Home > Coretan > Katak Dalam Tempurung

Katak Dalam Tempurung

katak

“Katak yang hanya berada dalam tempurung tidak akan pernah memahami dan merasakan apa itu langit”, (Seorang sahabat).

Kadang kita merasa diri kita lebih baik dari orang lain dan menganggap apa yang dikerjakan orang lain adalah sesuatu yang sesat atau tidak berguna. Padahal, bisa saja selama ini kita hanya berada dalam dunia kita dan tidak pernah tahu ada suatu dunia yang benar-benar berbeda. Hal seperti ini pernah terjadi kepada saya, dan juga mungkin teman-teman saya.

Contoh yang paling nyata di sekitar saya adalah mindset  berseberangan yang dimiliki oleh golongan akademisi dan aktivis, atau yang dimiliki oleh orang yang mengerjakan suatu hal secara praktis dan yang mengerjakan secara teoretis, atau bisa juga bari para penggemar seni dan seseorang yang sangat teknis.

Ketika dua mindset yang sangat berseberangan bertemu, wajar saja bukan ketika mereka akan saling memandang bahwa hal yang dilakukan oleh temannya itu adalah hal aneh? Dan tidak mungkin bukan ketika seseorang dipaksa untuk menjalani dunia berbeda yang dirasakan oleh orang lain?

Kita akan menjadi katak dalam hal-hal tertentu, dan mungkin akan berada di suatu langit bagi orang lain. Ada kalanya kita sulit memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, dan begitu pula dengan orang lain terhadap kita. Namun, bukan berarti kita tidak menghargai apa yang dilakukan oleh orang lain dan menganggap itu adalah seuatu yang salah bukan?

Bisa dibayangkan ketika semua orang di seluruh dunia hanya tertutup terhadap dunianya. Tidak akan ada kerja sama dan inovasi. Sebagai contoh, suatu rumah yang hanya dibangun oleh arsitek hanya akan menjadi blueprint, akademisi yang hanya memikirkan nilai di perkuliahan tidak akan bisa membuat perubahan bila tidak berani terjun dan melakukan sesuatu dengan ilmunya, aktivis yang tidak memikirkan keilmuannya hanya akan terasa hambar, teknisi yang tidak memikirkan hal sosial hanya akan menjadi tukang tanpa tujuan, politisi yang tidak melihat langsung apa yang ada di bawah hanya mampu memberikan manfaat bagi kalangan elit, dan lain sebagainya.

Hanya dengan kerja sama, menghargai apa yang dikerjakan orang lain dan saling mendukung lah kita bisa hidup hingga saat ini. So, untuk apa saling men-judge bahwa orang lain itu salah padahal kita tidak pernah berada di dunianya. Mengapa kita tidak mau membantu ketika orang lain meminta bantuan? Dan mengapa kita tidak mau mendengarkan orang lain walaupun mungkin kita belum mampu memahami dan mungkin dirasa mengganggu? Lebih baik kita abaikan ketidaksukaan kita, menghargai, dan saling mendukung satu sama lain untuk membuat hal yang lebih besar bukan?

Kalau kata slogan kampus saya, “In harmonia progresio”. Yuk!

.Seorang Peracau.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: