagi sekitar, khususnya bangsa ini”. Konkretnya? Mungkin terlalu muluk untuk bicara tentang bangsa di usia muda. Tetapi ketika tidak memikirkan sama sekali? Ketika tidak peduli dengan kondisi sekitar? Ketika justru dari sana malah merugikan orang lain dengan cara korupsi?

Jujur lagi, saya sebagai pemuda masih egois dan individualis.

Satu bahasa?

Bahasa alay lebih banyak digunakan. Makin sedikit yang mengenal KBBI. Makin banyak yang mencampuradukkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia, sebug saja Vickynisasi. Tidak masalah jago bahasa asing. Tapi kalau tidak punya pemahaman dan prinsip penggunaan bahasa Indonesia yang baik? Itu merupakan produk budaya kita lho. Hal yang mengikat negeri maritim kepulauan yang begitu luas ini.

Kalau saya? Boro-boro buka KBBI, penggunaan majas dan tata tulis saja masih berantakan.

Perjuangan tiap masa beda. Seperti kata Bung Karno, kalau dulu para pejuang melawan penjajah, sekarang para pejuang khususnya pemuda harus melawan bangsanya sendiri dari keterpurukan. Walaupun lawan berbeda, semoga semangat tersebut tetap terwariskan ke kita semua tanpa melupakan nilai-nilai perjuangan dari para pendahulu.

Sedikit coretan di pagi hari.

#MudaItuBernilai

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: