Home > Coretan > Analisis Polemik Hari Idul Fitri 1 Syawal 1432H dari Sisi Astronomi dan Dalil

Analisis Polemik Hari Idul Fitri 1 Syawal 1432H dari Sisi Astronomi dan Dalil

Tulisan ini saya buat karena banyaknya yang bingung kapan memilih hari lebaran. Fenomena tahun ini menurut saya cukup unik dan memberi peringatan bahwa sudah saatnya ormas-ormas Islam tidak menilai sesuatu secara parsial. Sudah saatnya bangsa ini menilai segala sesuatu secara komprehensif dari sisi agama, ijtihad-ijtihad yang ada hingga ilmu sains yang berkembang karena pada dasarnya semua hal tersebut pasti sejalan dan berhubungan.

Dulu sebelum masuk kuliah saya pernah belajar astronomi kurang lebih tiga tahun di Insan Cendekia. Dengan dasar-dasar yang pernah saya dapatkan alhamdulillah tidak begitu sulit memahami dan mencoba metode hilal baik secara ilmiah atau pun dari sudut pandang ilmu agama.

Berikutnya, tulisan di bawah ini adalah paparan dan analisis saya pribadi.

Prinsip Paling Dasar untuk Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan :

Sabda Rasulullah saw :

لا تصوموا حتى تروا الهلال ، ولا تفطروا حتى تروه ، فإن غمى عليكم فاقدروا له. و في رواية  فاقدروا له ثلاثين

” Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh.” (HR Muslim)

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

“Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas jelas bahwa kita diperintahkan untuk mengawali dan mengakhiri puasa dengan berpatokan pada bulan.

Metode Wujudul Hilal, di Indo populer disebut “Hisab”:

Metode ini adalah dengan menghitung posisi bulan di bola langit. Biasa digunakan oleh ormas Muhammadiyah di Indonesia. Prinsip metode ini :

  1. Konjungsi / Fase Bulan Baru sudah masuk sebelum matahari tenggelam.
  2. Saat matahari tenggelam, posisi bulan sudah di atas ufuk.

Metode Imkanur Rukyat, di Indo Populer disebut “Rukyat”:

  1. Konjungsi / Fase Bulan Baru sudah masuk sebelum matahari tenggelam.
  2. Umur Bulan Baru minimal sudah mencapai 8 jam.
  3. Jarak Bulan dari horison minimal 2o lengkung langit saat mengamati hilal.
  4. Jarak Bulan-Matahari di Bola langit minimal 3o lengkung langit.

Metode Rukyat Global (Dengan Referensi Arab Saudi):

Metode ini cukup dengan mengikuti kapan Arab Saudi lebaran. Metode ini biasa dilakukan oleh negara-negara yang tidak memiliki SDM muslim yang memahami astronomi secara mumpuni, khususnya Bola Langit.

Pertanyaan, jawaban, serta analisis saya :

1. Kelebihan dan Kekurangan Metode.

  • Q : Apa kelebihan dan kekurangan masing-masing metode?
  • A : Kelebihan Hisab/Wujudul hilal adalah dapat dilakukan kapan saja bahkan hingga ribuan tahun ke depan. Kekurangannya penerapan hadits nabi yang menjadi prinsip penentuan tidak maksimal.
  • A : Kelebihan Imkanur Rukyat (dengan peralatan astronomi tentunya) adalah ketepatan dalam menghitung awal dan akhir ramadhan karena metode ini tentunya mutlak membutuhkan hisab terlebih dahulu untuk waktu pengamatan serta posisi pengamatan bulan di bola langit. Kekurangannya adalah membutuhkan teknisi yang memahami astronomi secara baik mulai dari tahap menghitung, mengamati hingga mengambil kesimpulan. Selain itu perlu adanya peralatan untuk pengamatan.
  • A : Kelebihan Rukyat Global adalah tidak perlu pusing-pusing, tinggal ikut pemerintah arab sebagai patokan. Kekurangannya adalah yang menjadi referensi rukyat hanya satu tempat padahal perubahan fase bulan dinamis setiap detiknya. (Hal yang menyebabkan hasil rukyat di berbagai tempat bisa berbeda).

2. Tidak ada metode yang benar, adanya yang lebih baik.

  • Q : Diantara metode-metode di atas yang bener yang mana?
  • A : Menurut saya semua metode tersebut sudah benar, namun hanya secara parsial. Metode hisab benar secara prediksi, namun pincang karena tidak ada pembuktian. Metode Ikmanur Rukyat juga masih tidak sempurna karena kondisi cuaca dan polusi cahaya di era modern ini tidak bisa dipastikan, sehingga pengamatan terkadang banyak yang gagal. Metode Rukyat Global hanya akurat di tanah Arab. Selama kita punya SDM yang cukup kenapa tidak berijtihad untuk negara/daerah sendiri?

3. Perhitungan Posisi Benda-Benda Langit.

  • Q : Itu Gimana ya Cara ngitung posisi-posisi bulan, matahari dsb di bola langit?
  • Secara Astronomi :

Kalau saya caranya mengumpulkan data untuk fase bulan, posisi pengamatan, Right-Ascension & Declination dari bulan dan matahari kemudian saya plot ke dalam koordinat ekuatorial dan menggabungkannya dengan koordinat horison. Dari sana didapatkan sudut-sudut yang membentuk segitiga bola, kemudian hitung jarak lengkung langit antara horison dan bulan serta matahari dan bulan ketika matahari tenggelam. Nah, dari sana sesuaikan dengan kriteria hisab dan rukyat.

  • Secara Gampang :

Download software stellarium, plot posisi dan waktu pengamatan anda. Kemudian “lock-on” kursor pada benda langit yang dicari (Bulan). Lihat data yang ada di sana. Sesuaikan dengan kriteria hisab dan rukyat.

4. Hasil Perhitungan Saya

  • Q : Hasilnya gimana?
  • A : Kalau hitungan secara astronomi bisa langsung minta ke saya. Dari Software kurang lebih seperti ini untuk plotting daerah jakarta pada 29 Ramadhan 1432H:

5. Kesimpulan dari Gambar

  • Q : Dari gambar di atas kesimpulannya gimana?
  • A : Kalau mengambil kriteria bulan hilal terlihat untuk mengakhiri ramadhan, berdasarkan gambar ini berarti  1 Syawal 1432H jatuh pada 31 Agustus 2011 untuk daerah jakarta dan sekitarnya.

6. Mengenai Perbedaan beberapa Ormas

  • Q : Kok ormas-ormas Islam Indonesia malah jadi beda lebarannya?
  • A : Bisa diliat dari gambar di atas bahwa kondisi bulan tidak memenuhi syarat untuk bisa dilihat, namun sangat tipis dengan syarat paling minimal untuk dilihat. (Dari jarak horison-bulan dan kecerlangan bulan). Tentunya, dengan prinsip-prinsip ormas yang masih menilai secara parsial akan menyebabkan perbedaan hari lebaran.

7. Mengenai Shalat Ied dan Puasa tanggal 30-nya.

  • Q : Kalo gitu yang salah puasa / shalat iednya bakal haram dong?
  • A : Tenang aja, selama memegang prinsip masing-masing dan tidak ikut-ikutan atau ngasal dalam memilih dibolehkan (30 Ramadhan tetap puasa, 1 Syawal tetap Shalat Ied).

FYI Bulan itu dinamis, begerak setiap detik. Ketika kondisinya hilal benar-benar di “perbatasan”, bahkan jarak satu meter pun bisa beda hasil hisab dan rukyatnya.

8. Mengenai Perbedaan berbagai negara.

  • Q : Kok di negara-negara lain beda-beda?
  • A : Kondisi Geografis sangat berpengaruh terhadap pergerakan benda langit yang tampak. Beda lintang dan beda bujur bisa menyebabkan kondisi langit berbeda.

9. Kenapa ada negara yang mustahil melihat hilal malah lebaran duluan?

  • Q : Kalau di Jepang dan sekitarnya yang hilal mustahil terlihat kok lebarannya duluan?
  • A : Setahu saya mereka menggunakan rukyat global. Wajar saja, tidak banyak muslim yang paham ilmu astronomi untuk mengamati hilal (Atau bahkan ga ada ya?). Selain itu ada negara yang karena faktor politis mengikuti rukyat global sebagai penentuan.

10. Perpecahan karena beda lebaran?

  • Q : Lebaran beda-beda bikin terlihat pecah, gimana pendapat penulis?
  • A : Ya, benar sekali. Menurut saya Indonesia dengan umat islam yang sangat besar cukup memalukan tidak memiliki satu standar untuk menentukan awal dan akhir ramadhan. Ormas-ormas menggunakan metodenya sendiri seakan “tutup mata” dengan metode lain. Seandainya semua mau menyatukan pemahaman dan tidak mementingkan ego hal ini tidak perlu terjadi.

11. Perihal Koreksi Kalender

  • Q : Nanti 2 dan 3 Syawal 1432 H serta 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada tanggal berapa dalam Masehi? Kenapa pernah tiba2 bisa loncat langsung tanggal 3 Syawal tanpa 2 Syawal?
  • A : Belum bisa ditentukan, kalo penasaran dari hisab, silakan dihitung dari fase bulannya. Data ada banyak di internet. Atau kalo mau ngeliat rukyatnya bisa buka stellarium/starrynight/dsb.
    Kalo tanggalan loncat itu dibutuhkan untuk koreksi kalender. Dulu pas abad pertengahan, ketika kalender masehi belum stabil ada koreksi semacam ini juga. Sekarang ketika udah stabil koreksi dilakukan 4, 100 dan 400 tahun sekali.
  • A : Untuk tanggal 2 dan 3 syawal seyogyanya masih berbeda-beda, tapi kalau melihat akumulasi hari di siklus bulan qomariyah, IMO tanggal 1 Dzulqaidah 1432H bakal barengan. Atau bisa juga dengan solusi di atas. Untuk tanggal 1 tahun depan, kita berharap aja pemerintah dan ormas-ormas udah punya satu standar.🙂

12. Perihal Sidang Isbat hanya untuk Ramadhan

  • Q : Kalau memang mau rukyat + sidang isbat, kenapa 11 bulan lainnya nggak, malah hisab?
  • A : Karena Perintah Rasul untuk Ramadhan perlu berpatokan pada kepastian fase bulan. Seperti prinsip pada dua hadits di atas (Bulan dinamis, supaya lama puasa adil untuk semua bagian dunia?). Bulan lain boleh dengan hisab saja (Memungkinkan adanya kesepakatan bersama?)

Ramadhan Itu Spesial Kawan

13. SOLUSI

  • Q : Solusinya gimana?
  • A : Kemaren kan para ormas udah dimarahin Profesor Thomas dan Pak Moedji dari ITB. Mereka mengatakan kalau Muhammadiyah lancang karena mengandalkan hisab saja tanpa mau rukyat. NU sendiri lontong karena tidak tegas dalam memberi prediksi lebaran sejak awal serta kurang komprehensif dalam menerapkan ilmu modern. Pemerintah sendiri payah karena menyebabkan kebingungan di masyarakat. Dan Masyarakat menurut saya masih acuh-tak-acuh terhadap hal ini, khususnya yang muslim.

Kesimpulannya kita butuh satu standar yang bisa menyatukan semua pendapat dan petinggi Ormas jangan mementingkan ego masing-masing demi kepentingan semua umat.

14. Mari Memulai

  • Q : Siapa yang harus memulai?
  • A : Menurut saya yang paling bisa untuk memulai adalah akademisi, khususnya yang mengerti Astronomi. Sains dan ilmu agama tentunya berkorelasi satu sama lain. Harus ada yang mengkaji lebih dalam secara ilmiah kemudian menerapkannya dengan prinsip-prinsip agama. Bila hal itu semua (buat standar baru, hilangkan ego, satukan dengan sains) dilakukan, Insyaallah tidak akan ada lagi masalah lebaran yang beda di Indonesia.

Sekian.

Terima Kasih.🙂

—————————————

Emil Fahmi Yakhya

Teknik Informatika ITB 2009.

  1. 30/08/2011 at 12:50

    Pertanyaaan (saya/orang) yang belum ada di situ:
    – Nanti 2 dan 3 Syawal 1432 H serta 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada tanggal berapa dalam Masehi? Kenapa pernah tiba2 bisa loncat langsung tanggal 3 Syawal tanpa 2 Syawal?
    – Kalau memang mau rukyat + sidang isbat, kenapa 11 bulan lainnya nggak, malah hisab?
    – Bagaimana caranya biar orang mau dan mengerti tentang hal itu? Solusi dari jawaban solusinya seperti apa? haha (kalo yang ini ngetrik)

    • 30/08/2011 at 13:02

      Sudah saya jawab dipostingan.🙂

      • 31/08/2011 at 00:26

        Mestinya di sini juga bang, biar bisa dibaca publik juga.😀

  2. Sthrattoff
    30/08/2011 at 12:52

    btw jij lebaran kapan?😛

    • 30/08/2011 at 13:03

      Berhubung ga punya teleskop canggih buat hilal, ane ngikut pemerintah yang memang komprehensif dengan mencoba menggabungkan semua metode dan sumber gan.

  3. thoriq
    30/08/2011 at 14:04

    mantap kak.. nice info

  4. rumani
    30/08/2011 at 15:20

    Tp knapa yg berlebaran tgl 31 diseluruh dunia cma 4 negara? Indonesia,oman,new zealand, south africa, yg lain tgl 30.. Thx

    • 30/08/2011 at 15:28

      Karena kita termasuk negara yang memungkinkan untuk menggunakan Imkanur Rukyat. Kita punya SDM, ilmu dan peralatan yang cukup untuk mengkaji 1 Syawal 1432H. Banyak negara yang muslimnya tidak bisa melakukan imkanur rukyat sehingga hanya bisa menggunakan wujudul hilal atau rukyat global untuk penentuan.

      Peta Visibilitas hilal : http://rukyatulhilal.org/visibilitas/indonesia/1432/syawwal/syawwal1.jpg

      Dari peta di atas seyogyanya kita lebaran tanggal 31 Agustus 2011.

      CMIIW.

  5. 01
    30/08/2011 at 15:44

    Afwan, stau ane rukyat global ga ngandelin saudi. Di manapun di bumi Allah hilal tampak maka dikabarkanlah berita itu ke seantero jagad n dmulailah bulan baru. Mohon koreksi..

    • 30/08/2011 at 15:49

      Iya. Tapi sayangnya karena bulan dinamis, banyak yang bingung siapa yang jadi patokan karena fase bulan ketika masuk ke daerah masing-masing berbeda (Sulit dilakukan di era modern).

      Nah, oleh karena itu banyak yang menjadikan rukyat dari arab saudi sebagai acuan untuk memulai dan mengakhiri puasa. (Mestinya namanya diganti jadi rukyat global dengan referensi saudi ya..)

      Terima kasih masukannya.

  6. bauasem
    30/08/2011 at 22:25

    satu pertanyaan ya🙂
    yang menurut saya masih perlu dipertanyakan adalah,
    mengapa harus ada patokan posisi bulan 2 derajat dari ufuk ?
    bukankan 0,01 derajat lewat dari ufuk sudah merupakan bulan baru ?

    hal inilah yang menyebabkan perbedaan hari lebaran🙂 karena sebenarnya hilal sudah terlihat di pelabuhan ratu pada ketinggian 1,3 derajat diatas ufuk,
    Muhammadiyah menerima hal itu sebagai kemunculan bulan baru, namun sebagian lainnya tidak menerimanya karena dianggap kurang dari 2 derajat,

    Padahal kalau mengutip perwakilan dari Boscha saat sidang kemarin, jika ingin melihat hilal secara langsung, kriteria 2 derajat itu kurang😉
    Jika ingin melihat dengan mata telanjang diperlukan kurang lebih 7 derajat, namun dengan kecanggihan teknologi seperti teleskop dengan CCD-Imaging saya rasa tidak perlu setinggi itu🙂

    jadi inti pertanyaan saya adalah perlukah batasan 2 derajat itu ?

    • 31/08/2011 at 03:40

      Saya juga sebenarnya merasa 2 derajat itu kurang. Tapi tentunya munculnya parameter dua derajat itu ga sembarangan asal tembak angka. Saya berani bertaruh dulu para ahli limu falak dari berbagai dunia yang membuat metode imkanur rukyat sudah membuat kajian kenapa batas seminimal-minimalnya dua derajat.

      Ketika ada masalah seperti ini, saya kembali lagi kepada hadits nabi di atas yakni prinsip dasar “melihat” bulan. secara logis, 1,3 derajat itu dengan alat apa pun bulan hanya akan tampak sebagai fenomena atmosfer, bukan sebagai bulan baru. Padahal hilal itu sendiri dikategorikan sebagai bulan baru yang terlihat di langit, bukan masuknya fase bulan baru. Koreksi bila salah.🙂

      • bauasem
        31/08/2011 at 23:33

        Saya memiliki penafsiran yang berbeda terhadap hadits tersebut🙂
        Saat Nabi masih hidup, ilmu astronomi telah dikenal, namun tentunya belum akurat, perhitungannya pun belum sedetil sekarang karena alatnya juga berbeda.
        Karena itulah digunakan metode rukyat, sebagai tanda telah [b]masuknya bulan baru[\b].
        Saya setuju dengan pendapat anda bahwa hilal itu adalah bulan sabit yang sangat tipis yang pertama terlihat setelah masuknya bulan baru🙂
        Dengan kemajuan ilmu pengetahuan sekarang, kata melihat di dalam hadits itu tentunya akan lebih berkembang,
        menurut saya melihat disini tidak harus menggunakan mata telanjang🙂
        Jadi, bulan yang berumur beberapa jam pun sudah “terlihat” bukan ?

      • 03/09/2011 at 08:48

        Entah gimana pertimbanyannya, saya yakin nabi punya pertimbangan yang sangat dalam mengapa bulan lain boleh hanya dihisab dan mengapa kalau ramadhan perlu adanya rukyat.🙂

        Untuk Parameternya, yang pasti parameter utama saya untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan adalah hadits di atas?
        Untuk Parameter kuantitatif, saya yakin jumhur ulama di dunia juga memiliki pertimbangan yang lebih dalam dan lebih cerdas mengapa harus memberikan parameter kuantitatif dua derajat.🙂

        Yang pasti, semoga pemerintah kita ke depannya bisa lebih tegas dan lebih dini menyikapi masalah ini, dan juga masyarakat lebih peduli, tidak skeptis dan lebih berinisiatif untuk tetap menguatkan ukhuwah.🙂

  7. orianda putra
    31/08/2011 at 01:05

    ini baru informasi yang sangat dibutuhkan masyarakt indonesia,,,,
    thanks ya infonya,,,,

  8. isur
    31/08/2011 at 17:52

    setau saya, muhammadiyah tdk hanya berdasar pd hadits yg melihat di atas, tp langsung dr Al Quran, Surah Al Baqarah ayat 185, di mana disebutkan bhwa puasa dimulai setelah bulan ‘disaksikan‘ (syahida) yg sama artinya dgn menyaksikan pd syahadat, dimana tdk perlu melihat Allah & Rasulullah utk meyakini keduanya. CMIIW..

    • 31/08/2011 at 17:55

      Terima kasih tanggapannya. Saya tidak memasukkan ayat tersebut karena konteksnya lebih kepada perintah berpuasa. Sedangkan dua hadits di atas konteksnya lebih kepada “basic” untuk hisab dan rukyat. CMIIW juga.🙂

  9. ikal
    03/09/2011 at 10:42

    Terimakasih sekali atas informasinya pak emil…
    Sangat sangat membantu menjelaskan apa yang sebenarnya yang selalu diperdepatkan selama ini.Memang dari semenjak saya lahir, tahun inilah lebaran yang paling kacau yang saya alami.Kacau dalam artian pemerintah sangat sangat tidak tegas dan ditambah lagi beberapa masalah bangsa yang benar benar membuat rakyat kehilangan kepecayaan kepada pemimpinnya sendiri.Sangat sangat miris melihat suasana sidang isbath kemaren yang menurut saya sungguh memalukan.Terlepas dari itu semua hanya satu yang membuat saya masih buram.Yaitu tentang keputusan ulama besar NU yang memutuskan hari selasa tanggal 30 agutus 2011 lebih kurang pada jam 14.00 untuk segera menyegerakan berbuka puasa.Dan terus terang saya yakin sekali banyak masyarakat yang kecewa dengan hasil keputusan pemerintah kemarin.Saya juga yakin banyak yang tetap berpuasa sampai azan magrib berkumandang termasuk orang tua saya sendiri.Saya juga semakin Haqul yakin kalau apa yang Muhammadiyah putuskan “menurut saya pribadi” adalah yang terbaik minimal bagi saya sendiri.Disini yang berbicara adalah “KEYAKINAN” seseorang yang ditunjang oleh fakta dan didukung oleh kekonsistenan putusan.1 Syawal itu diseluruh dunia menurut saya “harusnya” sama, yang berbeda adalah cara menentukan 1 syawal itu.

  10. cecep
    07/09/2011 at 10:06

    mantep nih ka Emil…🙂

    oiya ini ada salah satu tulisan juga tentang laporan LFPBNU ,,udah lama si, cuman mungkin akan lebih bermanfaat kalo di jelaskan sama ka Emil,,, ada tabel pengamatannya juga ..

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/32814/Teknologi/Hilal_Ramadhan.html

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: