Home > Coretan > Drama Klasik Polisi, Pencitraan KPK dan Media Bertuhan Rating

Drama Klasik Polisi, Pencitraan KPK dan Media Bertuhan Rating

Beberapa hari ke belakang ini, media-media nasional diramaikan oleh berita seteru KPK dan Polri. Panasnya isu ini membuat saya ingin ikut berbagi pandangan mengenai apa-apa saja yang saya ketahui terkait isu ini supaya bisa mendapatkan pandangan yang menyeluruh.

Dalam pandangan saya, seteru antara KPK dan Polri ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun, kini masyarakat Indonesia sudah semakin jenuh dan paham terhadap korupsi sehingga perseteruan klasik ini meledak di berbagai media nasional. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan indeks pemahaman korupsi negeri kita secara perlahan tapi pasti [1].

Kalau berbicara tentang Seteru KPK dan Polri, tampaknya kita harus menelaah ulang dari awal terbentuknya KPK.

Era KPK Terbentuk

Korupsi telah menjadi kejahatan yang sangat familiar di negeri kita. Pada tahun 2002 lalu pemerintah kita menggagas perlu adanya suatu lembaga yang memiliki wewenang untuk menyadap, menangkap, menginterogasi, dst hingga ke meja pengadilan dalam lingkup kejahatan terkait korupsi. KPK menjadi suatu lembaga super yang wewenangnya sangat besar untuk penanganan kasus korupsi.

Dalam pembentukannya KPK juga memiliki aturan dimana kasus terkait korupsi yang ditemukan oleh KPK menjadi wewenang KPK hingga maju ke pengadilan. Hal ini juga berlaku bagi Polri dan Kejaksaan sebagai lembaga Hukum.

Masalah KPK Sejak Dulu

Walaupun KPK memiliki wewenang yang sangat kuat, sangat disayangkan KPK tidak memiliki penyidik independen. Hal ini menyebabkan semua penyidik KPK berasal dari Kepolisian dan Kejaksaan atau dengan kata lain outsource. Anggota KPK bukanlah orang dengan latar belakang yang kuat di bidang penegakkan hukum.

Ketiadaan penyidik independen ini sangat mempengaruhi kinerja KPK, khususnya ketika hubungan dengan kejaksaan dan kepolisian sedang tidak harmonis.

Era Taufiqurrahman Rukie

Pada era kepemimpinan Taufiqurrahman, penyidikan yang dilakukan KPK berjalan lancar walaupun ada selentingan dari Bu Mega dimana tersangka dominan saat itu berasal dari PDI-P. Taufiqurrahman Rukie sendiri adalah mantan ketua Badan Intelijen Negara.

Saat kepemimpinan beliau, dapat dilihat penyidik dari kepolisian dan kejaksaan sangat patuh dan tidak berani membelot. Dengan sedikit analisis, hal tersebut logis bila dihubungkan dengan latar belakang beliau sebagai ketua BIN. Beliau relatif lebih ditakuti dibanding ketua-ketua KPK setelah beliau. Bahkan, dari beberapa sumber disebutkan bahwa penyidik KPK saat itu diintai oleh intel-intel beliau.

Era Antasari Azhar

Di era kepemimpinan Antasari, penyidik KPK masih loyal dalam membantu menyelesaikan kasus-kasus korupsi. Penyidik di bawah kepemimpinan beliau pun masih loyal. Bila menganalisis latar belakang beliau sebagai jaksa yang berkarier dari bawah hingga menjadi kepala kejaksaan negeri Jakarta Selatan, wajar bila penyidik dari kejaksaan patuh terhadap beliau. Terlepas dari kontroversinya saat itu, dalam pandangan penulis beliau termasuk ketua KPK yang bisa menjaga kestabilan KPK. Apalagi beliau memiliki hubungan baik dengan Kapolri saat itu, Bambang Hendarso danuri.

Awal Perseteruan Polri dan KPK

Sebagai mahasiswa yang hanya mengamati dari koran, penulis mengasumsikan awal perseteruan Polri dan KPK ini terjadi saat era Antasari Azhar. Ketika itu ramai di media dimana tim Teknologi Informasi KPK menyadap pejabat tinggi di kepolisian. Selama ini (hingga era Abraham Samad) KPK menjaga jarak dari kasus korupsi yang terjadi di kepolisian (motif tidak diketahui).

Sejak saat itu penyidik dari kepolisian mulai membelot dari KPK. Bahkan ketika itu Kepolisian terkesan ngambek hingga menarik pengawal Mahfud MD yang mendukung KPK dan mempertanyakan komitmen Polisi terhadap penyidik yang bekerja di KPK [2].

Tidak lama setelah kejadian-kejadian itu, terjadi kasus yang menghebohkan seantero negeri dimana Antasari menjadi otak pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Terlepas dari konspirasi bahwa Antasari dikriminalisasi, saat itu kekuatan KPK dalam menjalankan fungsinya goyah. Antasari pun diberhentikan dan digantikan oleh wakil ketuanya, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.

Era Busyro Muqoddas

Busyro Muqoddas merupakan ketua KPK setelah Antasari Azhar [3]. Di era Busyro Muqoddas, dalam pandangan penulis KPK terlihat lebih stabil dibandingkan saat kepemimpinan Bibit-Chandra. Namun, di era Busyro Muqoddas ini DPR menjadi target utama tersangka korupsi. Pada saat KPK dipimpin oleh Busyro, DPR menjadi bulan-bulanan masyarakat dan media karena banyaknya kasus korupsi yang ditangani KPK.

Sudah menjadi rahasia umum DPR dengan fungsi anggaran merupakan lahan basah dalam mencari uang. Namun, justru penangkapan-penangkapan yang terfokus pada anggota DPR menurut penulis menjadi awal dari usaha pelemahan KPK secara sistem melalui Rancangan Undang-Undang Revisi KPK yang ramai sekarang.

Era Abraham Samad [4]

Abraham Samad merupakan ketua KPK setelah Bustro Muqoddas hingga saat ini. Walaupun memiliki Track Record yang bagus sebagai Pengacara dan memimpin LSM anti korupsi, menurut subjektif penulis beliau tidak memiliki kekuatan seperti pendahulu-pendahulunya dalam menstabilkan KPK.

Mudah saja, hal ini terlihat dari jumlah kasus yang sudah diselesaikan oleh KPK pimpinan beliau. Bila publik mau melihat, jumlah tersebut sangat minim dan bisa dikatakan sebuah prestasi yang sangat menurun [2].

Namun, ada hal yang menarik. Beliau mampu membaca kondisi psikologis (konteks sosial) yang ada di masyarakat dimana masyarakat Indonesia sudah sangat jenuh dengan kata korupsi. Sedikit saja ada yang berhubungan dengan korupsi, masyarakat akan langsung bergejolak. Ada perbedaan pandangan atau perlawanan terhadap KPK, maka dia akan mendapatkan “cap” korup dari masyarakat.

Pada era Abraham Samad, penulis melihat KPK sekarang lebih banyak pencitraan dibandingkan prestasi atas kasus yang diselesaikan. Entah memang karena kekuatan untuk menstabilkan penyidik yang berasal dari kepolisian atau kejaksaan tidak sekuat pimpinan sebelumnya, yang pasti KPK sekarang sangat menurun.

Pelemahan KPK Paling Aktual

Kekuatan KPK yang semakin lemah ini, seakan-akan menjadi celah untuk pelemahan KPK secara sistem dan SDM. DPR mulai berani mengajukan Revisi terhadap Undang-Undang KPK yang dirasa terlalu kuat dalam penanganan kasus korupsi. Polisi mulai menarik satu per satu penyidiknya dari KPK sehingga kinerja KPK tidak maksimal.

Dan yang terbaru adalah Novel Baswedan diciduk sebagai tersangka kasus penembakan sehingga harus ditarik ke kepolisian. Aneh, orang yang menjadi kunci penanganan berbagai kasus justru ditarik untuk disidik karena terkait suatu kasus. Padahal ketika kasus penembakan itu terjadi tahun 2004 polisi mengabaikan begitu saja.

Namun, hal ini wajar karena kasus paling aktual yang diselidiki oleh KPK adalah kasus Simulator SIM dimana bila aliran dana dalam kasus ini ditelusuri bukan tidak mungkin akan banyak polisi mulai dari kopral hingga jendral menjadi tersangka (Lagi-lagi subjektif penulis).

Kesimpulan Penulis Terhadap Drama Ini

Dari sumber-sumber yang ditelusuri oleh penulis, kesimpulan menurut subjektif penulis adalah sudah jelas bahwa sekarang ini Badan Legislatif negara kita (DPR) dan Penegak Hukum tidak serius menangani korupsi yang marak di negeri kita. Perlu adanya ketegasan dari presiden terhadap kepolisian dalam membantu KPK menangani kasus ini. Bila indikasi pelemahan terhadap KPK ini dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin negeri kita akan semakin hancur dan tidak ada harapan karena korupsi yang semakin merajalela.

Sekian ulasan dan opini penulis terhadap isu perseteruan KPK dan Polri saat ini. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca khususnya yang mengharapkan korupsi bisa hilang dari negeri tercinta kita ini.🙂

Referensi:

[1] http://hukum.kompasiana.com/2011/11/06/ketika-kepolisian-ngambek-kasus-dikritik-pedas-oleh-mahfud-md/

[2] http://www.facebook.com/note.php?note_id=10151177169421543&refid=17&ref=pb&_rdr

[3] http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/11/25/brk,20101125-294572,id.html

[4] http://nasional.kompas.com/read/2011/12/02/16051189/Abraham.Samad.Ketua.KPK

Categories: Coretan Tags: , , , ,
  1. Sthrattoff von Shutroheim :D
    10/10/2012 at 15:28

    ulasannya menarik, objektif (terlepas kata2 “subjektif penulis”)😀 dan menurut saya pembahasannya tidak termakan arus mainstream…

    • 11/10/2012 at 14:19

      Makasih masukannya. Jujur, penulis memang masih belum pede untuk membuat tulisan semacam ini. Hehe.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: