Home > Coretan > Bukti Nyata dan Pengincar Jabatan

Bukti Nyata dan Pengincar Jabatan

pemimpin

Belum lama ada anak 2012 cerita kalau beberapa teman-temannya di calon panitiya OSKM ngincar posisi perangkat (jabatan tinggi di bidang lapangan). Ketika ditanya alasannya apa, anak ini jawab supaya bisa kontribusi lebih. Ada juga yang ingin (sebut saja) eksis. Buat saya, aneh juga rasanya pola pikir ngincar jabatan buat ngasih sesuatu. Apalagi supaya eksis.

Dari sana, saya jadi bertanya tentang pemimpin ke diri sendiri: Kenapa ya walaupun yang dilakukan Pak Jokowi buat Jakarta biasa-biasa aja bisa begitu dikagumi? Kenapa ya Pak JK walaupun udah gak jadi pemimpin negeri ini dielu-elukan anak muda? Atau Pak RK di Bandung gembar-gembor tentang kreatif  banyak yang mendukung gagasan beliau? Tapi di satu sisi, ada pakar telematika yang justru selalu dihujat tiap ngasih pandangan tentang IT, atau para pembawa suara rakyat yang suci justru dihujat habis-habisan di media. Di level kampus saya (ITB) sama saja, ada pemimpin hebat yang saya kenal cukup dekat selama berkuliah. Mereka setiap memberi pendapat disetujui dan didukung oleh banyak pihak. Ada pula pemimpin yang sebaliknya.

Iya sih, Pak Jokowi memang biasa-biasa saja, tapi beliau sangat gigih memperjuangkan apa yang dibawanya secara konsisten sejak menjadi walikota Solo hingga Gubernur DKI. Pak JK walaupun kontroversial, beliau membuktikan bahwa beliau negarawan yang unggul dengan membuat banyak terobosan selama menjadi wakil presiden. Sebut saja ketika beliau mendamaikan kisruh GAM atau ketika menaikkan harga BBM (tanpa banyak gonjang-ganjing seperti sekarang). Kemudian, Pak RK membuat “Bandung Creative City Forum (BCCF)” yang menaungi banyak komunitas di Bandung.

Kemudian untuk teman-teman 2012 yang mengincar jabatan di kampus (khususnya OSKM), coba kita lihat lingkungan kampus ITB kita. Akan berbeda antara orang yang mengincar jabatan dengan yang memang layak memegang jabatan. Berbeda ketika Gumi (TA 08) ngoceh tentang Kongres dan kebijakan kampus, ketika Asep (KL 08) ngoceh tentang filosofi kemahasiswaan, ketika Ardhin (IF 09) ngoceh tentang Pemira, ketika Adhiguna (IF 09, Mapres 3 ITB) ngoceh tentang pentingnya keseimbangan organisasi dan akademik, ketika Yorga (MRI 09) ngoceh tentang aksi, Yudki (PN 09) ngoceh tentang konkrit, atau ketika Firman (EL 09, Intern di CERN) ngoceh tentang keprofesian dan pendidikan.

Mereka berbuat dulu, memberikan sesuatu yang bermanfaat, baru diakui oleh sekitarnya dan “naik jabatan”. Mereka memberi bukti, baru berbicara dan menjadi pemimpin. Bukan sebaliknya. Sedikit men-quotes dari komik Naruto: “Kamu punya sesuatu yang diakui semua orang, baru bisa menjadi hokage. Bukan kamu menjadi hokage kemudian kamu diakui oleh semuanya”.

Penulis bagaimana?

Saya sendiri mahasiswa tingkat akhir biasa, masih berjuang mengerjakan tugas akhir dan ngoceh curhat amburadul di blog ini sembari bosan. Jujur aja, walaupun pikiran saya udah gak ke hal semacam ini tapi cerita anak 2012 itu maksa untuk #Refleksi.

Nb: Mohon doa dari yang baca ya supaya TA saya beres secepetnya ya.🙂

  1. 23/09/2013 at 18:39

    boleh tau ga, siapa-siapa saja yang kaka percayai denga ikhlas memangku jabatannya saat ini dan percaya dia akan menjadi amanah ?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: